Search

Perumpamaan Harta yang Diberikan Orang Kafir

Perumpamaan Harta yang Diberikan Orang Kafir

Perumpamaan Harta yang Diberikan Orang Kafir

M Fajri Hidayat

Allah Swt. Berfirman:

مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُ ۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini adalah ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu (angin itu) merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri.

(QS. Āli ‘Imrān [3]:117)

Penjelasan

Jika ayat sebelumnya menjelaskan tentang harta orang-orang kafir tidak akan bermanfaat di akhirat kelak, pada ayat ini Allah memberikan sebuah perumpamaan yang bisa disaksikan di dalam sebuah kehidupan terkait hal tersebut. Ayat ini memberikan permisalan seorang petani yang telah bersusah payah menanam, menyiram, merawat hingga saat tiba panen tiba-tiba tanaman mereka dibumihanguskan oleh angin yang kencang lagi panas, yang di mana mereka tidak mendapatkan sedikitpun hasil dari kerja keras mereka selama berbulan-bulan. Demikian pula keadaan mereka nanti di hari pembalasan. Mereka mengira bahwa amal-amal perbuatan yang mereka lakukan di dunia akan memberikan manfaat di hari itu, tetapi pada faktanya, mereka tidak mendapatkan balasan apapun walau sedikitpun dari apa yang mereka kerjakan layaknya petani yang di atas.

Perumpamaan bagi apa yang mereka infakkan di dunia ini, yaitu harta benda yang telah mereka tanam untuk menegakkan maksud mereka yang salah, memadamkan cahaya llahi adalah laksana angin yang di dalamnya ada udara yang sangat sejuk. Di sini diumpamakan dengan hembusan angin musim dingin membawa udara yang sangat seiuk. Angin musim dingin membawa udara sangat sejuk itu adalah udara yang kering sifatnya. Bila angin yang demikian menyentuh badan kita sendiri pada musim dingin, kulit kita bisa pecah-pecah dan kalau angin yang berudara sangat sejuk itu menyentuh tanam-tanaman, tanaman itu bisa jadi kering, bahkan mudah sekali terbakar, karena sebab zat air tidak ada lagi di dalamnya.

Pepatah bangsa kita pernah berkata: “Arang habis besi binasa”, maksudnya adalah Sia-sia walaupun sudah menghabiskan biaya atau tenaga. Sedangkan ajaran Ilahi yang dibawa oleh Rasul Saw. adalah laksana air hujan turun membawa rahmat. Ini yang hendak mereka hapus dengan menghambur-hamburkan harta. Maka bukanlah ajaran Ilahi yang dapat mereka kalahkan, melainkan perkebunan dan tanam-tanaman mereka sendirilah yang akan punah dan musnah, yaitu sumber kekayaan mereka. Bukanlah Allah yang menganiaya mereka, melainkan diri mereka sendirilah yang mereka aniaya.

Baca juga: Tak Dikenal di Bumi tetapi Terkenal di Langit

Dalam ayat ini terdapat beberapa faktor perumpamaan harta yang diinfakkan di dunia ini oleh manusia. Yang pertama adalah “Perumpamaan tentang Harta yang diinfakkan”. Ayat ini membandingkan harta yang diinfakkan oleh manusia di dunia dengan angin yang membawa hawa dingin. Harta yang diinfakkan di sini mencakup segala bentuk infaq, sedekah, dan pengeluaran yang dilakukan untuk kebaikan atau pun untuk keburukan.

Yang kedua adalah “Angin dengan Hawa Dingin”: Seperti angin yang membawa hawa dingin yang sangat tajam, harta yang diinfakkan ini bisa membawa berbagai dampak. Dalam konteks ayat ini, dampaknya adalah merusak tanaman milik kaum yang menzalimi diri sendiri.

Yang ketiga adalah “Kaum yang Menzalimi Diri Sendiri”: Tanaman yang dirusak dalam perumpamaan ini melambangkan hasil atau manfaat dari harta yang diinfakkan. Kaum yang menzalimi diri mereka sendiri adalah mereka yang tidak menggunakan harta mereka dengan cara yang benar di hadapan Allah Swt. Mereka mungkin menginfakkan harta mereka untuk tujuan yang tidak diridhai Allah Swt, atau tidak melakukan infak dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepadanya.

Yang keempat adalah “Pelajaran dari Perumpamaan”: Allah Swt. menegaskan bahwa Dia tidak zalim kepada hamba-hamba-Nya. Justru, hamba-hamba itu yang zalim kepada diri mereka sendiri dengan menggunakan harta mereka secara salah atau tidak bermanfaat.

Ini mengingatkan kita untuk menggunakan harta kita dengan cara yang benar, yaitu dengan bermurah hati, ikhlas, dan sesuai dengan petunjuk Allah Swt. Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya menjaga niat dan tujuan dalam pengeluaran harta, serta konsekuensi dari penggunaan harta yang tidak benar.

*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta