
Cinta Dunia yang Membutakan: Bahaya Menunda Persiapan Akhirat
Di terminal transportasi umum, kita sering mendengar panggilan untuk penumpang dengan pengeras suara: “Attention please, last call…!” Biasanya ada beberapa tahap panggilan peringatan (paging). Apa tujuannya? Supaya penumpang bersiap dan barang bawaannya tidak tertinggal.
Kita semua adalah penumpang yang sedang berada di terminal dunia. Satu yang kita tunggu adalah ‘paging’. Tidak pernah ada istilah, kita akan tertinggal di terminal dunia. Semuanya pasti ‘diberangkatkan’ ke tujuan akhir. Beberapa stasiun akan kita singgahi: stasiun sakaratul maut, alam Barzakh, Mahsyar, Mizan, Qanthorah (setelah shirath). Dan semua akan berlabuh di tempat yang telah mereka usahakan dengan sungguh-sungguh sewaktu mereka hidup di dunia; Surga atau Neraka.
Apa yang mereka rasakan saat itu? Kesenangan yang melampaui batas imajinasinya, atau penderitaan tanpa jeda yang tidak terbayangkan? Bagaimana mereka bisa berada di tempat itu? Hanya dua alasan penyertainya: mereka sangat memperhatikan apa yang harus mereka bawa dan last call, atau menjejali diri hanya dengan kesibukan urusan dunia saja.
Baca juga: Mengapa Bertanya Penting dalam Proses Hijrah dan Memahami Islam
Ada dua kebencian yang seringkali membuat manusia terperosok: benci dengan kematian dan harta yang sedikit. Padahal kematian seharusnya merupakan gerbang menuju kehidupan premium ultimate. Sedikitnya harta, membuat hisab menjadi lebih mudah dan ringan.
Buta hati manusia, karena terlalu amat sangat mencintai dunia (harta). Pemicu pertikaian dalam interaksi sosial, bahkan dalam keluarga sekalipun adalah harta.
Allah berfirman:
وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ
“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan” (QS 100:8)
Hanya mereka yang beriman kepada Allah dan mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, yang akan tercukupkan dengan harta yang berada di tangan mereka, bukan harta yang tertambat di hati mereka. Makanan yang kita konsumsi akan keluar setelah enam jam. Pakaian yang kita sandang akan lapuk. Hanya harta yang digunakan untuk ketakwaan kepada Allah yang akan menjadi bekal kehidupan selanjutnya.
Bisa jadi, tulisan ini adalah last call untuk sebagian ‘penumpang’ yang sedang berada di terminal penantian.
