Search

Hidayah Milik Allah, Namun Kebaikan adalah Milik Kita (Tafsir Surah Al-Baqarah: 272)

Catatan Pengajian Tafsir Keluarga Murdono (7 Desember 2025) bersama KH. Dr. Ali Nurdin, MA – (part 1)

Tafsir Al-Baqarah (2): 272: Hidayah Milik Allah, Namun Kebaikan adalah Milik Kita

Tafsir Al-Baqarah (2): 272: Hidayah Milik Allah, Namun Kebaikan adalah Milik Kita

Bukan Tugas Kita Memberi Hidayah

Beberapa ayat dalam Al-Quran turun bukan untuk menjelaskan hukum ibadah, bukan pula untuk menetapkan aturan baru, melainkan untuk meluruskan cara berpikir manusia. Salat satunya adalah SUrah Al-Baqarah 272, yang menjelaskan bahwa hidayah bukan di tangan kita. Dalam pengajian Tafsir Keluarga Moerdono, KH. Dr. Ali Nurdin mengajak jamaah menelusuri kesadaran penting ini dengan menafsirkan firman Allah:

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, (manfaatnya) untuk dirimu (sendiri). Kamu (orang-orang mukmin) tidak berinfak, kecuali karena mencari rida Allah. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi. (Al-Baqarah [2]:272)

Ayat ini turun sebagai teguran kepada sebagian orang yang berniat membantu dengan syarat: “Kalau kamu masuk Islam, baru saya bantu.” Seolah-olah hidayah itu bisa “diatur” oleh manusia. Seolah-olah hidayah bisa dijadikan alat tawar-menawar. Allah segera meluruskan: hidayah adalah hak prerogatif-Nya, sementara kewajiban manusia hanyalah berbuat baik dan menata niat.

KH. Ali Nurdin menegaskan bahwa ayat ini menata ulang cara kita bersedekah dan berinfak. Jika kita memberikan bantuan, itu bukan transaksi akidah. Kita tidak sedang “membeli” keimanan orang lain. Kita hanya mempersembahkan kebaikan yang manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri. Infak yang benar adalah yang dilakukan murni karena mencari ridha Allah, bukan karena ambisi mempengaruhi pilihan iman seseorang.

Secara Garis Besar, Ada Dua Jenis Hidayah: Umum dan Khusus

Dalam kajian ini, hidayah dijelaskan secara garis besar menjadi dua:

a. Hidayah Umum: Fitrah dan Fasilitas Berpikir/ Mengenal Kebenaran

Semua manusia diberi fitrah untuk mengenal Tuhan. Al-Qur’an mengingatkan momen primordial ketika seluruh keturunan Adam bersaksi:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ  اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (Al-A‘rāf [7]:172)

Selain fitrah, Allah juga memberi manusia alat untuk mengenali kebenaran: pendengaran, penglihatan, dan hati nurani (An-Naḥl [16]:78).

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَـٰرَ وَالْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Naḥl [16]: 78)

Inilah hidayah umum: bekal agar manusia dapat sampai kepada Allah dengan akal dan kesadarannya sendiri.

b. Hidayah Khusus: Ilmu dan Kemampuan Mengamalkan

Hidayah berikutnya bersifat lebih selektif: Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya yang membimbing manusia melalui syariat, akhlak, dan petunjuk hidup (Asy-Syūrā [42]:52).

Allah berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) rūh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya (Al-Qur’an) cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) ke jalan yang lurus, (Asy-Syūrā [42]:52)

Namun bahkan setelah seseorang memahami ilmu agama, tidak otomatis ia mampu mengamalkannya. Di sinilah datang hidayah yang lebih halus: taufik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (Al-Qaṣaṣ [28]:56)

Ilmu itu penting, tetapi kemampuan untuk menjalankannya adalah karunia. Karena itu para ulama mengajarkan doa yang lebih tepatbukan sekadar “Ya Allah, buat aku paham.” Tapi: “Ya Allah, karuniakan aku taufik untuk mengamalkan yang sudah aku tahu.”

Ilmu tanpa amal hanyalah informasi. Amal tanpa taufik tidak akan bertahan lama. Maka hidayah sejati adalah ketika Allah memadukan keduanya dalam diri seseorang.

Baca Juga: Hidayah dan Kesesatan: Perumpamaan dalam Surat Al-An’am Ayat 125

Hidayah dalam Kehidupan Rumah Tangga

KH. Ali Nurdin mengingatkan bahwa hidayah bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara seseorang memperlakukan keluarga. Indikator hidayah taufik justru terlihat di ruang paling dekat: rumah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا

Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al-Isrā’ [17]:53)

Ilmu agama yang tidak mengubah cara kita berbicara, bersikap, dan menjaga hubungan keluarga berarti belum menjadi hidayah taufik. Karena itu Al-Qur’an menyebut orang yang memutus silaturahim sebagai kelompok yang merugi (Al-Baqarah [2]:27). Ketika keluarga retak, setanlah yang paling bergembira.

Maka menjaga hubungan keluarga bukan sekadar etika sosial, tetapi wujud nyata dari hidayah dalam kehidupan sehari-hari.

Infak Tanpa Syarat: Kebaikan yang Kembali kepada Kita

Setelah menegaskan bahwa hidayah milik Allah, ayat ini kembali memantapkan pesan utamanya:

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ  اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Dengan kata lain:

  • Infak kepada muslim maupun nonmuslim tetap bernilai, selama diniatkan karena Allah.
  • Kebaikan tidak pernah sia-sia; setiap sedekah kembali kepada kita dalam bentuk pahala dan keberkahan.
  • Tugas para nabi hanyalah menyampaikan kabar, bukan memaksa seseorang beriman (Fāṭir [35]:23–24).

Dalam masyarakat yang sering mengaitkan bantuan dengan syarat-syarat tertentu, ayat ini hadir sebagai koreksi moral. Kita berbuat baik bukan untuk mengubah orang lain, melainkan untuk memperbaiki diri sendiri.

Penutup: Hidayah adalah Milik Allah, Namun Kebaikan Ada dalam Genggaman Kita

Kajian ini mengajak kita menyadari satu kenyataan spiritual yang penting: manusia tidak berkuasa atas hati siapa pun. Hidayah Allah yang menggerakkan. Tugas kita hanya dua: menata niat dan menghadirkan kebaikan.

إِنَّآ أَرْسَلْنَـٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًااِنْ اَنْتَ اِلَّا نَذِيْرٌ

Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran633) sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Tidak ada satu umat pun, kecuali telah datang kepadanya seorang pemberi peringatan. (Fāṭir [35]:23-24)

Ketika kita berinfak tanpa syarat, ketika kita berbicara dengan lembut pada keluarga, ketika kita memilih sikap yang baik meski berat—di sanalah Allah membuka pintu taufik. Hidayah mungkin turun bukan dalam bentuk hal-hal besar, tetapi dalam keberanian mengamalkan kebenaran yang sudah kita tahu.

Dan itu, pada akhirnya, adalah hidayah yang paling nyata.