
Sa’ad Bin Abi Waqqash Diancam Ibunya Karena Masuk Islam
M. Aidil Kurniawan*
Malik bin Uhaib Abu Ishaq Al-Qursyi Az-Zuhri Al-Makki Al-Madani adalah nama asli dari Sa’ad Bin Abi Waqqash.[1] Lahir di Mekah pada tahun 595 M dan meninggal di Madinah pada tahun 674 M. Sa’ad bin Abi Waqqash dilahirkan dari keluarga yang kaya raya dan terpandang. Beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang pertama masuk Islam ( السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) sekaligus paman Nabi Saw. Adapun orang yang mengajak Sa’ad bin Abi Waqqash untuk memeluk Islam adalah Abu Bakar. Dalam sepuluh sahabat itu, Sa’ad bin Abi Waqqash adalah orang ketiga yang masuk Islam.[2] Pekerjaannya di zaman Jahiliah adalah membuat panah. Beliau terkenal sebagai seorang pemanah dan penunggang kuda yang lihai. Beliau dijuluki “Sang Penakluk Persia” karena di bawah komandonya pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Persia dalam pertempuran di Qadisiah.
Suatu hari dalam hidupnya, Sa’ad bin Abi Waqqash didatangi sosok Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Abu Bakar mengajak Sa’ad bin Abi Waqqash menemui Nabi Muhammad Saw. di sebuah perbukitan dekat Mekah. Pertemuan itu mengesankan Sa’ad bin Abi Waqqash yang saat itu baru berusia 17 tahun. Sa’ad bin Abi Waqqash pun segera menerima undangan Nabi Muhammad Saw. untuk menjadi salah satu penganut ajaran Islam yang dibawanya. Sa’ad bin Abi Waqqash kemudian menjadi (السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.
Sa’ad bin Abi Waqqash menceritakan sendiri awal keislamannya sebagai berikut: “Tiga hari sebelum masuk Islam, saya bermimpi. Seolah-olah saya tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Ketika saya berada di tengah kedalaman air, tiba-tiba saya melihat cahaya bulan. Lalu saya mengikuti cahaya itu, kemudian saya melihat beberapa orang sudah mendahului saya ke arah cahaya tersebut. Saya melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Shiddik. Lalu saya bertanya kepada mereka, sejak kapan mereka di situ? Mereka menjawab, belum lama.”[3]
Sa’ad bin Abi Waqqash ini memiliki Ibu yang terkenal kaya dan terpandang di Mekah. Sa’ad bin Waqqash sangat berbakti kepada Ibunya. Suatu ketika Sa’ad dengan usia kurang lebih 17 tahun menghadiri sekali pengajian Nabi Saw. tersentuh ingin masuk Islam, sehingga Sa’ad bersyahadat. Namun hal itu, diketahui oleh Ibunya. Pada saat itu, Ibunya beranggapan bahwa agama Islam itu adalah agamanya orang miskin, jadi yang beriman itu budak-budak, sehingga orang-orang kaya tidak ada yang mau masuk Islam, mau dengar kajian saja mereka enggan.
Apa kata Ibunya?
“Wahai Sa’ad, saya sudah dengar kamu sudah masuk agamanya Muhammad, kalau kamu tidak tinggalkan agama itu, maka aku akan boikot makanku sampai aku mati, dan jika aku mati biarkan satu penduduk Mekah tahu bahwa kamu telah membunuh Ibumu,” kata Ibu Sa’ad.
Baca juga: Manakah yang lebih dahulu untuk diutamakan, Hukum Ilmu Warits atau Kemaslahatan Keluarga?
Sa’ad mengatakan kepada Ibunya, “Janganlah begitu Ibu, saya beriman karena saya tahu ini adalah kebenaran, aku tak akan berpisah dengannya.” Walaupun Sa’ad sudah bersikap dan berkata yang baik-baik kepada Ibunya agar luluh dengan perkataannya tadi, justru Ibunya tetap bersikeras dari pagi sampai malam betul-betul tidak makan dan tidak minum sampai lemas dan pucat wajah Ibunya. Sehingga Ibunya mengatakan kepada Sa’ad; “Wahai Sa’ad, saya sudah pucat dan lemah, demi Al-Latta dan Al-Uzza (nama Tuhan mereka berbentuk berhala/patung), saya akan mati, ingat! kamu bunuh saya, kamu yang merusak namamu yang akan dikenal buruk masyarakat…”

Sehingga Sa’ad membisikkan ke telinga Ibunya; “Wahai Ibu, ketahuilah camkan baik-baik, jangankan Ibu punya satu nyawa kalau Ibu punya seribu nyawa, semuanya mati hidup secara terus menerus sampai seribu nyawa itu habis Ibu suruh saya untuk meninggalkan agama ini, saya tetap tidak akan tinggalkan agama ini. Ibu mau makan silahkan! tidak makan, mati pun tidak apa-apa.” Ibunya lihat anaknya serius dengan perkataannya sehingga Ibunya pun makan (mengalah atas keinginannya untuk membujuk anaknya untuk keluar dari agama yang dibawa oleh Muhammad Saw).
Betapa kokohnya keimanan Sa’ad seorang pemuda yang beumur 17 tahun yang harus menerima konsekuensi dari ancaman dan tekanan Ibunya yang di luar batas keinginannya untuk mengeluarkannya dari agama yang ia cintai sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Kisah ini berkenaan dengan asbabun nuzul dari (QS. Luqman [31]: 14-15).
والله أعلمُ بالـصـواب – –
“Bagaimanapun tekanan ataupun ancaman yang menimpa akidahmu jangan pernah gentar sedikitpun, dengan memaksimalkan usaha dan menyerahkan sisanya kepada Allah (tawakkal), senantiasa berdoa agar tetap berada di jalur orang-orang yang diberi nikmat hidayah-Nya yang merupakan nikmat teristimewa yang diberikan langsung oleh Allah Swt. khusus kepada mereka yang terpilih.”
اللهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِينِكَ وَعَلى طَاعَتِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami atas agama–Mu dan dalam ketaatan kepada–Mu.”
Aamiin…
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
[1] Shalahudin Mahmud As-Sa’id, 10 Sahabat Yang Di Jamin Surga, (Solo: Al-Qowam, 2012), h. 273.
[2] Rizem Aizid, Para Panglima Perang Islam, (Yogyakarta: Saufa, 2015), h. 58.
[3] Subagdjo Aswara, Sa’ad Bin Abi Waqqash, (Bandung : PT Remaja Kosdakarya, 1986), h.12.
