
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca dalam ibadah, melainkan petunjuk hidup yang mengokohkan akidah, membimbing manusia menuju jalan yang benar, sekaligus menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Enam ayat pertama Surah Ali ‘Imran menghadirkan fondasi penting tersebut melalui penegasan tentang kemurnian wahyu, keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, serta kedudukan Al-Qur’an sebagai pembenar dan penjaga kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Dalam Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono, Ustadz Assoc. Prof. Dr. Ali Nurdin, M.A., C.A.H. menjelaskan bahwa rangkaian ayat ini bukan hanya mengajarkan konsep-konsep akidah, tetapi juga membangun cara pandang seorang Muslim dalam menjalani kehidupan. Keimanan kepada Al-Qur’an tidak berhenti pada keyakinan bahwa ia berasal dari Allah, tetapi juga melahirkan tanggung jawab untuk mempelajari, menjaga, dan mengamalkan ajarannya.
Alif Lām Mīm: Penegasan Kemurnian Wahyu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الۤمّۤ
Alif Lām Mīm. (Āli ‘Imrān [3]:1)
Surah Ali ‘Imran dibuka dengan rangkaian huruf Alif Lām Mīm yang termasuk fawātiḥ as-suwar (huruf-huruf pembuka surah). Para ulama berbeda pendapat mengenai makna huruf-huruf tersebut. Namun, mayoritas bersepakat bahwa hakikat maknanya merupakan bagian dari ilmu Allah yang tidak diketahui manusia secara pasti. Karena itu, para ulama sering menutup pembahasannya dengan ungkapan wallāhu a’lam bimurādih—Allah-lah yang paling mengetahui maksudnya.
Menurut Ustadz Ali Nurdin, pembukaan surah dengan huruf-huruf tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Al-Qur’an bukanlah hasil karangan Nabi Muhammad ﷺ. Seluruh isi Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diterima Rasulullah ﷺ melalui wahyu, lalu beliau sampaikan kepada umatnya tanpa penambahan maupun pengurangan sedikit pun.
Kemurnian Al-Qur’an juga dibuktikan melalui tantangan terbuka yang Allah berikan kepada manusia dan jin. Sejak lebih dari empat belas abad yang lalu, tidak seorang pun mampu menghadirkan satu surah yang sebanding dengan Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al-Baqarah [2]:23)
Tantangan tersebut tetap terbuka hingga hari ini. Perkembangan ilmu pengetahuan, sastra, maupun teknologi belum mampu menghadirkan karya yang menyamai Al-Qur’an, baik dari segi bahasa, kandungan, petunjuk hidup, maupun konsistensi ajarannya. Hal ini menjadi salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an yang terus relevan sepanjang zaman.
Kemukjizatan itu semakin dipertegas oleh jaminan Allah terhadap keaslian Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (Al-Ḥijr [15]:9)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang menjaga kemurnian Al-Qur’an. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang penjagaannya diserahkan kepada umat masing-masing, Al-Qur’an memperoleh jaminan langsung dari Allah sehingga tetap terpelihara dari perubahan hingga akhir zaman.
Jaminan tersebut tidak berarti umat Islam terbebas dari tanggung jawab. Justru setiap Muslim memiliki amanah untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an, yakni dengan mempelajarinya, menghafalnya, mengajarkannya, memahami kandungannya, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemuliaan Al-Qur’an juga tercermin pada segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Kota Makkah dan Madinah dimuliakan karena menjadi tempat turunnya wahyu. Bulan Ramadan menjadi bulan paling utama karena menjadi waktu diturunkannya Al-Qur’an. Malam Lailatul Qadar memperoleh keistimewaan karena menjadi malam permulaan turunnya wahyu. Bahkan umat Nabi Muhammad ﷺ pun memperoleh kemuliaan karena menerima Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Atas dasar itulah seorang Muslim semestinya memandang Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan yang dilantunkan ketika beribadah, melainkan sebagai sumber kehidupan yang menghadirkan petunjuk, keberkahan, dan kemuliaan bagi siapa saja yang berpegang teguh kepadanya.
Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus Seluruh Makhluk
Setelah menegaskan kemurnian Al-Qur’an, Allah mengarahkan perhatian manusia kepada pokok ajaran seluruh risalah kenabian, yaitu tauhid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ
Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus. (Āli ‘Imrān [3]:2)
Ayat ini memuat kalimat tauhid yang menjadi inti seluruh ajaran para nabi. Ustadz Dr. Ali Nurdin juga menjelaskan bahwa nama “Allah” bukanlah sebutan yang diciptakan manusia, melainkan nama yang Allah tetapkan sendiri untuk Diri-Nya. Karena itu, pengenalan manusia kepada Allah tidak dibangun atas spekulasi, tetapi melalui wahyu yang diturunkan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku. (Ṭāhā [20]:14)
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa seluruh ibadah dalam Islam bermuara pada penghambaan kepada Allah semata. Tidak ada satu pun nabi yang membawa ajaran yang berbeda dalam persoalan akidah. Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ, seluruh rasul mengajak umatnya kepada kalimat yang sama: hanya Allah yang berhak disembah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku. (Al-Anbiyā’ [21]:25)
Karena itu, dalam perspektif Al-Qur’an seluruh nabi membawa agama tauhid. Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad ﷺ sama-sama mengajarkan kepasrahan kepada Allah. Perbedaan syariat yang dibawa para nabi tidak mengubah pokok ajaran akidah yang tetap satu.
Hal tersebut tampak pula dalam wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub kepada anak-anak mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ
Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya‘qub, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Al-Baqarah [2]:132)
Pesan yang sama kembali ditegaskan kepada orang-orang beriman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Āli ‘Imrān [3]:102)
Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan terbesar seorang mukmin bukan hanya hidup sebagai seorang Muslim, tetapi juga mampu mempertahankan keimanan hingga akhir hayat. Sebab, yang menjadi ukuran bukan semata bagaimana seseorang memulai hidupnya, melainkan bagaimana ia mengakhirinya dalam keadaan husnul khatimah.
Memahami Makna Al-Ḥayyu dan Al-Qayyūm
Dua nama Allah yang disebutkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat kedua, yaitu Al-Ḥayyu dan Al-Qayyūm, mengandung makna yang sangat mendalam.
Nama Al-Ḥayyu menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup sekaligus sumber seluruh kehidupan. Tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri selain karena kehendak-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Ḥadīd [57]:2)
Manusia mengalami beberapa fase kehidupan yang seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah. Sebelum lahir manusia berada dalam keadaan tidak hidup, kemudian Allah menghidupkannya di dunia, mematikannya ketika ajal tiba, lalu membangkitkannya kembali pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan? (Al-Baqarah [2]:28)
Kesadaran bahwa hidup merupakan anugerah Allah semestinya mendorong manusia untuk mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat beramal sebelum kembali menghadap Allah.
Sementara itu, nama Al-Qayyūm menunjukkan bahwa Allah senantiasa mengurus, memelihara, membimbing, dan mengatur seluruh makhluk-Nya tanpa pernah lalai sedikit pun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy (seraya) mengatur segala urusan. Tidak ada seorang pun pemberi syafaat, kecuali setelah (mendapat) izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka, sembahlah Dia! Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yūnus [10]:3)
Menurut Ustadz Ali Nurdin, pemahaman terhadap sifat Al-Qayyūm akan melahirkan optimisme dalam diri seorang mukmin. Seseorang yang benar-benar meyakini bahwa Allah mengatur seluruh urusan tidak akan mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan hidup. Ia tetap berikhtiar secara maksimal, namun menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Keyakinan tersebut semakin dipertegas dalam firman-Nya:
يَسْـَٔلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ
Siapa yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap hari Dia menangani urusan. (Ar-Raḥmān [55]:29)
Ayat ini menggambarkan bahwa seluruh makhluk senantiasa bergantung kepada Allah. Tidak ada satu pun urusan yang luput dari perhatian-Nya. Karena itu, seorang mukmin tidak semestinya diliputi kecemasan yang berlebihan terhadap rezeki, masa depan, ataupun berbagai persoalan hidup. Keimanan kepada Allah sebagai Al-Qayyūm melahirkan ketenangan batin sekaligus keyakinan bahwa setiap urusan berada dalam pengaturan-Nya yang Maha Bijaksana.
Al-Qur’an sebagai Kitab Penyempurna dan Keistimewaan Umat Nabi Muhammad ﷺ
Setelah menegaskan keesaan Allah melalui sifat-Nya sebagai Al-Ḥayyu dan Al-Qayyūm, Surah Ali ‘Imran melanjutkan pembahasannya dengan menjelaskan kedudukan Al-Qur’an di antara kitab-kitab samawi yang pernah diturunkan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ
Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, serta telah menurunkan Taurat dan Injil. (Āli ‘Imrān [3]:3)
Ayat ini tidak hanya menjelaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, tetapi juga memperlihatkan kesinambungan risalah para nabi. Allah telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa dan Injil kepada Nabi Isa, kemudian menyempurnakan rangkaian wahyu tersebut dengan diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau juga menjelaskan adanya perbedaan penggunaan kata nazzala dan anzala dalam Al-Qur’an. Kata nazzala menunjukkan proses penurunan secara berangsur-angsur, sedangkan anzala menunjukkan penurunan secara sekaligus. Perbedaan ini menjadi salah satu isyarat mengenai proses turunnya Al-Qur’an.
Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an mula-mula diturunkan secara sekaligus dari Lauh Mahfuz ke langit dunia (as-samā’ ad-dunyā) pada malam yang penuh keberkahan. Setelah itu, wahyu diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah ﷺ selama kurang lebih dua puluh tiga tahun sesuai dengan kebutuhan dakwah dan berbagai peristiwa yang terjadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۙ
Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas. (Ad-Dukhān [44]:2)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. (Ad-Dukhān [44]:3)
Malam diturunkannya Al-Qur’an menjadi malam yang paling mulia. Demikian pula bulan Ramadan memperoleh kemuliaannya karena menjadi waktu turunnya wahyu. Hal ini menunjukkan sebuah kaidah penting bahwa “segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan Al-Qur’an akan memperoleh kemuliaan dari Allah.”
Karena Al-Qur’an diturunkan di Makkah dan Madinah, kedua kota tersebut dimuliakan. Karena Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, malam itu menjadi malam terbaik sepanjang tahun. Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan, bulan tersebut menjadi penghulu seluruh bulan. Bahkan umat Nabi Muhammad ﷺ pun memperoleh keistimewaan karena Allah memilih mereka sebagai penerima Al-Qur’an.
Kemuliaan umat Islam ditegaskan dalam firman Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (Āli ‘Imrān [3]:110)
Menurut beliau, predikat khaira ummah bukanlah gelar yang diberikan tanpa konsekuensi. Kemuliaan umat Islam harus dibuktikan melalui tiga karakter utama yang disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan meneguhkan keimanan kepada Allah.
Kemudahan Syariat sebagai Karunia bagi Umat Ini
Keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ juga tampak pada besarnya pahala yang Allah janjikan bagi setiap amal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا ۚوَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan). (Al-An‘ām [6]:160)
Dalam banyak keadaan, pahala tersebut bahkan dapat dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:261)
Tidak hanya dalam persoalan pahala, kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ juga tampak pada dibukanya pintu taubat yang sangat luas. Jika pada sebagian umat terdahulu terdapat bentuk-bentuk taubat yang sangat berat sesuai syariat mereka (membunuh diri sendiri), maka umat Islam diberikan jalan kembali kepada Allah melalui taubat nasuha yang dilakukan dengan penuh penyesalan, meninggalkan dosa, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah [2]:54)
Sementara bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ
Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai… (At-Taḥrīm [66]:8)
Pintu taubat itu tetap terbuka selama manusia masih hidup.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar [39]:53)
Melalui ayat-ayat tersebut, Ustadz Ali Nurdin mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ. Syariat yang Allah turunkan mengandung banyak kemudahan dan keluasan rahmat. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk berputus asa dari ampunan Allah selama kesempatan hidup masih diberikan.
Al-Qur’an sebagai Al-Furqān: Pembenar dan Penjaga Wahyu Sebelumnya
Setelah menjelaskan proses turunnya Al-Qur’an dan kemuliaan umat yang menerimanya, Ustadz Dr. Ali Nurdin mengajak jamaah memahami salah satu fungsi utama Al-Qur’an, yaitu sebagai Al-Furqān, pembeda yang jelas antara kebenaran dan kebatilan. Kehadiran Al-Qur’an tidak sekadar menjadi petunjuk bagi umat Islam, tetapi juga menjadi standar untuk menilai berbagai keyakinan, ajaran, dan pandangan hidup.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
تَبٰرَكَ الَّذِيْ نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلٰى عَبْدِهٖ لِيَكُوْنَ لِلْعٰلَمِيْنَ نَذِيْرًا ۙ
Maha berlimpah anugerah (Allah) yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Al-Furqān [25]:1)
Menurut beliau, istilah Al-Furqān menunjukkan bahwa kandungan Al-Qur’an membedakan secara tegas antara yang benar dan yang salah, antara petunjuk dan kesesatan, serta antara jalan yang diridhai Allah dan jalan yang menjauhkan manusia dari-Nya. Karena itu, ketika muncul berbagai perbedaan pandangan dalam persoalan akidah maupun syariat, seorang Muslim diperintahkan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama.
Fungsi tersebut semakin dipertegas dalam firman Allah:
وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). Maka, putuskanlah (perkara) mereka menurut aturan yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan (meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan. (Al-Mā’idah [5]:48)
Ayat ini menjelaskan dua fungsi penting Al-Qur’an. Pertama, sebagai muṣaddiq, yaitu membenarkan wahyu-wahyu yang sebelumnya benar-benar berasal dari Allah. Kedua, sebagai muhaymin, yakni penjaga, pengawas, sekaligus acuan untuk menilai kandungan kitab-kitab terdahulu. Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi standar yang digunakan untuk membedakan mana ajaran yang tetap sesuai dengan wahyu Allah dan mana yang telah mengalami penyimpangan menurut penjelasan Al-Qur’an.
Al-Qur’an Mengonfirmasi Sekaligus Meluruskan
Islam mengimani Taurat dan Injil sebagai kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul-Nya. Namun, Al-Qur’an juga menginformasikan bahwa sebagian Ahlul Kitab menyembunyikan atau mengubah sebagian keterangan yang telah mereka ketahui.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sekelompok dari mereka pasti menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka mengetahui(-nya). (Al-Baqarah [2]:146)
Ayat ini menunjukkan bahwa kabar tentang kenabian Muhammad ﷺ telah dikenal oleh sebagian ahli kitab, bahkan dikenal seperti anak sendiri. Akan tetapi, Al-Qur’an mengabarkan bahwa tidak semua di antara mereka bersedia menyampaikan kebenaran tersebut kepada masyarakat.
Al-Qur’an juga menjelaskan adanya sebagian pihak yang memutarbalikkan bacaan atau penisbatan terhadap kitab suci.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Sesungguhnya di antara mereka (Bani Israil) ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu bukan dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui. (Āli ‘Imrān [3]:78)
Selain itu, Al-Qur’an juga mengaitkan sikap penolakan sebagian Ahlul Kitab dengan kedengkian setelah datangnya penjelasan yang nyata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۚ فَاعْفُوْا وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Banyak di antara Ahlulkitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka, maafkanlah (biarkanlah) dan berlapang dadalah (berpalinglah dari mereka) sehingga Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah [2]:109)
Meskipun demikian, Ustadz Ali Nurdin menekankan bahwa respons yang diajarkan Al-Qur’an bukanlah kebencian, melainkan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Allah serta menjadikan Al-Qur’an sebagai tolok ukur dalam memahami persoalan agama.
Kebenaran Akan Tetap Bertahan
Sebagai penutup pembahasan mengenai fungsi Al-Qur’an sebagai pembeda, Ustadz Ali Nurdin mengutip perumpamaan indah yang Allah berikan tentang hak dan batil.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ ۢ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۗ… فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءً ۚوَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْاَرْضِۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ
Dia telah menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air itu di lembah-lembah sesuai dengan ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang… Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang hak dan batil. Buih akan hilang tidak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di dalam bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. (Ar-Ra‘d [13]:17)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebatilan mungkin tampak besar dan menonjol sebagaimana buih di permukaan air. Namun, sifatnya hanya sementara. Sebaliknya, kebenaran yang berasal dari Allah akan tetap bertahan dan terus memberi manfaat bagi manusia. Karena itu, seorang Muslim hendaknya membangun kehidupannya di atas nilai-nilai yang benar, sebab hanya kebenaran yang akan bertahan hingga akhir.
(QnA) Hidayah, Doa Keluarga, dan Menjaga Nilai-Nilai Agama
Selain mengokohkan keyakinan terhadap Al-Qur’an dan tauhid, Ustadz Dr. Ali Nurdin mengingatkan bahwa petunjuk (hidayah) merupakan karunia yang sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Manusia memiliki kewajiban menyampaikan kebenaran, mengajak kepada jalan-Nya, serta berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Namun, keputusan akhir mengenai siapa yang menerima hidayah tetap menjadi hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal tersebut tampak dalam kisah Nabi Muhammad ﷺ yang sangat menginginkan pamannya, Abu Thalib, memperoleh hidayah. Meskipun beliau telah berusaha dengan penuh kasih sayang, Allah menegaskan bahwa hidayah tidak dapat dipaksakan oleh siapa pun. Seperti matahari yang terus bersinar, tapi beberapa orang memang enggan beranjak dari tempatnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al-Qaṣaṣ [28]:56)
Demikian pula ketika seseorang terus-menerus menolak kebenaran yang telah datang kepadanya, Allah menjelaskan bahwa hati mereka dapat dipalingkan dari petunjuk sebagai konsekuensi atas pilihan mereka sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
Maka, ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Aṣ-Ṣaff [61]:5)
Ayat-ayat tersebut mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang Muslim tidak boleh berhenti berdakwah atau mendidik keluarganya hanya karena hasilnya belum tampak. Sebaliknya, ia juga tidak boleh merasa bahwa dirinya mampu memberikan hidayah kepada orang lain. Yang dapat dilakukan manusia adalah menyampaikan dengan hikmah, memberi teladan, dan terus memanjatkan doa.
Pentingnya Mendoakan Anak dan Keturunan
Salah satu bentuk ikhtiar yang tidak boleh diabaikan adalah doa untuk keluarga. Dalam pandangan Islam, keluarga bukan hanya amanah yang harus dipenuhi kebutuhan lahiriahnya, tetapi juga harus dijaga keimanan dan ketakwaannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya yang saleh:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Dan, orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami) serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqān [25]:74)
Doa tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan seorang Muslim tidak hanya diukur dari keberhasilan duniawi, tetapi juga dari hadirnya keluarga yang taat kepada Allah. Anak-anak yang tumbuh dalam keimanan merupakan nikmat yang jauh lebih besar daripada berbagai capaian materi.
Hal senada tampak dalam doa Nabi yang diabadikan Al-Qur’an:
رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۚ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, untuk mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai, serta perbaikilah untukku (agama) anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim. (Al-Aḥqāf [46]:15)
Dalam kajian ini, Ustadz Ali Nurdin mengingatkan bahwa boleh jadi keimanan dan berbagai kebaikan yang kita rasakan hari ini merupakan buah dari doa orang tua, kakek-nenek, atau para pendahulu yang tidak pernah berhenti memohonkan kebaikan kepada Allah bagi keturunannya. Karena itu, setiap orang tua hendaknya menjadikan doa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ikhtiar mendidik anak-anaknya.
Menjaga Nilai-Nilai Agama dengan Hikmah
Pada bagian akhir kajian, Ustadz Ali Nurdin menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai agama di tengah berbagai tantangan zaman. Seorang Muslim tidak hanya dituntut menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat melalui amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan dengan hikmah, kelembutan, dan cara-cara yang dibenarkan syariat.
Dalam konteks ini, beliau mengingatkan kisah kaum Nabi Luth sebagai pelajaran tentang penyimpangan seksual yang dikisahkan Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ
Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sesungguhnya kamu benar-benar melampiaskan syahwat kepada sesama laki-laki, bukan kepada perempuan. Bahkan, kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Al-A‘rāf [7]:80–81)
Selain itu, Al-Qur’an juga memberikan peringatan kepada umat agar tidak membiarkan kemungkaran berlangsung tanpa adanya upaya saling mengingatkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
Mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka perbuat. (Al-Mā’idah [5]:79)
Amar ma’ruf nahi munkar bukanlah ajakan untuk menghakimi orang lain, melainkan bentuk kepedulian agar masyarakat tetap berada di jalan yang diridhai Allah. Karena itu, nasihat hendaknya disampaikan dengan ilmu, kebijaksanaan, serta kasih sayang, sebagaimana tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Penutup
Enam ayat pertama Surah Ali ‘Imran menghadirkan fondasi yang kokoh bagi kehidupan seorang Muslim. Dimulai dengan penegasan tentang kemurnian Al-Qur’an, dilanjutkan dengan penguatan tauhid melalui pengenalan terhadap sifat-sifat Allah, kemudian penjelasan mengenai kedudukan Al-Qur’an sebagai penyempurna wahyu, hingga pentingnya memohon hidayah dan menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupan.
Melalui kajian ini, Ustadz Dr. Ali Nurdin mengajak umat Islam untuk tidak berhenti menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan yang dilantunkan, tetapi sebagai petunjuk yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Ketika Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup, tauhid akan semakin kokoh, ibadah akan semakin bermakna, dan kehidupan akan dipenuhi dengan ketenangan karena seluruh urusan disandarkan kepada Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mencintai Al-Qur’an, menjaga kemurnian ajarannya dalam kehidupan, serta mengakhiri usia kita dalam keadaan beriman dan berserah diri kepada-Nya. Āmīn.
Ditulis oleh: Melinda Aprilyanti
Berdasarkan kajian: Assoc. Prof. Dr. Ali Nurdin, M.A., C.A.H.
