Search

Memahami Arti Kesuksesan: Antara Harta, Anak yang Soleh, dan Kebahagiaan Akhirat.

Memahami Arti Kesuksesan: Antara Harta, Anak yang Soleh, dan Kebahagiaan Akhirat.

Memahami Arti Kesuksesan: Antara Harta, Anak yang Soleh, dan Kebahagiaan Akhirat

Siapa yang tidak mau hidup enak, sejahtera, dan bahagia? Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia bersedia melakukan apa saja. Sebagian dari mereka banting tulang dari pagi sampai petang. Sebagian lainnya, mengendap-endap merekayasa kesempatan untuk berbuat curang. Sisanya yang hanya segelintir, memilih jalan ketaatan.

Saat usia muda, waktu dihabiskan bertahun-tahun untuk sekolah. Dewasa mengumpulkan banyak uang. Menjelang tua, banyak pantangan. Ketika tua, yang dipikirkan adalah kesehatan. Dalam kerentaan, tidak ada keinginan kecuali hanya perhatian dari keluarga. Begitu saja siklus hidup manusia, sangat singkat tahapan yang dilaluinya.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, begitu kata pepatah. Anak-anak ‘sukses’ dengan karier mereka, kesibukannya sangat luar biasa, sampai untuk membalas pesan singkat orang tua mereka, butuh berhari-hari. Bahkan ketika orang tua sakit dan wafat, mereka tidak sempat berkunjung. Kesuksesan mendidik anak yang ‘sempurna’ bukan?

Seorang penulis buku mengenai kiat sekolah di luar negeri yang sangat laris, menarik bukunya dari peredaran. Karena setelah sekian tahun anak-anaknya sekolah dan bekerja di luar negeri, hanya sibuk dengan urusan mereka. Tidak ada perhatian kepada orang tua mereka, sampai ibu mereka meninggal pun, tidak ada anak yang datang berkunjung. Konon katanya, penulis itu meminta maaf kepada para pembeli bukunya.

Manusia sama sekali tidak membutuhkan tumpukan harta dan anak yang sukses dalam mengejar harta dan popularitas jika di ujung kerentaannya, semuanya hanya menjadi penyesalan yang tidak tergantikan lagi.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“(yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (bersih).”
(QS 26: 88-89)

Sejak awal, orang tua bisa mendeteksi kondisi anak-anak mereka dalam ketaatannya kepada agama. Allah melarang seorang anak untuk berkata “ahh…” kepada orang tua mereka. Allah memerintahkan agar anak berbuat baik (ihsan) kepada orang tua mereka. Allah menggunakan kata IHSAN, yang berarti bukan hanya sekadar baik, tapi di atas baik.

Baca juga: Cara Menghadapi Masalah Hidup ala Nabi: Tetap Tenang dan Percaya pada Allah

Jika orang tua sampai meminta sesuatu yang dibutuhkan kepada anaknya, dan dipenuhi permintaan itu oleh anaknya, maka itu bukanlah ihsan yang dimaksud dalam ayat itu. Memenuhi kebutuhan orang tua sebelum mereka memintanya, itulah ihsan. Renungi kandungan QS 17: 23-24.

Kehidupan ini bukan berarti harus menghindar dari kenikmatan dunia, tapi bukan berarti dunia dan segala kesuksesan meraihnya membutakan tujuan seutuhnya.

Allah Ta’ala berfirman:

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا وَزِینَتَهَا نُوَفِّ إِلَیۡهِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِیهَا وَهُمۡ فِیهَا لَا یُبۡخَسُونَ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ لَیۡسَ لَهُمۡ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِیهَا وَبَـٰطِلࣱ مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka. Dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS 11: 15-16)

Ke mana kita akan menggapainya, semua itu tergantung pada seberapa besar apa yang kita kejar dan apa yang akan kita tangkap. Bukankah di akhir hayat nanti, kita mendambakan kematian yang diiringi dengan lantunan kalimat Tauhid dari anak-anak kita? Bukankah kesolehan anak kita yang akan memudahkan kita mendapat ampunan Allah? Bukankah istighfar dari anak yang soleh akan meringankan azab kubur? Atau anak yang bergelimang dengan segala kesuksesan dunianya saja?