
MAKNA “HIKMAH” DALAM AL-QUR’AN: Karunia Besar yang Mengantarkan pada Kebaikan
Catatan Kajian KH. Dr. Ali Nurdin, MA – Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono, Minggu 23 November 2025
Al-Qur’an menjelaskan bahwa hikmah adalah salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Dengannya, seseorang mampu memahami hidup dengan lebih jernih, mampu bersikap proporsional, sehingga bisa mengambil keputusan dengan bijak dalam setiap perkataan, perbuatan maupun mengambil keputusan.
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ
“Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali ulul albāb.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 269)
Makna dan Wujud Hikmah dalam Al-Qur’an
1. Akhlak Mulia
Hikmah tampak melalui kemampuan seseorang menjalani hidup dengan akhlak yang luhur—khususnya dalam bakti kepada orang tua.
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.426) Al-Isrā’ [17]:23
Dan juga:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ …
“Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang…”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 24)
Jika orang tua telah wafat, bagaimana cara berbakti kepada mereka?
Nabi ﷺ mengajarkan tiga bentuk birrul-wālidayn setelah wafatnya orang tua:
- Memohonkan ampun untuk keduanya
- Menyambung silaturahmi dengan kerabat keduanya
- Melanjutkan wasiat dan kebaikan yang mereka tinggalkan
Setiap amal baik yang dilakukan anak akan menjadi tambahan pahala bagi orang tuanya.
2. Bersikap Proporsional dalam Berbuat Baik
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا
Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal. (QS. Al-Isrā’ [17]: 29)
Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan cara-cara yang baik dalam membelanjakan harta. Allah menyebutkan larangan berlaku bakhil atau kikir dalam memberikan harta kepada orang lain, walaupun sedikit, dan larangan berlaku boros dalam membelanjakan harta, sehingga melebihi kemampuan yang dimilikinya. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa cara yang baik dalam membelanjakan harta ialah dengan proporsional.
Berbuat baik juga memiliki skala prioritas. Tidak semua niat baik menghasilkan kebaikan jika:
- mengabaikan kewajiban utama, atau
- mengorbankan hak orang terdekat.
Hikmah berarti beramal dengan benar dan dengan cara yang benar serta proporsional
Baca juga: Amalan Sejati Ahli Al-Qur’an: Lebih dari Sekadar Menghafal
3. Menjaga Kehormatan dan Batasan
Orang yang dikaruniai hikmah mampu menjaga kehormatan dan tidak melampaui batas, termasuk dalam menjaga relasi antara laki-laki dan perempuan. Allah melarang manusia mendekati zina (lā taqrabūz-zinā). Dalam hal ini, Nabi Muhammad kerap menegaskan adanya ikhtiyāṭ (langkah antisipatif), diantaranya adalah:
- pemisahan shaf laki-laki dan perempuan dalam salat,
- anjuran mahram bagi perempuan dewasa dalam perjalanan,
Karena tarikan menuju zina sangat kuat, maka mendekatinya saja sudah dilarang
4. Petunjuk yang Bersumber dari Wahyu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذٰلِكَ مِمَّآ اَوْحٰٓى اِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتُلْقٰى فِيْ جَهَنَّمَ مَلُوْمًا مَّدْحُوْرًا
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepada engkau (Nabi Muhammad). Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah). (QS. Al-Isrā’ [17]: 39)
Semua nilai kebaikan yang Allah turunkan kepada Nabi adalah bagian dari hikmah: tauhid, etika sosial, adab, hingga ibadah.
5. Pengetahuan Mendalam yang Membawa pada Sikap yang Tepat dan Bijaksana
Allah memberikan hikmah kepada Luqman berupa pengetahuan yang mendalam sehingga mampu mengambil sikap yang tepat dan bijaksana.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqmān [31]: 12)
Pengetahuan yang benar melahirkan sikap yang benar. Luqman memahami:
- siapa dirinya,
- siapa Rabbnya,
- dan bagaimana menjalankan hidup dengan syukur.
6. Sikap yang Tepat dan Lembut
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Naḥl [16]: 125)
Barang siapa telah Allah karuniai hikmah, sesungguhnya dia sudah diberi kebaikan banyak sekali, bukan hanya materi, tapi juga nonmateri, dan berdebat dengan cara terbaik adalah salah satu ciri orang yang telah Allah karuniai hikmah.
Baca juga: Seruan Lembut dalam Berdakwah pada Surah An-Nahl Ayat 125
Ketaatan adalah anugerah, bukan jasa. Bila seseorang diberi kemampuan untuk taat, itu sudah termasuk rahmat besar dari Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yūnus [10]: 58) Orang yang diberi ujian/ kesulitan hidup, kemudian ujian tersebut mengantarnya semakin bijak dan taat kepada Allah, sesungguhnya ia telah mendapat banyak hikmah — sedangkan seseorang yang dikaruniai harta melimpah, namun harta tersebut mengantarnya pada kesombongan, boleh jadi itu adalah istidrāj. Allah membiarkan saja sehingga tidak terkendali hidupnya seperti layang-layang yang terbang tinggi namun putus talinya, dan kehilangan arah.
Pada akhirnya, hikmah adalah anugerah agung yang mendewasakan manusia dalam memandang hidup. Ia menjernihkan hati, menata akhlak, menuntun langkah, dan mengarahkan seseorang untuk selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan. Hikmah tidak selalu hadir melalui kemudahan; sering kali ia tumbuh justru dari ujian, kekecewaan, atau pengalaman yang mengasah jiwa.
Setiap orang berpeluang mendapatkan hikmah, selama ia membuka diri untuk belajar, memperbaiki diri, serta merendahkan hati di hadapan Allah. Karena itu, memohon hikmah adalah salah satu doa terpenting seorang mukmin — sebab dengan hikmah, kebaikan dunia dan akhirat menjadi lebih dekat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diberi kejernihan berpikir, kelembutan sikap, dan ketepatan memilih jalan—hingga setiap langkah yang kita ambil selalu mengantarkan pada kebaikan. Āmīn.
