Search

Nazar, Infak, dan Keikhlasan dalam Islam: Tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 270-271

Nazar, Infak, dan Keikhlasan dalam Islam: Tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 270-271

Nazar, Infak, dan Keikhlasan: Tadabbur Surah Al-Baqarah ayat 270-271
Catatan Kajian KH. Dr. Ali Nurdin, MA – Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono (2), Minggu 23 November 202

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ نَّفَقَةٍ اَوْ نَذَرْتُمْ مِّنْ نَّذْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُهٗ ۗ …

Infak apa pun yang kamu berikan atau nazar apa pun yang kamu janjikan, sesungguhnya Allah mengetahuinya… (QS. Al-Baqarah [2]: 270)

Ayat ini menegaskan bahwa semua bentuk pengorbanan, baik infak yang kita keluarkan maupun nazar yang kita ikrarkan tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah. Dia mengetahui niat di balik amal kita, kadar keikhlasan, serta harapan yang tersimpan dalam hati. Karena itu, amal yang benar adalah amal yang dilakukan dengan hati lurus dan hanya berharap balasan dari Allah.

Apa itu Nazar?

Nazar berarti mewajibkan pada diri sendiri sesuatu yang asalnya tidak wajib, biasanya sebagai bentuk syukur atau permohonan atas hajat tertentu.
Contohnya: berjanji untuk berpuasa tiga hari bila doa terkabul, atau bersedekah dalam jumlah tertentu bila mendapat rezeki.

Al-Qur’an memberikan dua contoh penting tentang nazar:

1. Nazar Istri Imran: Mengkhidmatkan Anak (QS. Āli ‘Imran: 35)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada di dalam kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat di Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Āli ‘Imrān [3]:35

Ia bernazar agar anaknya kelak sepenuhnya berkhidmat kepada Allah. Ketika anak yang lahir ternyata perempuan (Maryam), ia tetap menerima dengan ikhlas. Ternyata dari anak perempuan  itu kemudian lahirlah seorang Nabi agung, Isa `alayhis-salām — sebuah bukti bahwa Allah membalas amal dengan cara yang tidak disangka-sangka.

2. Nazar Maryam: Puasa Bicara (QS. Maryam [19]: 26)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ

Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’” Maryam [19]:26

Hari dimana Nabi Isa lahir, Maryam menghadapi tuduhan dan prasangka buruk. Untuk menjaga kehormatan dan menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat, ia bernazar melakukan “shaum” (puasa bicara). Iabernazar untuk tidak berbicara sebagai bentuk ketenangan hati dalam menghadapi tuduhan.

“Sesungguhnya aku telah bernazar atas diriku untuk berpuasa semata-mata untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, dan aku tidak akan berbicara langsung dengan seorang manusia pun pada hari ini, karena ucapanku itu mungkin ditolak dan tidak dipercayai.

Nazar ini menunjukkan ketakwaan, kesabaran, dan hikmah dalam memilih diam ketika kondisi menuntut ketenangan.

Ikhlas Beramal dan Boleh Berharap Kebaikan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Berharap kebaikan dari Allah tidak bertentangan dengan keikhlasan, selama harapan itu ditujukan kepada-Nya.
Kita boleh berharap dimudahkan rezeki, dilapangkan urusan, diberi kesehatan dan diberkahi usia. Bahkan Allah sendiri menjanjikan bahwa amal kebaikan membawa keberkahan, pertolongan, dan kemudahan hidup.

Baca juga: Yang Memudahkan Sesama, Akan Dimudahkan oleh Allah

Allah juga berfirman:

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)? Ar-Raḥmān [55]:60

Balasan bagi orang yang beramal dengan niat untuk meraih janji Allah adalah baik, dan tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan itu sendiri. Namun, berharap balasan dari manusia justru menodai keikhlasan. Sungguh sebaik-baiknya amal kebaikan adalah hanya berharap ridha Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

(Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu. (Al-Insān [76]:9)

Ayat ini adalah gambaran puncak keikhlasan, yakni beramal tanpa berharap pujian, ucapan terima kasih, atau imbalan dari manusia.

Namun perlu diingat bahwa ayat ini ditujukan kepada orang yang berbuat amal, bukan orang yang menerima amal. Bagi seseorang yang diberi kebaikan hendaknya ia berterima kasih sebagaimana sabda Nabi

“Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)

Syukur Menambah Nikmat

Allah menjanjikan bahwa syukur akan membawa tambahan nikmat, tidak harus berupa materi, bisa juga dalam bentuk ketenangan hati, kemampuan melihat sisi baik dalam ujian, dan kelapangan jiwa. Bahagia adalah karunia bagi orang yang bersyukur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Ibrāhīm [14]:7)

Baca juga: Meraih Keberkahan Hidup: Panduan Lengkap dari Kajian KH. Dr. Ali Nurdin, MA

Ikhlas Tidak Harus Menunggu ‘Hati Siap’

Sering kali seseorang berkata, “Aku ingin ikhlas dulu sebelum beramal.” Padahal ikhlas adalah hasil latihan, karena sesungguhnya manusia diciptakan mudah mengeluh dan kikir.
Beramal dulu—sembari terus melatih hati, adalah lebih baik.

Bahkan terkadang beramal secara terang-terangan pun dianjurkan jika bertujuan mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan diri dari fitnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah  [2]:271)

Allah memerintahkan kita untuk mengagungkan syiar-syiar-Nya (QS. Al-Hajj: 32). Menyebarkan kebaikan—termasuk melalui media—merupakan bagian dari syiar.
Bagaimana cara untuk menghindarkan diri dari riya saat bersyiar? Riya dapat dihilangkan dengan istiqamah; orang yang konsisten berbuat baik tidak akan hidup dari pujian manusia, tetapi dari kekuatan niat.

Allah berfirman:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istikamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih. Al-Aḥqāf [46]:13

Ayat-ayat tentang nazar, infak, keikhlasan, syukur, dan istiqamah menunjukkan bahwa Allah tidak hanya melihat amal lahiriah kita, tetapi terutama apa yang bergerak di dalam hati. Ia mengetahui niat, kejujuran, kerelaan, dan harapan setiap hamba. Karena itu, amal yang benar bukanlah amal yang paling besar secara dzahir, tetapi amal yang dilakukan dengan hati tulus dan hanya mengharap ridha-Nya.

Ayat-ayat tentang ikhlas mengingatkan bahwa berharap balasan dari manusia hanya akan mengecewakan, sementara berharap kepada Allah akan melapangkan hati. Dan ayat-ayat tentang syukur, istiqamah, serta syiar kebaikan menuntun kita untuk terus menjaga kualitas amal, sekalipun berada di tengah dunia yang penuh hiruk-pikuk dan penilaian manusia.

Pada akhirnya, seorang mukmin tidak menunda amal sambil menunggu hatinya ‘sempurna’, tetapi ia beramal sambil terus melatih hatinya. Ia bersyukur dalam nikmat, bersabar dalam ujian, dan istiqamah dalam kebaikan. Ia menyembunyikan amal saat perlu, dan menampakkannya saat syiar lebih bermanfaat—semua semata-mata karena Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tulus dalam memberi, ringan dalam bersyukur, teguh dalam istiqamah, serta selalu dijaga dari riya dan ujub.

Dan semoga setiap amal yang kita kerjakan—sekecil apa pun—diterima sebagai amal shalih di sisi-Nya.
Amin ya Rabbal ‘alamin.