
BELAJAR SEMANGAT DARI HASAN AL-BASHRI
Oleh: Abdullah Ikhwanul khair Asy-Syauq*
Bagaimana rasanya berada di titik ini? Yaitu suatu kondisi di mana kamu benar benar down lelah menghadapi segala ujian yang ada, dunia terasa hampa seolah-olah hanya kamulah yang mau disudutkan olehnya, isi kepala hanyalah perasaan gegana (gelisa galau merana). Hmmmm…percayalah kamu tidak sendirian, semua orang pernah merasakan itu, termaksud aku. Pertanyaannya apakah kamu ingin menyembuhkan rasa sedih tersebut? Apakah kamu membutuh obat untuk menghilangkan rasa frustasi tersebut? YA…. TENTU MAU, semua orang pasti menginginkan hal tersebut. Oleh karena itu, aku ingin berbagi kisah tentang seorang motivator yang bisa menginspirasi kita menghadapi rintangan- rintangan yang ada dalam kehidupan ini, membakar kemalasan yang ada dalam diri kita dan mengobarkan api semangat perjuangan yang sesungguhnya. Membantu kita untuk selalu giat dalam menuntut ilmu sebagai sarana untuk memperoleh ridho-Nya. Maka dari itu mari bersama simak dan nikmati kisahnya.
BIOGRAFI
Bertepatan di kota Madinah pada tahun 21 H/641 M lahirlah seorang bayi laki- laki dari rahim seorang budak yang mulia, ibunya bernama Khairah sedangkan ayahnya bernama Yasar. Lahirnya bayi tersebut membawa kegembiraan bagi masyarakat Madinah khususnya Ummu Salamah istri Rasulullah ﷺ yang menjadi majikan dari Khairah serta sahabat mulia Zaid bin Tsabit majikan dari Yasar ayahnya. Uniknya bayi tersebut di beri nama bukan dari orang tuanya melainkan dari Ummu Salamah dikarenakan keinginan dari Khairah sendiri yang akhirnya bayi tersebut diberi nama dengan hasan. Sebuah peristiwa menarik ketika Hasan kecil ditinggal kerja oleh ibunya ia menangis. Melihat Hasan kecil menangis, Ummu Salamah pun merasa iba dan langsung menyusuinya hingga kenyang dan berhenti dari tangisnya.
MENAUNGI SAMUDRA ILMU
Di Madinah, Hasan al-Bashri dikenal dengan keluasan ilmunya. Sejak kecil beliau dididik dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya, maka tak heran sebelum menginjak usia remaja Hasan al Bahsri sudah berhasil menghafal Al-Qur’an. Sungguh luar biasa bukan!! Beliau juga bergaul bersama orang-orang sholeh yang ada di sana dan menyaksikan betapa indahnnya akhlak para sahabat. Mereka memiliki hubungan yang baik kepada manusia terlebih lebih lagi hubungannya kepada Allah ﷻ. Di samping itu, Hasan banyak menimba ilmu kepada para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, di antaranya yaitu sahabat Umar bin Khattab yang pada saat itu menjabat sebagai khalifah, kemudian sahabat Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan masih banyak lagi. Hasan al Bahsri menggunakan raganya untuk terus berjuang, bangkit, dan bersinar terang benderang. Imam Hasan al Bahsri pernah mengatakan: “Apa yang ada di dunia ini tak lain hanyalah mimpi yang dialami oleh orang-orang yang sedang tidur? Dia merasakan kesenangan di dalamnya selama beberapa saat dan kemudian terbangun untuk menghadapi kenyataan.”
Seiring berjalannya waktu tatkala Hasan al Bashri berusia 14/15 tahun menginjak usia remaja beliau pindah dari Madinah menuju Basrah Iraq untuk betempat tinggal di sana. Nahh…dari sinilah nama al Bashri dinisbatkan kepadanya. Berdomisilinya Hasan al Bashri di Iraq tidak menghentikan langkahnya untuk terus berjuang menuntut ilmu, baginya tidak ada kata menyerah dalam kehidupan ini, selama masih diberi kehidupan selama itu pula ia terus menuntut ilmu. Tekadnya yang begitu kuat bagaikan api yang tak pernah padam, Hasan al Bashri tidak menyia-nyiakan kenikmatan yang telah diberikan Allah ﷻ kepadanya. Di Basrah beliau tekun belajar di berbagai halaqah-halaqah ilmu dengan berbagai guru yang berbeda, ilmu yang diperolehnya antara lain, ilmu tafsir, qira’ah, fiqih, bahasa, sastra, dan lain-lainya. Ketekunannya dalam menuntut ilmu membuatnya menjadi ulama yang terkemuka, maka tak heran banyak para penuntut ilmu yang ingin berguru kepadanya.
Baca Juga: Apa Hukum Murajaah Al – Qur’an Bagi Wanita Haid?
Seiring berjalannya waktu tepatnya pada hari Jumat 5 Rajab 110 Hijriyah pada umur 89 tahun Imam Hasan al Bashri menghebuskan nafas terakhirnya di kota Basrah, Iraq.
Dari kisah di atas kita bisa mengambil pelajaran tentang tindakan yang harus kita lakukan. Berdiam diri atau menjemput ridho sang Ilahi, orang yang bijak akan bangkit dan melakukan aksinya, sedangkan orang yang bodoh akan termenung di atas tempat tidurnya, pilihan itu ada di tangan kita. Untuk kamu yang masih gegana mudah-mudahan bisa bangkit kembali menjadi sosok yang pemberani.
Ingat!!… Masih banyak orang-orang tercinta yang menaruh harapan besar kepadamu, khususnya ibu bapak dan keluarga besarmu, maka dari itu buatlah mereka bahagia dengan kesuksesanmu.
‘’Orang yang bijak akan bangkit dan melakukan aksinya, sedangkan orang yang bodoh akan termenung di atas tempat tidurnya.”
(Abdullah Ikhwanul Khair Asy-Syauq)
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
