Ujian Besar di Balik Nikmat dan Hikmah di Balik Kesulitan dalam QS. Ibrahim/14 Ayat 6-7
Mujiba Shafwatil Millah*
jibamillah@gmail.com

Menanamkan rasa syukur kepada diri sendiri atas nikmat Allah karena memiliki dampak positif pada kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Bersyukur membuat hati tenang dan stabil, yang membuat hidup lebih tenang dan damai. Selain itu rasa syukur juga dapat membantu mengurangi risiko penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong serta mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Oleh karena itu, menginternalisasi rasa syukur sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam Surat Ibrahim ayat 6-7 sangat penting untuk mempertahankan hubungan yang harmonis dengan Allah dan memperoleh keberkahan dan nikmat tambahan dalam hidup yang dapat menumbuhkan kesadaran dan keteguhan iman.
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ اَنْجٰىكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗوَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ ࣖ وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup (anak-anak) perempuanmu (untuk disiksa dan dilecehkan). Pada yang demikian itu terdapat suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu.” Ibrāhīm [14]:6 “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” Ibrāhīm [14]:7
Mengkaji ayat-ayat ini menjadi sangat penting, agar setiap muslim dapat mengambil pelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menghadapi ujian maupun dalam mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah.
Ujian Besar di Balik Nikmat, Hikmah di Balik Kesulitan
Munasabah Ayat 6-7
Dalam ayat 6, Allah mengingatkan umat manusia melalui kisah Nabi Musa yang menasihati kaumnya, Bani Israil, agar mereka selalu mengingat nikmat Allah ketika mereka diselamatkan dari keingintahuan dan kejahatan Fir’aun. Anak-anak Bani Israil disembelih, sementara anak-anak perempuan dibiarkan hidup dalam kehinaan. Penyelamatan dari berjongkok Fir’aun adalah kenikmatan besar sekaligus ujian dari Allah untuk melihat apakah mereka akan berterima kasih dan mengikuti ajaran Nabi Musa atau sebaliknya.
Selanjutnya ayat 7 menegaskan prinsip utama dalam hubungan manusia dengan nikmat Allah: siapa yang bersyukur akan mendapat nikmat tambahan, sedangkan siapa yang kufur akan menghadapi azab yang mengerikan. Ayat ini menunjukkan pentingnya sikap bersyukur sebagai cara untuk mendapatkan lebih banyak nikmat dan sebagai cara untuk mengakui kemurahan hati Allah.
Baca Juga: PESAN DAN HIKMAH DALAM SURAH LUQMAN AYAT 17
Kajian Penafsiran
- Dalam Tafsir Al-Munir (2013:208), dijelaskan (وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ) pada apa yang disebutkan kepada kalian terdapat ujian yang besar dari Tuhan kalian, baik itu berbentuk kesengsaraan dan bencana maupun nikmat dan kesenangan, agar dapat diketahui apakah ia bersyukur ataukah kufur. Sesungguhnya mensyukuri nikmat dapat menambahkan nikmat. Dan sifat kufur dapat mengurangi bahkan menghilangkan nikmat. Barangsiapa yang kufur terhadap nikmat Allah SWT, berarti ia adalah orang yang jahil dan tidak mengenal Allah SWT, sementara jahil dan tidak mengenal Allah akan mendatangkan hukuman dan adzab. Maksud (وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ) adalah kufur nikmat, bukan kafir.
- Dalam Tafsir Ath-Thabari (2007:440), yang disebutkan disini adalah berita tentang nikmat Allah kepada kaum Musa dalam firman-Nya, وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, ingatlah nikmat Allah atasmu” Kemudia mereka diberitahu bahwa jika mereka mensyukuri nikmat-nikmat ini, maka Allah akan menambahkannya untuk mereka. Artinya, “jika kalian bersyukur dan menaati-Ku dengan terima kasih, maka Aku akan menambahkan kepada kalian faktor-faktor yang membantu kalian untuk bersyukur”. Dengan demikian, pendapat ini tersebar luas. Firman-Nya, وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ “Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. ia berkata, “jika kalian kufur terhadap nikmat Allah, dengan tidak mensyukuri dan menentang perintah-Nya serta larangan-Nya, dan berbuat maksiat kepada-Nya, maka Aku akan mengadzab kalian sebagaimana Aku mengadzab makhluk-Ku yang kufur kepada-Ku”.
- Tafsir Ibnu Katsir (1999:937), dalam kitabnya mengatakan, jika mensyukuri nikmat Allah maka Dia akan memberi tambahan nikmat kepadamu. Namun jika mengingkarinya nikmat tersebut maka akan mendapatkan adzab Allah yang sangat keras, yaitu dengan merampas nikmat itu darimu. Kemudian Musa berkata, ‘Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya berbuat ingkar, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’. Yakni Allah Maha Kaya sehingga tidak memerlukan syukur hamba-hamba-Nya. Dia maha Terpuji, walaupun Dia dikufuri oleh orang-orang yang mengkufurinya. Penggalan ini seperti firman Allah ta’ala, “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari (memerlukan_mu”. Maha Suci Allah.
Baca Juga: MAKNA “HIKMAH” DALAM AL-QUR’AN: Karunia Besar yang Mengantarkan pada Kebaikan
Menurut Ibnu Katsir, para dukun Mesir meramalkan bahwa seorang anak dari Bani Israil akan menghancurkan kerajaan Fir’aun, yang menyebabkan penyembelihan anak laki-laki Bani Israil. Penolakan ini merupakan ujian besar dari Allah. Pada ayat ketujuh, Ibnu Katsir menegaskan kekuatan dan keadilan Allah dengan mengatakan bahwa Dia berjanji untuk menambah nikmat bagi mereka yang bersyukur dan menanggung azab bagi mereka yang ingkar.
- Tafsir Jalalain (Jilid 1: 962), dijelaskan (وَيَسْتَحْيُوْنَ) dan membiarkan tetap hidup, (نِسَاۤءَكُمْ ) karena ada sebagian tukang tenun yang mengatakan bahwasannya akan lahir seorang anak lelaki dari kalangan Bani Israil, dia adalah penyebab bagi runtuhnya kerajaan Fir’aun. Al-Jalalain menekankan bahwa perintah untuk mengingat nikmat Allah adalah peringatan kepada Bani Israil untuk mengingat peristiwa penyelamatan Fir’aun. Penyembuhan anak laki-laki dan membiarkan anak perempuan hidup merupakan tantangan yang signifikan. Pada ayat 7, penafsiran Al-Jalalayn menegaskan bahwa sebagai sunnatullah yang berlaku umum, syukur dan tingkatkan nikmat memiliki hubungan langsung satu sama lain. Dalam ayat 6-7, keempat mufassir ini sepakat bahwa mengingat nikmat Allah, diuji dengan penolakan, dan bagaimana syukur dan kufur nikmat berdampak pada kehidupan manusia.
Hikmah dan Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, dapat dilihat betapa pentingnya bersyukur atas nikmat Allah, Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur bukan sekedar ucapan, tetapi harus dilakukan dengan memanfaatkan nikmat Allah sesuai ridha-Nya. Allah berjanji bahwa orang yang bersyukur akan menerima lebih banyak kenikmatan daripada kekufuran mereka.
Jika seseorang mengingkari atau kufur, Allah akan menimpakan mereka dengan azab yang mengerikan. Ayat ini, sebagai sunnatullah yang umum, menunjukkan hubungan langsung antara bersyukur dan peningkatan kenikmatan serta kufur nikmat dapat mendatangkan azab. Kufur nikmat, di sisi lain, dapat mengakibatkan kerugian dan kesulitan. Oleh karena itu, pesan utama dari ayat ini adalah betapa pentingnya mengingat dan mensyukuri nikmat Allah terutama saat kita menghadapi tantangan hidup, dengan bersyukur akan melahirkan ketenangan jiwa dan meningkatkan kualitas hidup. Ini karena mensyukuri nikmat Allah adalah kunci ketenangan dan kebahagiaan. Orang-orang yang bersyukur cenderung lebih sabar, optimis, dan mampu mengatasi tantangan hidup dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Syarbini, Amirulloh dan Haryadi, Jumari. (2010). Dahsyatnya Sabar, Syukur & Ikhlas Muhammad SAW . Bandung: Ruang Kata, Cet. 1.
Ibnu Jarir at-Thabari. Terj. Tafsir Thabari. September 2007. Jakarta : Pustaka Azzam. Jilid 15 hal. 440.
Tafsir Ibnu Katsir. Muhammad Nasib ar-Rifa’i terj. Drs. Syihabuddin. (1999). Jakarta: Gema Insan. Jilid 2:937
Terj. Tafsir Jalalain. (Jilid 1 : 962). Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Fatihah s.d Al-Isra’: Sinar Baru Algensindo.
Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Al-Munir. 2013. Jakarta: Gema Insani. Jilid 7 hal. 208.
*Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta
Facebook : Jibaa
Twitter :@Millaaa
Instagram : @Jiba04.__
