Search

Mengetuk Pintu Langit: Ketika Orang Tua Belajar Menyerahkan Hati Anak kepada Allah

Mengetuk Pintu Langit: Ketika Orang Tua Belajar Menyerahkan Hati Anak kepada Allah

Menjadi orang tua tidak pernah berhenti pada persoalan membesarkan anak. Ada kekhawatiran yang terus tumbuh seiring bertambahnya usia mereka: apakah anak-anak akan tetap memegang agamanya? Apakah mereka mampu memilih lingkungan yang baik? Bagaimana dengan pilihan pendidikan, pekerjaan, pasangan, hingga keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka?

Semakin dewasa seorang anak, semakin sedikit pula ruang orang tua untuk mengatur kehidupannya secara langsung. Di titik inilah orang tua perlu belajar satu hal penting: tidak semua hal dapat dikendalikan dengan nasihat, teguran, atau tekanan. Ada wilayah yang hanya Allah kuasa mengaturnya: hati manusia.

Dalam sebuah bincang-bincang bersama Pak Ali Nurdin, persoalan ini dibahas dengan sederhana tetapi mendalam. Menurutnya, hubungan orang tua dan anak perlu dibangun dalam keseimbangan antara ikhtiar mendidik dan ketergantungan kepada Allah.

Anak bukan objek yang harus selalu mengikuti orang tua

Salah satu persoalan yang sering muncul ketika anak beranjak dewasa adalah komunikasi yang semakin berjarak. Anak mungkin lebih nyaman bercerita kepada teman, sahabat, senior, atau gurunya daripada kepada orang tua.

Hal ini tidak selalu berarti anak tidak menghormati orang tua. Bisa jadi, itu merupakan bagian dari dinamika perkembangan usia.

Anak yang semakin dewasa mulai memiliki cara berpikir sendiri. Ia ingin didengar, memiliki pandangan sendiri, dan mulai mencari tempat untuk membangun identitasnya. Sementara itu, komunikasi orang tua dan anak terkadang masih terjebak dalam pola lama: orang tua sebagai subjek dan anak sebagai objek.

Karena itu, orang tua perlu belajar memilah.

Ada hal-hal yang bisa diikuti dan dikolaborasikan dengan cara berpikir anak. Tetapi ada pula hal-hal yang tidak bisa ditawar, terutama ketika sudah menyangkut prinsip hidup dan prinsip agama.

Pada perkara yang prinsip, orang tua justru harus mampu bersikap tegas. Namun ketegasan tidak sama dengan menghakimi atau menekan.

Nasihat tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik.

Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. An-Nisa’ ayat 9 tentang kekhawatiran meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah. Menariknya, pesan lanjutan ayat tersebut justru diarahkan kepada orang tua: “Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”

Artinya, kekhawatiran terhadap masa depan anak seharusnya mendorong orang tua untuk memperbaiki dua hal: ketakwaan kepada Allah dan cara berkomunikasi dengan anak.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Kahf Ayat 46: Mencapai Kebahagiaan Sejati: Harta, Anak, dan Amal Shalih

“Qawlan sadida”: benar isinya, baik cara menyampaikannya

Menjadi orang tua tidak berarti setiap kekhawatiran harus disampaikan dengan tekanan.

Ada kalanya anak memang sedang berada dalam proses belajar. Ia mungkin melakukan kesalahan, memiliki pilihan yang tidak sesuai dengan harapan orang tua, atau mengambil keputusan yang menurut orang tua kurang tepat.

Dalam kondisi seperti itu, orang tua tidak perlu terburu-buru memberi label: salah, keras kepala, tidak tahu diri, atau tidak mengerti agama.

Anak tetap perlu diarahkan, tetapi dalam posisi sebagai seseorang yang sedang belajar.

Bahkan, menurut Pak Ali, tidak masalah jika anak memiliki kesan bahwa ibunya “galak”—selama galaknya berada pada tempat yang tepat.

Anak perlu tahu bahwa ada batas yang memang tidak boleh dilewati. Namun ia juga perlu merasakan bahwa rumah tetap menjadi tempat yang aman untuk berbicara.

Dengan begitu, ketegasan tidak berubah menjadi jarak.

Ketika anak perempuan memilih karier dan menunda pernikahan

Kekhawatiran orang tua semakin besar ketika anak telah dewasa dan mulai menentukan jalan hidupnya sendiri.

Misalnya, ketika anak perempuan memilih untuk fokus pada pendidikan atau karier dan belum menjadikan pernikahan sebagai prioritas.

Di satu sisi, orang tua memahami bahwa anak memiliki hak untuk menentukan pilihan. Namun di sisi lain, orang tua juga memiliki kekhawatiran tentang usia, pasangan, keturunan, dan kehidupan masa depan anak.

Dalam persoalan ini, orang tua tetap perlu menyampaikan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ajaran dan sunnah Islam. Tetapi menyampaikan nilai agama berbeda dengan memaksa anak menikah.

Sebab, pernikahan bukan sekadar keputusan administratif. Ia menyangkut dua hati dan kehidupan yang akan dijalani dalam waktu panjang.

Memaksakan anak menikah hanya karena orang tua merasa “sudah waktunya” justru dapat melahirkan persoalan baru apabila pasangan yang dipilih ternyata tidak baik.

Karena itu, ikhtiar orang tua tidak berhenti pada mencari calon.

Ada pintu lain yang jauh lebih penting untuk diketuk: pintu langit.

“Nembaknya ke Allah”

Salah satu gagasan menarik dalam perbincangan tersebut adalah tentang bagaimana orang tua seharusnya mengarahkan ikhtiarnya.

Pak Ali mengibaratkannya seperti bermain biliar. Kita ingin mencapai sesuatu, tetapi tidak selalu harus “menembak” objek secara langsung.

Dalam konteks anak, orang tua tetap memberikan nasihat kepada anak. Tetapi hati orang tua seharusnya lebih kuat “menembak” kepada Allah.

Kepada anak, nasihat sewajarnya. Kepada Allah, doa sekuat-kuatnya.

Sebab hati manusia berada dalam kekuasaan Allah.

QS. Al-Anfal ayat 63 mengingatkan bahwa sekalipun manusia mengerahkan seluruh yang ada di bumi untuk menyatukan hati, manusia tidak akan mampu menyatukannya sendiri. Allah-lah yang mempersatukan hati.

Ayat tersebut memang berbicara dalam konteks tertentu, tetapi prinsipnya memberikan pelajaran yang luas: ada perkara-perkara yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan manusia.

Termasuk ketika orang tua berharap anak mendapatkan pasangan yang baik.

Maka selain menasihati, orang tua perlu memperbanyak doa. Bukan hanya ketika keadaan sudah buntu, tetapi sejak awal.

Amal baik juga bisa menjadi bagian dari doa

Menariknya, “mengetuk pintu langit” tidak selalu berarti hanya berdoa dengan lisan.

Setiap kebaikan yang dilakukan dapat menjadi bagian dari ikhtiar batin seorang tua.

Ketika bersedekah, misalnya, seseorang dapat berdoa kepada Allah agar kebaikan tersebut menjadi sebab Allah memberikan kebaikan kepada anak dan keturunannya.

Apakah itu berarti pamrih?

Ya—tetapi pamrih kepada Allah.

Yang tidak dibenarkan adalah berharap kepada manusia ketika berbuat baik: bersedekah agar dipuji, membantu agar dibalas, atau berbuat baik agar seseorang merasa berutang.

Namun berharap kepada Allah atas amal yang dilakukan justru merupakan bagian dari hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

“Ya Allah, dengan kebaikan yang aku lakukan ini, berikanlah kebaikan kepada anak dan keturunanku.”

Itu bukan kehilangan keikhlasan. Justru itulah bentuk menggantungkan harapan kepada Allah.

Baca Juga: Memahami Arti Kesuksesan: Antara Harta, Anak yang Soleh, dan Kebahagiaan Akhirat.

Agama bukan hanya ritual, tetapi juga akhlak

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah ketika orang tua menilai calon pasangan anak.

Sering kali ukuran “baik agamanya” dipersempit menjadi seberapa rajin seseorang menjalankan ritual keagamaan. Padahal, agama juga tercermin dalam akhlak.

Nabi Muhammad ﷺ memang mengajarkan agar seseorang memilih pasangan berdasarkan agamanya. Tetapi bagaimana kita memahami seseorang yang “baik agamanya”?

Salah satu ukuran yang paling dapat terlihat adalah akhlaknya.

Bagaimana ia memperlakukan orang lain? Apakah ia rendah hati? Apakah ia mampu menghargai orang lain? Apakah ia dapat menerima nasihat? Bagaimana ia memperlakukan keluarganya ketika tidak sedang berada di hadapan publik?

Sebab ritual yang tampak baik tidak selalu otomatis menghasilkan akhlak yang baik.

Sebaliknya, seseorang mungkin belum sempurna dalam praktik ritual keagamaannya, tetapi memiliki karakter yang baik, rendah hati, mau belajar, dan terbuka terhadap nasihat.

Dalam perbandingan seperti itu, kekurangan dalam praktik ibadah masih mungkin diperbaiki melalui proses belajar. Sementara kerusakan karakter dan akhlak sering kali jauh lebih sulit untuk dibentuk ulang.

Karena itu, jangan sampai orang tua tertipu hanya oleh penampilan kesalehan.

Agama bukan sekadar apa yang terlihat ketika seseorang sedang beribadah, tetapi juga bagaimana agama itu membentuk perilakunya.

Tidak semua hal harus dijadikan ukuran akhlak

Hal yang sama berlaku dalam mendidik anak.

Ada perbedaan antara perkara substantif dan perkara yang hanya bersifat aksesoris atau tradisi.

Misalnya, dalam budaya tertentu anak diajarkan untuk menunduk ketika melewati orang tua. Itu adalah bentuk kesopanan yang baik. Tetapi jangan sampai satu bentuk tradisi tersebut dijadikan satu-satunya ukuran bahwa seorang anak berakhlak atau tidak.

Yang lebih penting adalah substansinya: apakah ia menghormati orang tua, berbicara dengan baik, tidak menyakiti, dan tetap menjaga hubungan dengan keluarganya.

Orang tua perlu mampu membedakan mana yang benar-benar prinsip dan mana yang merupakan bentuk budaya.

Dengan demikian, pendidikan akhlak tidak berhenti pada tuntutan formal, tetapi benar-benar membentuk karakter.

Ketika anak hidup jauh dari rumah

Bagaimana jika anak harus kuliah atau bekerja di lingkungan yang berbeda, bahkan di luar negeri dengan budaya yang jauh lebih bebas?

Orang tua tentu khawatir.

Namun ketika orang tua memberikan izin kepada anak untuk hidup dalam lingkungan tersebut, ada konsekuensi yang harus disadari. Anak akan berinteraksi dengan budaya, nilai, dan kebiasaan yang berbeda.

Jika kemudian ada sedikit perubahan dalam cara bicara, gaya hidup, atau kebiasaannya, orang tua tidak perlu langsung panik.

Bukan berarti kesalahan harus dibenarkan.

Tetapi orang tua perlu memahami bahwa mereka tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam.

Karena itu, bekal terbesar bukanlah pengawasan tanpa henti, melainkan fondasi iman dan akhlak yang ditanamkan sejak awal.

Anak yang memiliki fondasi kuat diharapkan mampu membawa nilai tersebut ke mana pun ia pergi.

Hati bersama Allah, tangan tetap dalam ikhtiar

Pada akhirnya, pola pengasuhan seperti ini tidak berarti orang tua menjadi pasif dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Justru sebaliknya.

Ada sebuah ungkapan dari Bahauddin Naqsyaband yang disampaikan dalam perbincangan tersebut:

“Qalbuka ma‘allah wa yaduka fil-‘amal.”

Hati bersama Allah, sementara tangan tetap dalam amal.

Inilah keseimbangan yang perlu dimiliki orang tua.

Hati bersandar kepada Allah, tetapi tangan tetap bekerja.

Orang tua tetap mendidik. Tetap menasihati. Tetap mencari lingkungan yang baik. Tetap memberikan batas. Tetap memastikan anak mendapatkan bekal agama dan akhlak.

Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, hati tidak boleh bergantung kepada hasil dari ikhtiar itu sendiri.

Sebab dokter hanyalah bagian dari ikhtiar. Guru hanyalah bagian dari ikhtiar. Nasihat orang tua hanyalah bagian dari ikhtiar. Bahkan usaha mencari pasangan untuk anak pun hanyalah bagian dari ikhtiar.

Yang menggenggam hati manusia tetap Allah.

Maka, barangkali tugas orang tua bukan memastikan anak selalu berjalan persis seperti yang kita inginkan.

Tugas kita adalah membekali, mengarahkan, mendoakan, lalu belajar melepaskan dengan tawakal.

Kepada anak, kita menyampaikan nasihat dengan kasih sayang.
Kepada Allah, kita mengetuk pintu langit dengan doa yang tidak putus-putus.

Sebab ada wilayah yang tidak pernah bisa kita masuki, sekeras apa pun kita berusaha: hati anak kita.

Dan di sanalah kita belajar bahwa mendidik anak pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana mengubah mereka, tetapi juga tentang bagaimana menguatkan hubungan kita dengan Allah yang menggenggam hati mereka.

Selengkapnya, simak video di channel youtube Dr. Ali Nurdin, MA.
Dilema Orang Tua Modern: Anak Enggan Menikah | Tanya Jawab bersama Pak Ali – Bu Ranti