Penulis: KGS. M. Faturrahman*
Editor: Melinda Aprilyanti

Siapa Syekh Abdul Qadir al-Jailani?
Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله adalah salah satu ulama besar dalam sejarah Islam yang namanya harum hingga hari ini. Beliau dikenal sebagai imam besar, ahli fikih, sufi, pendidik umat, sekaligus pendiri Tarekat Qadiriyah. Namun, kemuliaan ilmunya tidak diraih secara instan. Di balik ketokohan beliau, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh kesabaran dan keikhlasan dalam menuntut ilmu.
Perjalanan Hijrah Menuntut Ilmu ke Baghdad
Syekh Abdul Qadir al-Jailani lahir di Jilan (Persia) pada tahun 470 H. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu dan agama. Pada usia remaja, beliau meninggalkan kampung halamannya menuju Baghdad, yang saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan hijrah besar yang penuh risiko, keterbatasan, dan ujian hidup.
Allah ﷻ berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
(QS. Thaha: 114)
Baca Juga: BELAJAR SEMANGAT DARI HASAN AL-BASHRI
Ujian Berat dalam Menuntut Ilmu
Ayat ini seakan menjadi doa yang hidup dalam perjalanan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Di Baghdad, beliau hidup dalam kesederhanaan yang sangat berat. Diriwayatkan bahwa beliau pernah bertahun-tahun menahan lapar, bahkan memakan dedaunan dan sisa makanan di jalan demi bertahan hidup, agar tetap bisa menghadiri majelis-majelis ilmu.
Rasulullah ﷺ memberikan motivasi agung tentang keutamaan mencari ilmu. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Hadis ini nyata dalam kehidupan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Meski hidup dalam kesempitan, beliau tidak pernah meninggalkan majelis ilmu. Beliau belajar fikih kepada ulama besar madzhab Hanbali, serta mendalami hadis, tafsir, bahasa Arab, dan ilmu tasawuf dari para guru terkemuka di Baghdad.
Selain lapar dan kemiskinan, ujian terbesar beliau adalah melawan hawa nafsu dan godaan dunia. Syekh Abdul Qadir al-Jailani memilih jalan zuhud, menjaga keikhlasan niat, serta membersihkan hati sebelum menyampaikan ilmu. Inilah yang menjadikan ilmunya bercahaya dan berpengaruh lintas generasi.
Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Baca Juga: Uwais Al Qarni: Tak Dikenal di Bumi tetapi Terkenal di Langit
Menjadi Ulama Besar dan Guru Umat
Setelah puluhan tahun menuntut ilmu dan menyucikan jiwa, Syekh Abdul Qadir al-Jailani pun diizinkan Allah untuk mengajar dan berdakwah. Majelisnya dipenuhi ribuan murid, bahkan banyak ulama besar hadir untuk mengambil faidah dari nasihat-nasihatnya.
Imam Adz-Dzahabi رحمه الله berkata tentang beliau:
“Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah imam, teladan, alim dalam syariat, dan tinggi dalam hakikat.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani sendiri pernah berpesan:
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan.”
Pesan ini menegaskan bahwa tujuan menuntut ilmu bukan sekadar meraih kepandaian, melainkan membentuk akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah.
Hikmah untuk Penuntut Ilmu Zaman Sekarang
Kisah perjuangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan bahwa ilmu membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan. Tidak ada keberkahan ilmu tanpa kesungguhan. Di tengah kemudahan zaman modern, teladan beliau menjadi cermin agar para penuntut ilmu tidak mudah mengeluh, apalagi menyerah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai ilmu, bersabar dalam proses, dan diberkahi sebagaimana para ulama salaf. Aamiin.
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
