Search

Hidayah adalah Kuasa Allah: Manusia Menata Niat, Mengistiqamahkan Ikhtiar dan Menjaga Keikhlasan

Hidayah adalah Kuasa Allah, Manusia hanya Diharuskan Menata Niat, Mengistiqamahkan Ikhtiar dan Menjaga Keikhlasan (Tafsir Surah Al-Baqarah 272-274)
Catatan Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono (11 Januari 2025) bersama KH. Dr. Ali Nurdin, MA

Hidayah adalah Kuasa Allah, Manusia hanya Diharuskan Menata Niat, Mengistiqamahkan Ikhtiar dan Menjaga Keikhlasan

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 272 bahwa urusan hidayah bukanlah tanggung jawab manusia, bahkan bukan pula tanggung jawab Rasulullah. Allah menegaskan:

“Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 272)

Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa ketika ada sahabat memberikan bantuan kepada nonmuslim dengan harapan agar mereka masuk Islam. Ketika harapan itu tidak terwujud, bantuan pun akan dihentikan. Melalui ayat ini, Allah seakan menegaskan bahwa sedekah dan infak tidak boleh dijadikan alat transaksi hidayah. Hidayah adalah hak prerogatif Allah, sedangkan tugas manusia hanyalah beramal dengan niat mencari ridha-Nya.

Makna Hidayah: Umum dan Khusus

Dalam ceramah ini dijelaskan bahwa hidayah memiliki dua makna besar.

Pertama, hidayah umum, yaitu fitrah yang Allah tanamkan pada setiap manusia.

Setiap anak Adam lahir membawa kesadaran ruhani tentang keberadaan Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-A‘rāf ayat 172, ketika Allah mengambil kesaksian dari seluruh keturunan Adam: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Betul.”

Karena fitrah ini, setiap manusia—termasuk bayi yang lahir di luar pernikahan—tidak boleh dilabeli dengan stigma dosa. Mereka semua berada dalam fitrah Islam. Bahkan, bila seorang anak meninggal sebelum baligh, ia tidak akan dihisab. Namun tentu, derajat surga bayi berbeda dengan surga orang beriman yang mengisinya dengan amal saleh.

Fitrah ini juga dilengkapi dengan potensi aktual, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Naḥl ayat 78: pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Semua itu diberikan agar manusia bersyukur. Dan syukur, dalam makna yang dalam, bukan sekadar ucapan, tetapi menggunakan setiap anugerah sesuai tujuan penciptaannya: mendengar yang baik, melihat yang baik, dan merasakan kebenaran dengan hati, serta mengingkari keburukan juga dengan hati.

Kedua, hidayah khusus, yaitu bimbingan melalui risalah, dakwah, dan penjelasan ajaran. Inilah yang disebut al-irsyād wal-bayān. Tugas Nabi, para ulama, dan para pendidik hanyalah menyampaikan. Namun menerima atau menolak tetap menjadi tanggung jawab pribadi. Allah menegaskan dalam Surah Al-Qaṣaṣ ayat 56 bahwa bahkan Rasulullah tidak mampu memberi hidayah kepada orang yang paling beliau cintai. Ketika seseorang berpaling dari kebenaran, Allah pun membiarkan hatinya berpaling, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Aṣ-Ṣaff ayat 5. Namun sebaliknya, siapa yang bersungguh-sungguh mencari ridha Allah, Allah sendiri yang akan membukakan jalan hidayah baginya (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 69).

Baca Juga: Hidayah Milik Allah, Namun Kebaikan adalah Milik Kita (Tafsir Surah Al-Baqarah: 272)

Tidak Ada Paksaan dalam Beragama

Islam tidak pernah mengajarkan pemaksaan iman. Prinsip ini ditegaskan dengan sangat jelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 256: “Tidak ada paksaan dalam agama.” Bahkan Allah menyatakan, seandainya Dia menghendaki, seluruh manusia di bumi akan beriman (QS. Yūnus [10]: 99).

Peperangan yang terjadi dalam sejarah Islam bukanlah untuk memaksa orang masuk Islam, melainkan berkaitan dengan konteks politik dan perluasan wilayah kekuasaan, sebagaimana lazim terjadi pada masa itu. Karena iman bukanlah hasil tekanan, melainkan buah dari kesadaran dan kesiapan hati.

Infak, Zakat, dan Skala Prioritas

Dalam ceramah ini juga ditegaskan bahwa infak kepada nonmuslim diperbolehkan, karena kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Namun zakat memiliki ketentuan khusus. Allah telah menetapkan delapan golongan penerima zakat (asnaf) dalam Surah At-Taubah ayat 60, termasuk fakir, miskin, amil, mualaf, hingga ibnu sabil.

Niat baik saja tidak cukup. Kebaikan harus dilakukan dengan cara yang benar dan pada sasaran yang tepat. Fakir miskin yang menjaga kehormatan diri, tidak meminta-minta, dan berjuang di jalan Allah justru menjadi prioritas utama, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 273.

Infak sebagai Jalan Ketenangan Hidup

Allah menjanjikan ketenangan bagi orang-orang yang gemar berinfak, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 274 disebutkan bahwa mereka tidak akan merasa takut dan tidak pula bersedih. Infak yang dilakukan secara konsisten adalah cerminan iman yang hidup.

Namun semua amal itu bergantung pada niat. Orang yang berbuat baik semata-mata untuk dunia akan mendapatkan balasan duniawi, tetapi tidak mendapatkan ganjaran akhirat (QS. Hūd [11]: 15). Perbedaan mendasar antara mukmin dan nonmukmin bukan pada amal lahiriah semata, tetapi pada orientasi akhirat dan keikhlasan niat.

Baca Juga: Nazar, Infak, dan Keikhlasan dalam Islam: Tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 270-271

Istiqamah dan Keteladanan

Keimanan tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus dijaga dengan istiqamah. Allah menjanjikan ketenangan, kabar gembira, bahkan sambutan malaikat bagi orang-orang yang berkata “Tuhan kami adalah Allah” lalu konsisten dalam keimanannya (QS. Fuṣṣilat [41]: 30–31).

Namun Allah juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang gemar menyeru kebaikan tetapi melupakan dirinya sendiri (QS. Al-Baqarah [2]: 44) dan mereka yang berkata tetapi tidak berbuat (QS. Aṣ-Ṣaff [61]: 2–3). Dakwah yang paling kuat bukanlah lisan, melainkan keteladanan. Rasulullah adalah uswatun ḥasanah—teladan terbaik—bagi siapa pun yang berharap rahmat Allah dan keselamatan akhirat (QS. Al-Aḥzāb [33]: 21).

Penutup: Menata Niat, Menjemput Keberkahan

Apa yang ada di sisi manusia akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah bersifat kekal (QS. An-Naḥl [16]: 96). Karena itu, keberuntungan sejati ada pada orang-orang yang selalu meniatkan amalnya untuk Allah, berinfak dengan ikhlas, menjaga istiqamah, dan menghadirkan kebaikan sebagai bagian dari hidupnya.

Merekalah yang tidak diliputi rasa takut dan duka. Merekalah para kekasih Allah. Dan merekalah penghuni surga yang kekal di dalamnya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menata niat dalam setiap amal, meneguhkan langkah kita dalam istiqamah, serta menjadikan setiap infak, perhatian, dan keteladanan yang kita berikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah membimbing kita untuk terus berbuat baik dengan cara yang benar, hingga kelak kita dipanggil sebagai hamba-hamba-Nya yang tidak takut dan tidak bersedih. Aamiin.