Search

PESAN DAN HIKMAH DALAM SURAH LUQMAN AYAT 17

PESAN DAN HIKMAH DALAM SURAH LUQMAN AYAT 17

PESAN DAN HIKMAH DALAM SURAH LUQMAN AYAT 17

Oleh: Muhammad Hidayat*

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Mari kita tadabbur Surah Luqman ayat 17 lebih dalam lagi dengan memperhatikan setiap pesan dan hikmah yang bisa diambil:

1. Panggilan yang Lembut: “Ya Bunayya” (Wahai Anakku)

Luqman menggunakan ungkapan yang penuh kelembutan dan kasih sayang ketika memberi nasihat kepada anaknya, “Ya bunayya” yang artinya “Wahai anakku yang tercinta.” Ini mengajarkan cara terbaik dalam menyampaikan nasihat: dengan cinta, kelembutan, dan perhatian. Kita diingatkan bahwa nasihat yang baik seringkali lebih diterima jika disampaikan dengan kasih sayang, terutama kepada anak-anak atau orang yang lebih muda.

Dalam mendidik, kita harus lebih mengedepankan pendekatan yang lembut dan penuh perhatian, bukan dengan paksaan atau kekerasan. Sikap ini dapat membantu nasihat kita lebih mudah diterima dan dipahami.

2. Kewajiban Mendirikan Shalat: “Aqimish-shalat” (Dirikanlah Shalat)

Luqman menempatkan perintah mendirikan shalat di awal nasihat ini, yang menunjukkan bahwa shalat adalah landasan utama dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah, tetapi juga alat untuk menenangkan jiwa dan menata hidup seseorang. Dengan shalat yang benar, perilaku seseorang juga akan menjadi lebih baik.

Shalat adalah prioritas utama bagi seorang Muslim. Shalat mendidik disiplin, ketundukan kepada Allah, dan menjaga diri dari perbuatan dosa. Dalam tadabbur ini, kita diingatkan untuk selalu memperbaiki kualitas shalat kita, karena dari sinilah kebaikan-kebaikan lain muncul.

Baca juga: BELAJAR SEMANGAT DARI HASAN AL-BASHRI

3. Amar Ma’ruf: “Wa’mur bil-ma’ruf” (Perintahkanlah Kebaikan)

Setelah menegaskan pentingnya hubungan vertikal dengan Allah melalui shalat, Luqman mengajarkan pentingnya hubungan horizontal dengan sesama manusia. Mengajak orang lain kepada kebaikan adalah kewajiban yang diberikan kepada setiap Muslim. Ini tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga dalam segala bentuk perbuatan yang bermanfaat bagi manusia.

Tanggung jawab seorang Muslim tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk memperbaiki lingkungan sosial. Amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) bisa berupa membantu orang lain, memberi nasihat yang baik, atau mendukung kegiatan positif di Masyarakat.

4. Nahi Munkar: “Wanha ‘anil munkar” (Cegahlah Kemungkaran)

Seperti halnya mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran juga adalah tanggung jawab seorang Muslim. Ini bisa berupa tindakan langsung atau dengan cara yang lebih bijaksana, tergantung situasi. Namun, mencegah kemungkaran adalah bagian dari menjaga keharmonisan sosial dan menegakkan keadilan.

Mencegah kemungkaran memerlukan kebijaksanaan. Tindakan ini bisa dilakukan melalui kata-kata, nasihat, atau bahkan diam saat kondisi tidak memungkinkan. Namun, di manapun kita berada, kita diingatkan untuk tidak berdiam diri terhadap ketidakadilan atau kezaliman.

5. Kesabaran dalam Ujian: “Wasbir ‘ala ma ashabak” (Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu)

Di jalan kebaikan, seseorang pasti akan menghadapi ujian. Mungkin akan ada penolakan, kesulitan, atau bahkan gangguan fisik dan mental. Luqman mengingatkan bahwa sabar adalah kunci untuk melewati semua itu. Kesabaran adalah pondasi bagi setiap Muslim yang menjalankan perintah amar ma’ruf nahi munkar, karena kebaikan sering kali mendapatkan tantangan.

Bersabar dalam menghadapi ujian bukan berarti pasrah, tetapi tetap teguh dan konsisten dalam berbuat baik. Kesabaran juga meliputi kemampuan untuk tidak mudah putus asa ketika berhadapan dengan kesulitan atau rintangan di jalan kebaikan.

6. Keteguhan Tekad: “Inna dzalika min ‘azmi al-umur” (Itu termasuk hal-hal yang diwajibkan dengan tekad yang kuat)

Luqman mengakhiri nasihatnya dengan menegaskan bahwa semua perintah di atas — mendirikan shalat, amar ma’ruf, nahi munkar, dan bersabar — adalah bagian dari perkara-perkara yang membutuhkan keteguhan hati dan tekad yang kuat. Ini mengisyaratkan bahwa jalan hidup seorang Muslim yang benar tidak selalu mudah, tetapi memerlukan keberanian, keteguhan, dan konsistensi.

Menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah tugas yang berat, namun dengan tekad yang kuat dan kesabaran, semua dapat dihadapi. Setiap Muslim diingatkan untuk tidak mudah goyah atau menyerah, karena dalam tekad yang kuat terdapat kekuatan untuk mencapai ridha Allah.

Kesimpulan dari Tadabbur Ayat 17:

Luqman memberi nasihat yang sangat komprehensif kepada anaknya. Dimulai dengan membangun hubungan yang kuat dengan Allah melalui shalat, dilanjutkan dengan memperhatikan urusan masyarakat melalui amar ma’ruf dan nahi munkar, dan diakhiri dengan mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.

Nasihat ini mengajarkan keseimbangan hidup yang sempurna antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial, serta pentingnya keteguhan hati dan kesabaran dalam menjalani kehidupan yang penuh ujian.

*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta