
Kekaguman Melahirkan Cinta: Belajar Bersyukur dan Mencintai Allah
Bukan kesulitan yang membuat manusia takut, tapi ketakutan yang membuat manusia jadi sulit. Meski ketakutan adalah hal yang manusiawi, bukan berarti ketakutan menjadi penghalang utama, untuk manusia lepas dari kesulitan.
Ketakutan terbesar manusia, terjadi saat rasa cintanya terancam. Cinta kepada apapun, karena tidak ada satupun yang menjamin, cinta mereka tidak akan terhenti, punah dan meninggalkan jejak.
Kekagumanlah yang melahirkan cinta. Benihnya tumbuh dari pengenalan. Apakah ada cinta yang tidak terhenti? Tentu ada… Allah Maha Mencintai. Maka cintailah Allah saja. Tidak boleh ada yang lain selain Allah. Jika kita mencintai sesuatu, maka pastikanlah, bahwa itu karena Allah. Pun sebaliknya, jika kita membenci, itu juga karena Allah.
Karakteristik cinta ditandai dengan; Kita akan bersiap sedia melakukan sesuatu karena cinta, meski itu berat. Kita tidak sudi menerima atau melakukan sesuatu, meski hal itu sangat kita gandrungi. Sehingga kita merasa tidak berlebihan dalam mencintai diri kita sendiri, melebihi cinta kita kepada Allah. Melepaskan cinta kita kepada Allah, karena berpaling mencintai selain Dia. Sama seperti kita melepaskan ikatan yang kokoh terhadap cinta.
Baca juga: Takdir dan Kehendak Bebas: Perspektif Islam yang Memberdayakan
Masih terasa sulitkah…? Jika iya!, maka bertanyalah kita kepada diri kita sendiri. Apakah alasannya kita sangat mencintai anak kita? Jika harta yang paling dicintai dan berharga adalah anak kita. Lalu apa balasan dari mereka? Apakah kita sudah memberi balasan yang setimpal terhadap orang tua kita? Aneh.., sangat aneh bukan!
Allah tidak sedikitpun meminta balasan cinta-Nya kepada kita. Yang Allah kehendaki adalah, rasa syukur kita kepada Allah atas seluruh Cinta-Nya. Tidak lebih dari itu..!
Apa itu syukur? Mengerahkan segala sumber daya yang kita miliki, hanya untuk mengagungkan ke-Maha-an-Nya. Kagumlah dengan Cinta-Nya. Yang sudah ditorehkan melalui tanda-tanda semesta. Meski bertahap, pahamilah Al-Quran, maka kita akan memahami dan menikmati cinta itu, sampai kerelung imajinasi tidak berbatas.
Jika disederhanakan;
Siapapun yang menerima nikmat dari Allah, itu berarti mereka berhutang kepada Allah. Bagaimana membayarnya? Bayarlah dengan segenap rasa syukur, yang diwujudkan melalui Amal Saleh.
Dengan begitu maka; Orang kaya adalah orang yang banyak hutangnya pada Allah, karena mereka lebih banyak mereguk nikmat Allah. Dengan kekayaan itu, mudah-mudahan mereka akan memperoleh kekayaan yang jauh lebih besar di akhirat kelak.
Mereka yang sedikit hutangnya adalah orang miskin, bahkan disebabkan kesabarannya, mereka telah mengundang datangnya Rahmat Allah. Dan itu adalah anugerah yang agung.Sehingga kekayaan atau kemiskinan, bkn menjadi ukuran penilaian seseorang dihadapan Allah
Tetapi ketaqwaan yg dilandasi oleh rasa syukur kpd Allah
Semoga kita menjadi slh satunya
