Search

Tak Dikenal di Bumi tetapi Terkenal di Langit

Tak Dikenal di Bumi tetapi Terkenal di Langit

Tak Dikenal di Bumi tetapi Terkenal di Langit

Izdiharuddin*

            Siapa yang tidak kenal dengan seorang tabi’in yang dijuluki dengan pemuda istimewa pada zamannya dan sampai Rasulullah Saw perintahkan khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencarinya, orang tersebut adalah Uwais Al Qarni. Beliau seorang pemuda yang tinggal di kota Yaman bersama ibunya. Uwais mempunyai penyakit sopak atau kusta. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

            “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

            Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila… Uwais gila,” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut. Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya untuk melaksanakan haji.

Baca juga: Keistimewaan dan Makna Ayat Kursi

            Ketika musim haji pun tiba Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan mengelilingi Ka’bah 7 kali. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa kepada Allah.

            “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

             “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.  

              Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

            Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah Swt pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya atau kusta. Hanya tertinggal bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di kedua lengannya Uwais tersebut? Itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

            Kisah ini menjadi pelajaran dan motivasi bahwa berbakti kepada kedua orang tua itu adalah suatu keutamaan terutama kepada ibu karena jerih payah selama 9 bulan mengandung kita, dan Uwais juga orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia. Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak sehingga mudah merendahkan orang lain. Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati kita. Tidak dilihat dari luar kita.

            Dan saya mengingat pesan dari guru kami Dr. KH. Ali Nurdin, MA beliau mengatakan kepada santrinya, “Setiap pekerjaan yang kita lakukan baik dalam menuntut ilmu maka niati untuk membanggakan hati kedua orang tua karena kalau orang tua sudah ridho apa yang kita kerjakan, maka pekerjaan itu selalu mudah sebab dengan doa orang tua adalah keramat bagi kita. Dan apapun hasilnya nanti kita serahkan kepada Allah dan walaupun kita sudah terkenal di bumi maka jangan sombong apa yang kita miliki karena sewaktu-waktu pasti akan diambil oleh Allah.”  



*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta