Search

Surah Al-Ikhlas: Memurnikan Tauhid dan Mengikis Perantara Makhluk (Tafsir Al-Mishbah)

Pembahasan tentang akidah Islam tidak akan pernah bisa dilepaskan dari Surah Al-Ikhlas. Meskipun tergolong sebagai surah yang pendek karena hanya terdiri dari empat ayat, surah ke-112 ini menyimpan samudra makna yang sangat mendalam mengenai hakikat mengesakan Allah SWT. Melalui Tafsir Al-Mishbah yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kita diajak untuk membedah bagaimana surah ini adalah sebuah maklumat yang meruntuhkan segala bentuk penyimpangan akidah.

Sebab Turunnya Ayat dan Rahasia di Balik Nama Al-Ikhlas

Secara historis, Surah Makkiyyah ini turun sebagai jawaban atas kebingungan kaum musyrik dan orang Yahudi pada masa itu. Mereka mendatangi Rasulullah ﷺ lalu bertanya tentang bentuk dan materi Tuhan yang disembah Nabi—apakah terbuat dari perak, emas, atau kayu. Pertanyaan yang menyamakan Khaliq dengan berhala benda mati inilah yang menjadi latar belakang turunnya ayat-ayat suci ini.

Menariknya, para ulama mencatat bahwa surah ini memiliki sekitar 20 nama. Beberapa di antaranya adalah Al-Muqashqishah (yang membebaskan manusia dari kemunafikan dan syirik), An-Najah, Al-Jamal, hingga Suratunnishbah yang berarti surah yang menyifati Tuhan.

Penamaan “Al-Ikhlas” sendiri merujuk pada fungsinya yang menyingkirkan segala hal yang tidak berhubungan dengan Allah SWT. Dengan begitu, hati seorang mukmin benar-benar dibersihkan hingga hanya menyisakan gambaran murni tentang Tuhan, tanpa ada bayang-bayang sekutu, anak, atau sifat-sifat yang menyerupai makhluk.

Mengapa Nama “Allah” Tidak Muncul di Awal Wahyu?

Ada sebuah catatan teologis yang sangat menarik dari Tafsir Al-Mishbah mengenai dinamika dakwah periode awal di Makkah. Jika kita perhatikan secara saksama, wahyu-wahyu pertama yang turun seperti Surah Al-’Alaq (Iqra bismirabbikalladzi khalaq), Surah Al-Muddassir, atau Surah Al-Qalam, sama sekali tidak menyebutkan lafal “Allah” secara tersurat. Wahyu-wahyu tersebut lebih memilih menggunakan kata “Rabbuka” yang berarti “Tuhanmu”.

Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan masyarakat musyrik Makkah pada dasarnya juga memercayai keberadaan Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Luqman ayat 25.

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُۗ قُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ۝٢٥

Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Namun, konsep ketuhanan mereka telah melenceng jauh; mereka menganggap Allah memiliki anak, bersekutu dengan jin, dan hanya bisa dihubungi melalui perantara berhala/ malaikat.

Andaikata wahyu pertama langsung menggunakan kata “Allah” atau kalimat “Bismillah”, kaum musyrik dengan sangat mudah akan mengklaim, “Kami pun membaca bismillah dan menyebut nama Allah”. Oleh karena itu, penggunaan kata Rabbuka di awal wahyu menjadi penegasan bahwa Dzat yang memerintahkan manusia untuk membaca dan disembah adalah Tuhan yang memelihara, membimbing, dan mendidik manusia secara langsung. Karena terus-menerus mendengar sebutan “Tuhanmu”, kaum musyrik menjadi penasaran hingga akhirnya bertanya tentang bentuk-Nya, yang kemudian dijawab langsung melalui firman-Nya: Qul huwallahu ahad.

Baca Juga: Meneguhkan Tauhid dan Kemuliaan Al-Qur’an: Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 1–6

Menyingkap Rahasia Lafal “Huwa” dan Kedalaman Makna “Ahad”

Ketika kita membaca ayat pertama,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. (Al-Ikhlāṣ [112]:1)

Dalam sudut pandang tasawuf, keunikan lafal “Allah” terlihat dari strukturnya yang luar biasa: jika huruf alif di depannya dihapus maka akan tersisa lillah, jika lam pertama dihapus menjadi lahu, dan jika lam kedua dihapus maka yang tersisa hanyalah hu (Dia). Bahkan suara orang yang sedang mengeluh kesakitan (uh, uh) -menurut mereka- secara tidak sadar merupakan bentuk panggilan spiritual yang merujuk kepada Tuhan.

Lebih lanjut, Prof. Quraish Shihab membedakan secara tegas antara kata Ahad dengan Wahid. Kata Wahid memang berarti satu, namun secara logika hitungan, ia masih membuka ruang untuk urutan kedua, ketiga, atau keempat. Sementara Ahad berarti esa secara mutlak, tunggal, dan tidak menyisakan ruang bagi yang lain. Redaksi Ahad yang berfungsi sebagai sifat Allah ini uniknya hanya disebutkan sekali saja di dalam Al-Qur’an, yakni dalam surah ini.

Keesaan Allah dalam konsep Ahad ini mencakup tiga unsur utama:

  1. Esa dalam Dzat-Nya: Allah tidak tersusun dari komponen atau unsur-unsur tertentu. Hal ini berbeda dengan makhluk atau benda, seperti jam tangan yang baru bisa berfungsi jika ada perpaduan antara tali, jarum, dan mesinnya. Allah tidak membutuhkan komponen apa pun.
  2. Esa dalam Sifat-Nya: Walaupun ada beberapa sifat Allah yang namanya mirip dengan sifat manusia—seperti sifat mengetahui—namun substansi dan takaran sifat Allah mutlak berbeda dengan makhluk.
  3. Esa dalam Perbuatan-Nya: Tidak ada satu pun kekuatan di alam raya ini yang ikut campur dalam menentukan takdir atau sesuatu, kecuali segalanya berjalan atas izin dan kehendak Allah (masya Allah kaana wa maa lam yasya’ lam yakun).


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Allah tempat meminta segala sesuatu. (Al-Ikhlāṣ [112]:2)

Secara kebahasaan, As-Shamad memiliki makna “yang kaya.” Arti pertama adalah “tumpuan harapan,” yaitu tempat di mana seluruh makhluk bergantung dan memohon pertolongan. Namun secara fisik, kata ini juga bermakna sesuatu yang sangat padat, tidak berpori, dan tidak berlubang.

Ini merupakan penegasan mutlak bahwa Allah suci dari sifat-sifat biologis makhluk seperti makan, minum, atau mengeluarkan keringat. Lewat sifat ini, Islam meruntuhkan logika kaum musyrik yang menyembah berhala dengan dalih bahwa Tuhan terlalu agung untuk didekati langsung sehingga butuh perantara. Islam menegaskan bahwa setiap hamba bisa langsung berharap kepada-Nya, selaras dengan wasiat Nabi ﷺ kepada Ibnu Abbas untuk selalu menjaga agama Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Jika seluruh makhluk berkumpul untuk menjatuhkan atau memberi manfaat kepada kita, hal itu tidak akan pernah terjadi kecuali atas izin Allah SWT.

Menolak Sekutu dan Batasan Imajinasi Manusia

Pada ayat ketiga dan keempat,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (Al-Ikhlāṣ [112]:3)

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ
serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (Al-Ikhlāṣ [112]:4)

Al-Qur’an menjawab klaim keliru dari kaum Yahudi yang menganggap Uzair sebagai anak Allah, kaum Nasrani yang menganggap Isa anak Allah, maupun pandangan kaum musyrik lainnya. Secara logika, memiliki anak merupakan simbol kebutuhan akan hal lain, atau bahkan ada yang menganggapnya kelemahan entitas yang membutuhkan bantuan atau cadangan penerus di masa tua, sedangkan Allah Maha Kaya dari segala jenis kebutuhan tersebut.

Sementara itu, kata Kufu memiliki arti “setara atau serupa”, baik dalam kenyataan empiris maupun dalam imajinasi khayal manusia, tidak ada yang menyerupai Allah. Khayalan manusia sebenarnya sangat terbatas karena hanya bisa merangkai hal-hal yang pernah dilihat di dunia nyata. Sebagai contoh, ketika seseorang membayangkan makhluk mitologi seperti kuda terbang, khayalan itu sejatinya hanyalah gabungan dari dua hal nyata yang pernah dilihat mata, yaitu kuda dan sayap burung.

Karena otak manusia terlalu sederhana untuk menjangkau kebesaran Allah, maka Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sifat-sifat yang bisa dipahami manusia, sembari memberikan batasan mutlak lewat prinsip Laisa kamislihi syai’un (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia). Ada pula sebagian kecil penafsiran yang memaknai kata kufuwan di sini sebagai istri, namun pendapat tersebut tidak populer di kalangan ulama tafsir.

Kontekstualisasi Teologi dalam Kehidupan Sehari-hari, dan Jawaban dari Kumpulan Pertanyaan

Melalui pemaparan Tafsir Al-Mishbah, kita diingatkan sebuah prinsip penting bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang turun terlepas dari konteks budaya dan peristiwa di masyarakat. Al-Qur’an selalu hadir untuk berinteraksi secara aktif: meluruskan pandangan yang keliru dan mengukuhkan apa yang benar. Misi utama seluruh nabi sejak Nabi Adam AS adalah membawa ajaran tauhid yang murni, namun seiring berjalannya waktu, masyarakat sering kali menyimpang dengan menciptakan perantara berhala, menyembah api seperti di Persia, atau memercayai konsep tuhan gelap dan terang.

Keyakinan terhadap keesaan Dzat, Sifat, dan Perbuatan Allah ini sudah semestinya melahirkan unsur keesaan yang keempat, yaitu keesaan dalam beribadah kepada-Nya. Segala sesuatu di alam semesta memang terjadi atas izin Allah, namun Allah juga telah menetapkan sistem yang berjalan di dunia (sunnatullah).

Oleh sebab itu, ketika seseorang jatuh sakit, langkah yang benar dan bernilai ibadah adalah berobat ke dokter sebagai bentuk mengikuti sistem atau ikhtiar yang diridhai Allah, dan bukan malah pergi ke dukun atau paranormal. Dalam berikhtiar pun, kita harus tetap menata hati dengan keyakinan penuh bahwa dokter hanyalah perantara semata, sedangkan kesembuhan mutlak berada di tangan Allah.

Pada ranah amalan praktis, pemahaman tauhid ini juga bertransformasi dalam aktivitas zikir dan penghayatan Asmaul Husna. Terdapat tuntunan syariat bahwa barangsiapa yang memelihara (hafidzan), menghayati, dan mengamalkan makna Asmaul Husna, niscaya akan diselamatkan dari api neraka. Memelihara di sini berarti berusaha meneladani sifat-sifat tersebut dalam batas kemanusiaan kita. Sebagai contoh, karena Allah memiliki sifat Maha Mengetahui, maka kita berkewajiban untuk terus belajar; dan karena Allah Maha Memberi, kita harus melatih diri untuk gemar berbagi kepada sesama.

Terkait dengan hitungan zikir, bilangan seperti membaca Subhanallah sebanyak 33 kali merupakan ketetapan yang datang langsung dari Rasulullah ﷺ. Adapun para ulama atau orang-orang saleh yang membaca zikir tertentu hingga 1000 kali, mereka melakukannya karena merasakan dampak spiritual yang positif secara personal.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah memberikan teladan berupa zikir yang singkat namun memiliki bobot pahala yang sangat besar kepada seorang sahabat wanita yang sedang menghitung zikir menggunakan biji kurma. Rasulullah mengajarinya kalimat zikir:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Subhanallahi wa bihamdihi, ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midada kalimatihi. [1]

“Mahasuci Allah dengan segala puji-Nya, sebanyak jumlah makhluk-Nya, sejauh keridhaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta (kalimat)-Nya.”

Penutup

Pada akhirnya, Surah Al-Ikhlas memberikan fondasi akidah yang kokoh. Mengesakan Allah berarti membersihkan hati dari segala bentuk penyandaran dan ketergantungan kepada selain-Nya. Ketika seorang mukmin mampu memahami Allah sebagai Ahad dan As-Shamad, segala bentuk kecemasan hidup, ketakutan akan masa depan, dan ketergantungan pada makhluk akan sirna dengan sendirinya. Sebab, ia sadar betul bahwa tempat bersandar yang sejati hanyalah Dzat yang Maha Tunggal lagi Maha Kuat.

Wallahu a’lam bisshawab.

Selengkapnya, download aplikasi Tafsir Al-Mishbah di playstore, atau simak di kanal youtube https://www.youtube.com/watch?v=vv2UG9FYaOg