
Amalan Sejati Ahli Al-Qur’an: Lebih dari Sekadar Menghafal
Oleh: Ikrar Ammar Andriau Lau*
Anas RA meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ yang bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka Ya Rasulullah?” “Para Ahli Al-Qur’an, merekalah keluarga Allah ﷻ dan hamba pilihan-Nya,” Jawab Rasul.
At-Tirmidzi mengomentari hadis di atas bahwa yang dimaksud dalam hadis tersebut ialah orang-orang yang membaca Al-Qur’an yang terbebas dari kotoran dosa zahir dan batin, lalu menghiasi diri mereka dengan ketaatan kepada Allah ﷻ. Ketaatan kepada Allah ﷻ bisa kita mulai dengan menjaga kehalalan makanan dan minuman kita, menjaga lisan dari mengucapkan perbuatan yang sia-sia, menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, menjaga kedua tangan agar tidak mengambil yang bukan haknya, menjaga hati agar terhindar dari buruk sangka, dan mengisinya dengan kalam-kalam Ilahi. Semua ini adalah bentuk ketakwaan yang wajib diamalkan setiap mukmin khususnya penghafal Al-Qur’an.
Baca juga: PESAN DAN HIKMAH DALAM SURAH LUQMAN AYAT 17
Menghafal Al-Qur’an bukanlah ukuran seseorang tersebut dikatakan sebagai Ahli Al-Qur’an akan tetapi ahli Al-Qur’an yang dimaksud ialah orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya. Mengamalkan semua isi dalam ayat Al-Qur’an tentulah sulit untuk kita lakukan, akan tetapi sulit bukan berarti menjadi alasan bagi kita untuk meninggalkan kewajiban mengamalkan isinya, seperti sebuah kaidah mengatakan, “Jika tidak bisa dikerjakan semuanya, jangan tinggalkan semuanya”.
Sebagai langkah awal dalam mengamalkan Al-Qur’an yaitu rasa takwa kepada Allah ﷻ, baik dalam keadaan tampak maupun sunyi. Berhati-hati dalam menjaga kehalalan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggalnya. Memahami kondisi zaman yang penuh dengan kerusakan di dalamnya sehingga dia dapat berhati-hati dalam menjaga segala urusannya, dan berusaha selalu memperbaiki urusannya yang rusak.
Ia juga hendaknya menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang jelek. Menimbang segala hal yang keluar dari lisannya berdasarkan ilmu. Ilmu yang membawa seseorang takut akan pekerjaan yang tidak membawa manfaat, terhadap lisan yang berucap hal-hal buruk, terhadap perasaan sombong, iri dan dengki kepada orang lain, dan mengisinya dengan sifat-sifat yang baik seperti, kerendahan hati, kesabaran, syukur, selalu menolong dan sifat-sifat baik lainnya. Semua itu adalah makna-makna ruhani yang dapat kita temukan di dalam kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ yakni Al-Qur’an.
Kitab suci yang menerangi setiap peradaban yang menjunjungnya dan menghancurkan setiap peradaban yang mendustakannya. Mari dari itu, jangan tinggalkan Al-Qur’an, baik itu sebagai bacaan, pedoman hidup, sumber inspirasi dan segala hal-hal baik lainnya yang melekat padanya. Terima kasih.
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
