Search

Infak bagi Para Faqir yang Menjaga Martabatnya (Tafsir Surah Al-Baqarah 273)

Infak bagi Para Faqir yang Menjaga Martabatnya (Tafsir Surah Al-Baqarah 273)
Catatan Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono (7 Desember 2025) bersama KH. Dr. Ali Nurdin, MA – (part 2)

Infak bagi Para Faqir yang Menjaga Martabatnya

Prioritas Infak bagi Para Faqir yang Menjaga Martabatnya (Tafsir Surah Al-Baqarah 273)

Dalam lanjutan Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono, KH. Dr. Ali Nurdin mengajak jamaah menelusuri kedalaman Surah Al-Baqarah ayat 273—sebuah ayat yang tidak hanya berbicara tentang infak, tetapi tentang martabat manusia, etika sosial, dan cara Allah menata solidaritas umat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ  تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ  لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ࣖ

(Apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Tahu tentang itu. (Al-Baqarah  [2]:273)

Baca Part 1: Tafsir Al-Baqarah (2): 272: Hidayah Milik Allah, Namun Kebaikan adalah Milik Kita

Ayat ini menggambarkan satu kelompok faqir yang istimewa : mereka yang terhalang dari usaha duniawi karena sepenuhnya mengabdikan diri fii sabiilillaah (di jalan Allah). Pada masa Nabi, kelompok ini merujuk pada para sahabat yang berjuang bersama Rasulullah—meninggalkan pekerjaan, berdiri di garis terdepan dakwah, namun tetap menjaga kehormatan sehingga tidak pernah meminta-minta. Saking terjaganya harga diri mereka, orang yang tidak mengenal situasi mengira mereka kaya, padahal mereka adalah orang-orang yang paling membutuhkan.

KH. Ali Nurdin menegaskan bahwa di masa kini, ulama memperluas makna fī sabīlillāh. Ia tidak lagi terbatas pada jihad fisik, tetapi mencakup siapa saja yang serius berkhidmat kepada agama, siapa pun yang waktunya tersita untuk menguatkan agama Allah: para santri, pengajar, ataupun aktivis dakwah yang mengorbankan waktu produktif demi pelayanan kepada umat. Mereka bekerja tanpa banyak sorotan, tetapi kehadirannya menjaga keberlanjutan ilmu, akhlak, dan spiritualitas masyarakat.

Membantu mereka adalah investasi kebaikan jangka panjang. Ilmu yang mereka pelajari akan diajarkan kepada generasi berikutnya; pahala akan mengalir dari murid ke guru, dari guru kepada siapa pun yang dahulu membantu proses belajar mereka. Sebuah “MLM kebaikan” yang sah, halal, dan berkah, sebagaimana disampaikan KH. Ali Nurdin dengan bahasa yang hangat dan mengena.

Mengemis sebagai Profesi dan Etika Bekerja dalam Islam

Menariknya, ayat ini juga menyentuh sisi lain: para faqir yang mulia itu tidak meminta-minta dengan paksa. Perlu diketahui bahwa:

  • Mengemis pada dasarnya adalah sesuatu yang dilarang, kecuali dalam keadaan sangat darurat.
  • Menjadikan mengemis sebagai profesi bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah tidak membiarkan manusia terombang-ambing dalam ketergantungan. Ia telah memberi akal, tenaga, kemampuan belajar, dan peluang bergerak. Karena itu Al-Qur’an mendorong manusia untuk berkarya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]:105)

Bumi sendiri dibentangkan sebagai ruang kreativitas dan ikhtiar:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al-Mulk [67]:15

Islam, dengan demikian, bukan agama yang mendorong ketergantungan, melainkan agama yang mengajarkan kemandirian, produktivitas, dan penghargaan terhadap usaha.

Penyesalan Orang yang Tidak Berinfak

Al-Qur’an kemudian mengingatkan satu adegan tragis: penyesalan seseorang ketika sakaratul maut. Pada saat itulah ia memohon agar diberi sedikit waktu lagi—bukan untuk memperbaiki ibadah tertentu, tetapi untuk bersedekah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (Al-Munāfiqūn [63]:10)

Namun waktu itu tidak akan kembali.

Karena itu Al-Qur’an berkata dengan tegas:

وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهِ
“Siapa yang kikir, maka ia sesungguhnya kikir terhadap dirinya sendiri…” (Muhammad [47]:38)

Orang yang enggan berinfak bukan sedang menghemat hartanya—ia sedang memutus aliran pahala yang seharusnya menjadi tabungan akhiratnya. Dan ketika kesadaran itu datang, sering kali semuanya sudah terlambat.

Penutup: Infak sebagai Jalan Memuliakan Diri

Melalui kajian ini, KH. Dr. Ali Nurdin menggarisbawahi bahwa infak bukan semata tindakan memberi; ia adalah jalan memuliakan diri dan meneguhkan martabat orang lain. Ayat ini menata ulang cara kita melihat “kemiskinan”, “kerja”, dan “pengabdian”. Bahwa ada orang yang tampak berkecukupan padahal menyembunyikan kesulitannya dengan penuh kehormatan. Ada orang yang hidupnya didedikasikan untuk agama, tetapi membutuhkan dukungan kita. Dan ada pula kita—yang diberi kelapangan waktu dan rezeki—yang akan menyesal jika tidak mempersembahkan sebagian dari karunia itu sebelum terlambat.

Infak, pada akhirnya, adalah jembatan spiritual antara kelapangan yang kita miliki dan keberkahan yang kita harapkan. Ia menumbuhkan jiwa, menegakkan agama, menjaga martabat sesama, dan menata ulang orientasi hidup kita menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta‘ala.