Search

Mengapa Bertanya Penting dalam Proses Hijrah dan Memahami Islam

Mengapa Bertanya Penting dalam Proses Hijrah dan Memahami Islam

Mengapa Bertanya Penting dalam Proses Hijrah dan Memahami Islam

Allah berfirman:

۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata; “Kami telah beriman” Katakanlah (kepada mereka); “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah; “Kami telah tunduk (Islam)” Karena iman belum masuk ke dalam hatimu Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS 49:14)

Sebagian kita mengenal Islam, baru dalam batasan atributnya: sholat, shaum, zakat, haji, dan sebagainya. Sedangkan iman, menuntut adanya ekspresi kebathinan yang jauh lebih dalam, menapaki jejak keyakinan yang sejujurnya atas ke-Taukhid-an.

Bisa jadi ada orang yang sholat, tapi memiliki motif lain selain karena Allah. Berapa banyak mereka yang sholat Dhuha, termotivasi karena berbungkus harapan mudah mendapat rezeki. Atau membaca al-Qur’an surat tertentu, karena motif keduniawian. Lalu di mana keikhlasan ibadah yang sepenuhnya berbungkus LILLAH?

Hijrah bisa berarti berkesungguhan, menumpahkan segala keseriusan untuk mengenal, memahami, dan mengamalkan ketaatan kepada Allah. Meraciknya menjadi perilaku keseharian secara permanen. Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Ketaatan yang tidak luntur karena motif lain.

Sebagian besar orang mengalami hambatan besar untuk hijrah. Penghambatnya adalah: BERTANYA! Tanyalah apa yang kita butuhkan, kepada mereka yang memiliki cukup kapasitas dan jujur terhadap masalah syariat. Kitalah yang menyesuaikan kemampuan, untuk beradaptasi dengan ajaran syariat. Bukan syariat yang harus menyesuaikan. Bukan sekedar cocok dengan yang dimaui.

Baca juga: Kekaguman Melahirkan Cinta: Belajar Bersyukur dan Mencintai Allah

Bagaimana kita tahu tentang hidup setelah mati, yang segala perkara diputuskan dengan adil? Semua agama memberikan janji surga, sebagai puncak balasan Tuhan bagi mereka yang meyakininya. Dengan bertanya, kita bisa mendapat jawaban yang jauh lebih menyeluruh bahwa Islam tidak demikian. Puncak dari segala kenikmatan dalam Islam adalah perjumpaan dengan wajah Allah. Allah ridho kepada kita dan kita pun ridho kepada Allah.

Dari mana kita mendapat jawaban yang agung tentang ke-Maha-an Allah, jika kita kering dalam bertanya?

Allah berfirman:

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui” (QS 16:43)

Entah berapa puluh ayat dalam al-Qur’an yang berhubungan dengan bertanya.

Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui sesuatu jika mereka enggan untuk bertanya. Bukankah kita juga suka searching? Lalu bagaimana kita bisa selamat jika semua pertanyaan atas ketidaktahuan kita terus mengendap di beranda rasa malu? Orang pintar bukan karena mereka unggul dalam banyak pengetahuan, tapi karena lebih dahulu mengetahui dengan bertanya.

Dengan bertanya; kinijaditau