Search

Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 9–11: Kepastian Hari Akhir, Nilai Keimanan, dan Luasnya Ampunan Allah

Tafsir

Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 9–11: Kepastian Hari Akhir, Nilai Keimanan, dan Luasnya Ampunan Allah

Keimanan kepada hari akhir merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan seorang Muslim. Keyakinan bahwa seluruh manusia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya bukan sekadar ajaran tentang kehidupan setelah kematian, melainkan juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan memperoleh balasan yang adil di sisi Allah. Sebaliknya, tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari perhitungan-Nya.

Dalam Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono, Ustadz Assoc. Prof. Dr. Ali Nurdin, M.A., C.A.H. menjelaskan kandungan Surah Ali ‘Imran ayat 9–11 yang menegaskan kepastian hari kebangkitan, keterbatasan harta dan keluarga dalam menyelamatkan manusia dari azab Allah, serta akibat dari sikap mendustakan kebenaran.  Beliau mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah bagian sementara dari perjalanan manusia. Karena itu, kesempatan hidup semestinya digunakan untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat yang sesungguhnya.

Kepastian Hari Kebangkitan dan Berkumpulnya Manusia di Padang Mahsyar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ࣖ

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (Āli ‘Imrān [3]:9)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari doa yang diajarkan Allah pada ayat sebelumnya, yakni permohonan agar hati orang-orang beriman senantiasa diteguhkan dalam petunjuk-Nya. Setelah memohon keteguhan iman, ayat kesembilan mengingatkan tentang sebuah peristiwa yang pasti akan dialami seluruh manusia, yaitu hari kebangkitan.

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa setiap manusia yang pernah hidup di dunia akan mengalami kematian, kemudian dibangkitkan dan dikumpulkan kembali di sebuah tempat yang disebut Padang Mahsyar. Peristiwa tersebut bukanlah sesuatu yang masih diragukan, sebab Allah sendiri telah menjanjikan kedatangannya.

Gambaran mengenai keadaan Padang Mahsyar dijelaskan dalam firman Allah:

وَاَشْرَقَتِ الْاَرْضُ بِنُوْرِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتٰبُ وَجِايْۤءَ بِالنَّبِيّٖنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

Bumi (padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhannya, buku (catatan amal) diberikan (kepada setiap orang), para nabi dan para saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil dan mereka tidak dizalimi. (Az-Zumar [39]:69)

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana seluruh manusia kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah. Catatan amal diperlihatkan, para saksi dihadirkan, dan keputusan diberikan dengan keadilan yang sempurna.

Namun, bumi yang menjadi tempat berkumpulnya manusia pada hari tersebut tidak lagi sama dengan bumi yang dihuni sekarang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. Mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrāhīm [14]:48)

Ayat ini menunjukkan bahwa bumi dan langit akan mengalami perubahan dari keadaan yang dikenal manusia saat ini. Meskipun tetap disebut sebagai bumi dan langit, struktur, kapasitas, serta kondisinya berbeda dari kehidupan dunia. Keadaan itulah yang berkaitan dengan gambaran tempat berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan. Di tengah situasi yang demikian berat, umat Islam memiliki harapan untuk memperoleh syafaat Rasulullah ﷺ atas izin Allah. Ustadz Ali Nurdin mengingatkan bahwa amal ibadah manusia tidak pernah terlepas dari kekurangan. Karena itu, seorang mukmin tidak sepatutnya hanya mengandalkan amalnya sendiri, tetapi juga berharap kepada rahmat Allah dan syafaat Rasul-Nya.

Beliau turut menyinggung hadis mengenai tujuh golongan yang memperoleh naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antaranya adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah, orang-orang yang saling mencintai karena Allah, serta mereka yang beramal dengan penuh keikhlasan.

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan hidup di dunia memiliki hubungan erat dengan keadaan manusia ketika menghadapi hari kebangkitan.

Baca Juga: Tafsir Ali ‘Imran ayat 1–4: Meneguhkan Tauhid dan Kemuliaan Al-Qur’an

Catatan Amal dan Timbangan Keadilan Allah

Salah satu peristiwa penting di Padang Mahsyar adalah ketika setiap manusia menerima catatan amalnya. Segala sesuatu yang pernah dilakukan selama hidup akan diperlihatkan kembali sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِقْرَأْ كِتٰبَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ

(Dikatakan,) “Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu pada hari ini sebagai penghitung atas (amal) dirimu.” (Al-Isrā’ [17]:14)

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa kata kitāb dalam ayat tersebut merujuk pada catatan amal manusia, bukan Al-Qur’an. Setiap orang akan diperintahkan membaca sendiri seluruh perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya. Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa terdapat manusia yang menerima catatan amal dari sebelah kanan sebagai tanda keberuntungan, sementara sebagian lainnya menerimanya dari sebelah kiri sebagai tanda kerugian. Kerugian tersebut terjadi karena manusia sebenarnya telah memperoleh kesempatan hidup di dunia, tetapi tidak memanfaatkannya untuk membangun keimanan dan melakukan amal saleh.

Selain menerima catatan amal, manusia juga akan menghadapi proses penimbangan amal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْحَقُّۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung. (Al-A‘rāf [7]:8)

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَظْلِمُوْنَ

Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (Al-A‘rāf [7]:9)

Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa keberuntungan dan kerugian manusia pada hari akhir berkaitan erat dengan nilai amal yang telah dilakukan. Namun, Ustadz Ali Nurdin juga menjelaskan bahwa tidak semua manusia memperoleh penimbangan amal dalam keadaan yang sama. Al-Qur’an menyebutkan adanya golongan yang amalnya menjadi sia-sia karena kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan hari pertemuan dengan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَاۤىِٕهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًا

Mereka itu adalah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhannya dan (kufur pula terhadap) pertemuan dengan-Nya. Maka, amal mereka sia-sia dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (Al-Kahf [18]:105)

Saat menjelaskan ayat ini, beliau memberikan perumpamaan tentang seseorang yang mengikuti kegiatan perkuliahan selama delapan semester. Orang tersebut selalu hadir, menjalin hubungan baik dengan dosen dan mahasiswa, bahkan mengikuti seluruh aktivitas dengan tekun. Namun, ketika masa kelulusan tiba, ia tidak memperoleh ijazah karena sejak awal tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa.

Perumpamaan tersebut digunakan untuk menjelaskan pentingnya keimanan sebagai landasan amal. Dalam perspektif ajaran Islam, perbuatan baik yang dilakukan manusia akan memperoleh nilai untuk kehidupan akhirat apabila dilandasi oleh keimanan kepada Allah. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk berbuat baik kepada sesama, tetapi juga mengajarkan agar kebaikan tersebut tumbuh dari keyakinan kepada Allah dan hari pembalasan.

Kehidupan Akhirat sebagai Kehidupan yang Sesungguhnya

Keyakinan terhadap hari akhir turut membentuk cara seorang Muslim memandang kehidupan dunia. Segala sesuatu yang dialami manusia, baik kesulitan maupun kesenangan, memiliki batas waktu dan tidak akan berlangsung selamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (Al-‘Ankabūt [29]:64)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir manusia. Setiap persoalan duniawi pada akhirnya akan berlalu. Jika sebuah persoalan belum selesai selama seseorang hidup, maka perjalanan hidupnya sendiri suatu saat akan berakhir. Dengan kesadaran tersebut, seorang mukmin diajak untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Sebaliknya, orang yang sedang memperoleh kesenangan, kekayaan, atau kedudukan juga tidak sepatutnya berbangga diri secara berlebihan. Sebab, seluruh kenikmatan dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.

Keadilan yang sempurna baru akan diperoleh manusia di sisi Allah. Dalam kehidupan dunia, seseorang mungkin mengalami ketidakadilan meskipun telah berusaha memperjuangkan haknya. Namun, di akhirat tidak ada satu pun manusia yang akan dizalimi dalam pengadilan Allah.

Gambaran mengenai keadaan manusia pada hari tersebut dijelaskan dalam Surah Maryam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِيْنَ اِلَى الرَّحْمٰنِ وَفْدًا

(Ingatlah) suatu hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa (menghadap) kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai rombongan yang terhormat. (Maryam [19]:85)

وَنَسُوْقُ الْمُجْرِمِيْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ وِرْدًا

Dan Kami menggiring para pendurhaka ke (neraka) Jahanam dalam keadaan dahaga. (Maryam [19]:86)

Kedua ayat tersebut memperlihatkan perbedaan keadaan manusia berdasarkan keimanan dan perbuatannya. Orang-orang yang bertakwa dikumpulkan sebagai rombongan yang dimuliakan, sementara para pendurhaka menghadapi keadaan yang penuh kesulitan. Perbedaan tersebut semakin jelas dalam Surah Az-Zumar ayat 71–73, yang menggambarkan perjalanan dua kelompok manusia menuju tempat pembalasan masing-masing.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ

Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka, “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), berbahagialah kamu. Maka, masuklah ke dalamnya (untuk tinggal) selama-lamanya!” (Az-Zumar [39]:73)

Ustadz Ali Nurdin menyoroti keindahan gambaran penyambutan penghuni surga dalam ayat tersebut. Berbeda dengan penghuni neraka yang digiring menuju tempat hukuman, orang-orang bertakwa diantar menuju surga dan disambut dengan salam penghormatan. Keadaan itu beliau ibaratkan dengan sebuah rumah yang sedang menantikan tamu kehormatan. Pintu telah dibuka sebelum para tamu tiba sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan.

Harta dan Keluarga Tidak Menjamin Keselamatan di Akhirat

Setelah menjelaskan kepastian hari kebangkitan dalam ayat kesembilan, Surah Ali ‘Imran melanjutkan pembahasan mengenai keterbatasan segala sesuatu yang selama ini menjadi sandaran manusia di dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ

Sesungguhnya orang-orang yang kufur, tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah bahan bakar api neraka. (Āli ‘Imrān [3]:10)

Manusia sering kali menggantungkan harapan kepada harta, keluarga, kedudukan, atau jaringan sosial yang dimilikinya. Dalam kehidupan dunia, semua itu mungkin dapat membantu seseorang menghadapi berbagai persoalan. Namun, keadaan tersebut berbeda ketika manusia telah memasuki kehidupan akhirat. Harta dan hubungan keluarga tidak dapat digunakan untuk menghindari pertanggungjawaban pribadi di hadapan Allah.

Hal tersebut ditegaskan dalam firman-Nya:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ

Takutlah kamu pada suatu hari (kiamat) yang seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun, syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, dan mereka tidak akan ditolong. (Al-Baqarah [2]:48)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia memikul tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Tidak ada kekayaan atau kedudukan duniawi yang mampu menggantikan keimanan dan amal saleh. Namun, bukan berarti harta dan keluarga tidak memiliki nilai bagi kehidupan akhirat. Justru keduanya dapat menjadi jalan kebaikan apabila dimanfaatkan sesuai dengan petunjuk Allah. Beliau menjelaskan bahwa setiap anugerah yang diterima manusia, baik berupa harta, ilmu, tenaga, kesempatan, maupun kemampuan lainnya, dapat memiliki nilai ibadah apabila digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Salah satu bentuk nyata dari pemanfaatan tersebut adalah sedekah, dan sedekah tidak terbatas pada pemberian materi. Perbuatan baik yang dilakukan dengan landasan keimanan merupakan bentuk pembenaran terhadap keyakinan yang telah diucapkan seorang Muslim.

Dengan demikian, keimanan tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Baca Juga: Tafsir Surah Āli ‘Imrān Ayat 5–7: Menemukan Ketenangan dalam Keyakinan bahwa Allah Mengetahui Segalanya

Penyesalan Setelah Kematian dan Pentingnya Memanfaatkan Kesempatan Hidup

Ustadz Ali Nurdin mengingatkan bahwa salah satu penyesalan manusia setelah datangnya kematian adalah kesempatan berbuat baik yang tidak dimanfaatkan ketika masih hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (Al-Munāfiqūn [63]:10)

Ayat ini menggambarkan bagaimana seseorang yang telah menghadapi kematian berharap dapat kembali hidup untuk bersedekah dan melakukan amal saleh. Menurut beliau, penyesalan tersebut menunjukkan betapa berharganya kesempatan yang dimiliki manusia selama hidup di dunia. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak penting justru menjadi hal yang sangat diharapkan ketika kesempatan itu telah berakhir.

Namun, manusia yang telah meninggal tidak dapat kembali ke dunia untuk memperbaiki seluruh perbuatannya, karena ada di alam barzakh. Alam barzakh merupakan pembatas antara kehidupan dunia dan hari kebangkitan. Setelah seseorang memasuki alam tersebut, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ

لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (Al-Mu’minūn [23]:99–100)

Keadaan manusia di alam barzakh juga berkaitan dengan keimanan dan perbuatannya.

Ustadz Ali Nurdin mengutip Surah Ali ‘Imran ayat 170 untuk menggambarkan kenikmatan yang Allah berikan kepada orang-orang yang gugur di jalan-Nya. Mereka digambarkan bergembira atas karunia Allah dan tidak diliputi rasa takut maupun kesedihan.

Sementara itu, keadaan keluarga Fir‘aun dijadikan contoh mengenai azab yang diperlihatkan sebelum datangnya hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ

Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan,) “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!” (Gāfir [40]:46)

Kedua gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan setelah kematian merupakan bagian dari perjalanan manusia yang tidak boleh diabaikan. Karena itulah, Ustadz Ali Nurdin mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas anugerah keimanan. Menurut beliau, keimanan merupakan karunia yang jauh lebih berharga daripada berbagai pencapaian duniawi karena manfaatnya tidak hanya dirasakan selama hidup, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan di akhirat.

Keimanan, Sedekah, dan Balasan Kebaikan yang Tidak Pernah Sia-Sia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yūnus [10]:58)

Menurut beliau, salah satu karunia terbesar yang patut disyukuri manusia adalah kesempatan untuk mengenal Allah, beriman kepada-Nya, serta menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk-Nya. Keimanan tersebut juga semestinya mendorong seseorang untuk tidak bersikap kikir terhadap anugerah yang dimilikinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚوَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهٖ ۗوَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ ۗوَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ ࣖ

Ingatlah bahwa kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu, di antara kamu ada orang yang kikir. Padahal, siapa yang kikir sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allahlah Yang Maha Kaya dan kamulah yang fakir. Jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan (durhaka) sepertimu. (Muḥammad [47]:38)

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pelajaran mengenai hubungan antara kebaikan yang dilakukan manusia dan manfaat yang akan kembali kepada dirinya sendiri. Seseorang yang enggan berbagi sebenarnya sedang menghalangi dirinya sendiri dari kesempatan memperoleh pahala. Sebaliknya, orang yang menggunakan anugerah Allah untuk membantu sesama sedang mempersiapkan kebaikan bagi kehidupannya di akhirat.

Prinsip tersebut dipertegas melalui firman Allah:

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)? (Ar-Raḥmān [55]:60)

Beliau mengingatkan bahwa setiap kebaikan pada hakikatnya akan kembali kepada pelakunya. Oleh sebab itu, seseorang tidak perlu berkecil hati ketika kebaikannya tidak memperoleh penghargaan dari manusia. Boleh jadi perbuatan yang tampak sederhana tidak mendapatkan perhatian di dunia, tetapi memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Keyakinan tersebut semestinya mendorong seorang mukmin untuk tetap berbuat baik tanpa selalu mengharapkan balasan langsung dari orang lain.

Bahaya Kesombongan dan Kezaliman dalam Menolak Kebenaran

Pembahasan kemudian berlanjut kepada Surah Ali ‘Imran ayat kesebelas yang menggambarkan kesamaan sikap orang-orang yang mendustakan ayat Allah dengan pengikut Fir‘aun dan umat-umat terdahulu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir‘aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Oleh sebab itu, Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Allah sangat keras hukuman-Nya. (Āli ‘Imrān [3]:11)

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan sikap orang-orang musyrik Makkah serta sebagian Ahlulkitab di Madinah yang menolak kebenaran meskipun telah memperoleh penjelasan. Penolakan tersebut tidak selalu lahir karena kurangnya pengetahuan, tetapi juga dapat disebabkan oleh kesombongan dan keengganan meninggalkan keyakinan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sikap demikian digambarkan dalam kisah Fir‘aun dan pengikutnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ ࣖ

Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (An-Naml [27]:14)

Menurut beliau, terdapat dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam ayat tersebut, yaitu kezaliman dan kesombongan. Keduanya dapat menghalangi manusia untuk menerima kebenaran meskipun telah mengetahui dan memahami penjelasannya.

Beliau kemudian menguraikan bahwa kezaliman dalam Al-Qur’an memiliki tingkatan. Salah satu bentuk kezaliman yang paling besar adalah perbuatan syirik atau mempersekutukan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk. (Al-An‘ām [6]:82)

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa ketika ayat tersebut turun, para sahabat sempat mempertanyakan siapa yang mampu menjaga keimanannya tanpa sedikit pun melakukan kezaliman.Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa kezaliman yang dimaksud dalam konteks ayat tersebut adalah syirik. Penjelasan ini diperkuat melalui nasihat Luqman kepada anaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqmān [31]:13)

Ayat tersebut menegaskan bahwa menjaga kemurnian tauhid merupakan tanggung jawab mendasar seorang Muslim. Keimanan yang tidak dicampuradukkan dengan kesyirikan menjadi landasan bagi manusia untuk memperoleh petunjuk dan rasa aman dari Allah. Karena itu, menurut beliau, nikmat keimanan semestinya menjadi alasan bagi seorang mukmin untuk senantiasa bersyukur sekaligus menjaga diri dari sikap sombong terhadap kebenaran.

Luasnya Ampunan Allah dan Pentingnya Istiqamah dalam Bertobat

Meskipun Surah Ali ‘Imran ayat kesebelas memperingatkan manusia mengenai akibat kekufuran dan pendustaan terhadap ayat Allah, Ustadz Ali Nurdin juga menekankan bahwa orang-orang beriman tidak sepatutnya berputus asa dari rahmat-Nya. Setiap manusia memiliki kekurangan dan berpotensi melakukan kesalahan. Namun, Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali melalui pertobatan yang sungguh-sungguh.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

۞ نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُۙ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ḥijr [15]:49)

Menurut beliau, ayat ini merupakan kabar gembira bagi siapa saja yang pernah melakukan kesalahan pada masa lalu. Seseorang tidak perlu terus-menerus larut dalam kesedihan karena dosa yang pernah diperbuat, selama masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Hal terpenting adalah kesediaan untuk bertobat dan menjaga konsistensi dalam menjalankan kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk. (Ṭāhā [20]:82)

Ustadz Ali Nurdin menyoroti bagian akhir ayat tersebut, yakni ṡummahtadā, yang menunjukkan pentingnya tetap berada dalam petunjuk setelah seseorang bertobat. Menurut beliau, salah satu tanda baik dari pertobatan seseorang adalah adanya perubahan perilaku yang diikuti dengan usaha untuk terus istiqamah dalam ketaatan. Karena itu, pertobatan bukan hanya diwujudkan melalui penyesalan atas kesalahan masa lalu, tetapi juga melalui kesungguhan meninggalkan dosa dan memperbaiki kehidupan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali menegaskan:

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar [39]:53)

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan keluasan ampunan Allah bagi hamba yang sungguh-sungguh bertobat. Bahkan dosa syirik yang merupakan dosa terbesar pun dapat memperoleh ampunan apabila pelakunya meninggalkan kesyirikan dan bertobat sebelum meninggal dunia. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk menutup harapan terhadap rahmat Allah selama kesempatan bertobat masih terbuka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taḥrīm [66]:8)

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya taubatan nasuha, yakni pertobatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagai jalan kembali kepada Allah. Ustadz Ali Nurdin menjelaskan, keimanan yang dijaga dengan baik akan mendorong manusia untuk senantiasa menyadari kekurangannya, memohon ampunan, serta memperbaiki diri. Oleh karena itu, seseorang tidak sepatutnya merasa telah kehilangan kesempatan menjadi hamba yang lebih baik hanya karena pernah melakukan banyak kesalahan.

 (QnA) Syafaat Rasulullah, Keutamaan Sedekah, dan Menjaga Keimanan dalam Kehidupan

Selain membahas tafsir Surah Ali ‘Imran ayat 9–11, Ustadz Assoc. Prof. Dr. Ali Nurdin, M.A., C.A.H. juga menjawab sejumlah pertanyaan jamaah mengenai berbagai persoalan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Rasulullah ﷺ dapat mengenali umatnya di tengah begitu banyak manusia yang berkumpul di Padang Mahsyar??

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ dianugerahi kemampuan oleh Allah untuk mengenali umatnya melalui tanda khusus yang disebutkan dalam hadis, yaitu cahaya pada wajah dan anggota tubuh akibat bekas wudhu. Tanda tersebut dikenal dengan istilah ghurran muhajjalīn, yakni keadaan bercahaya pada wajah serta anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu. Keterangan tersebut menjadi salah satu alasan para ulama menganjurkan umat Islam untuk membiasakan diri menjaga wudhu, termasuk ketika tidak sedang bersiap melaksanakan salat. Seseorang, misalnya, dapat membiasakan diri berwudhu setelah mandi atau sebelum memulai aktivitas. Kebiasaan tersebut merupakan bentuk usaha menjaga kesucian sekaligus mengamalkan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Beliau juga mengingatkan bahwa wudhu tidak harus dilakukan secara berlebihan. Membasuh anggota wudhu satu kali secara sempurna sudah memenuhi ketentuan minimal, sedangkan membasuh hingga tiga kali merupakan bagian dari kesempurnaan sunnah.

Apakah seseorang harus menutup aurat ketika berwudhu setelah mandi?

Menutup aurat bukan merupakan syarat sah wudhu, berbeda dengan salat yang mensyaratkan tertutupnya aurat. Meskipun demikian, menutup aurat ketika berwudhu tetap dianjurkan sebagai bagian dari adab dalam beribadah. Beliau juga menerangkan bahwa mandi atau berenang dapat berkaitan dengan proses bersuci apabila memenuhi ketentuan mengenai niat dan kesucian air. Namun dalam praktiknya, penggunaan air yang diyakini suci dan menyucikan tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan. Apabila seseorang ragu terhadap kondisi air kolam renang umum, beliau menyarankan agar menggunakan air dari keran khusus untuk berwudhu.

Amalan yang dapat dilakukan seorang Muslim agar memperoleh syafaat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat.

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa salah satu amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad, dan ini dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika seseorang sudah menyebut/ mendengar nama Rasulullah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Al-Aḥzāb [33]:56)

Namun, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diwujudkan melalui ucapan sshalawat semata. Seorang Muslim juga perlu berusaha mengikuti ajaran dan keteladanan beliau dalam kehidupannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Āli ‘Imrān [3]:31)

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa sikap mengikuti Rasulullah dikenal dengan istilah ittibā’. Artinya, seseorang tidak hanya mengakui kecintaannya kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga berusaha menjalankan tuntunan beliau. Dengan memperbanyak shalawat dan berusaha mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ, seorang Muslim memiliki harapan untuk memperoleh syafaat beliau pada hari akhir atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memahami Dosa yang Melampaui Batas (sebagaimana disebutkan dalam Surah Az-Zumar ayat 53) dan Perbedaan Syirik dengan Zina

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melampaui batas, terutama ketika merasa dirinya telah berkecukupan dan tidak lagi membutuhkan pertolongan siapa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ

اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba berkecukupan. (Al-‘Alaq [96]:6–7)

Menurut beliau, sikap melampaui batas dapat muncul ketika seseorang merasa tidak lagi membutuhkan Allah sehingga mengabaikan perintah dan larangan-Nya. Bentuk pelanggaran tersebut memiliki tingkatan yang berbeda-beda, mulai dari kesalahan yang ringan hingga dosa yang sangat besar. Adapun puncak dari perbuatan melampaui batas adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah. Sementara itu, zina juga termasuk perbuatan dosa besar yang secara tegas dilarang dalam Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. (Al-Isrā’ [17]:32)

Ustadz Ali Nurdin menekankan bahwa larangan dalam ayat tersebut bukan hanya ditujukan terhadap perbuatan zina, melainkan juga berbagai tindakan yang dapat mendekatkan seseorang kepadanya. Meskipun zina merupakan dosa besar, beliau menjelaskan bahwa syirik menempati tingkatan dosa yang lebih berat karena berkaitan langsung dengan pelanggaran terhadap kemurnian tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar. (An-Nisā’ [4]:48)

Beliau menjelaskan bahwa ketentuan tidak diampuninya dosa syirik berlaku bagi seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan mempersekutukan Allah tanpa bertobat. Adapun mereka yang sungguh-sungguh meninggalkan kesyirikan dan kembali kepada Allah masih memiliki kesempatan memperoleh ampunan-Nya.

Ustadz Ali Nurdin juga mengingatkan bahwa perbuatan baik dapat menjadi sebab dihapuskannya kesalahan atas kehendak Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ

Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (Hūd [11]:114)

Hal tersebut bukan berarti seseorang boleh meremehkan dosa, tetapi menjadi pengingat agar manusia tidak berhenti bertobat dan memperbanyak amal saleh. Pengampunan tetap berada dalam kehendak Allah, sementara seorang mukmin memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri.

Apakah perempuan Muslim tidak dianjurkan mengenakan pakaian berwarna terang atau mencolok?

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa ketentuan dasar berpakaian dalam Islam berlaku bagi laki-laki maupun perempuan, yaitu kewajiban menutup aurat sesuai batasan masing-masing serta mengenakan pakaian yang baik dan pantas. Menurut beliau, tidak terdapat larangan mutlak bagi perempuan untuk mengenakan pakaian berwarna terang. Hal yang perlu diperhatikan justru berkaitan dengan kepantasan, bentuk pakaian, dan kemungkinan penggunaannya untuk menarik perhatian secara berlebihan. Pakaian dengan warna yang sederhana pun dapat menjadi tidak sesuai dengan adab berpakaian apabila terlalu menonjolkan bentuk tubuh. Sebaliknya, pakaian berwarna cerah tidak otomatis menjadi sesuatu yang dilarang apabila tetap memenuhi ketentuan menutup aurat dan menjaga kepantasan.

Beliau juga menyinggung bahwa kebiasaan berpakaian masyarakat sering dipengaruhi oleh adat dan budaya setempat. Karena itu, tidak semua tradisi berpakaian di suatu wilayah dapat dipahami sebagai ketentuan agama yang bersifat mutlak. Pesan utama yang beliau tekankan adalah pentingnya menghindari sikap berlebihan serta menjaga kehormatan melalui pakaian yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Mendoakan Palestina dan Memahami Hikmah di Tengah Ketidakadilan

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Ali Nurdin mengajak jamaah memahami bahwa pertolongan Allah tidak selalu hadir sesuai dengan waktu dan bentuk yang diinginkan manusia. Dalam penjelasannya, beliau mengutip Surah Al-Isrā’ ayat 104 yang berbicara mengenai Bani Israil dan peristiwa pengumpulan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَّقُلْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ لِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اسْكُنُوا الْاَرْضَ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًاۗ

Setelah itu Kami berfirman kepada Bani Israil, “Tinggallah di negeri ini! Apabila janji kebangkitan datang, niscaya Kami kumpulkan kamu dalam keadaan bercampur baur.” (Al-Isrā’ [17]:104)

Beliau menyampaikan salah satu pembacaan terhadap ayat tersebut yang menghubungkannya dengan keadaan Bani Israil dan perkembangan konflik di Palestina. Dalam pembahasan itu, beliau turut menyoroti kemungkinan adanya persoalan internal yang memengaruhi keadaan suatu masyarakat atau negara.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ جَمِيْعًا اِلَّا فِيْ قُرًى مُّحَصَّنَةٍ اَوْ مِنْ وَّرَاۤءِ جُدُرٍۗ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ ۗ تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَّقُلُوْبُهُمْ شَتّٰىۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَۚ

Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak berakal. (Al-Ḥasyr [59]:14)

Menurut beliau, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa persatuan yang tampak dari luar tidak selalu mencerminkan keadaan yang sesungguhnya di dalam suatu kelompok. Namun, dalam kaitannya dengan penderitaan masyarakat Palestina, beliau menekankan pentingnya tetap memanjatkan doa agar Allah memberikan perlindungan, pertolongan, dan jalan keluar yang baik bagi mereka.

Ketegaran masyarakat Gaza dalam menghadapi berbagai kesulitan juga menjadi pelajaran mengenai kesabaran dan kekuatan dalam menjalani ujian kehidupan. Karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya berhenti berdoa hanya karena pertolongan yang diharapkan belum terlihat. Doa tetap menjadi bagian dari ikhtiar dan kepasrahan kepada Allah, sementara manusia terus berusaha melakukan kebaikan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bagaimana anak-anak atau orang yang belum memiliki penghasilan dapat membiasakan diri bersedekah?

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memberikan uang atau harta benda. Beliau mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menjelaskan bahwa setiap Muslim memiliki kesempatan untuk bersedekah. Ketika seseorang tidak memiliki harta yang dapat diberikan, ia tetap dapat memperoleh pahala sedekah dengan membantu orang lain, meringankan kesulitan, dan melakukan berbagai bentuk kebaikan. Bahkan, apabila seseorang belum mampu memberikan bantuan, menahan diri agar tidak menyakiti atau mengganggu orang lain juga merupakan bentuk sedekah.

Dalam konteks anak-anak, beliau memberikan contoh bahwa berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada teman, serta tidak melakukan perundungan merupakan tindakan yang memiliki nilai sedekah. Dengan demikian, membiasakan anak bersedekah tidak harus selalu dimulai dengan menyisihkan uang jajan. Pendidikan mengenai sedekah juga dapat dilakukan dengan membangun kepedulian, kebiasaan membantu, dan kemampuan menjaga perilaku terhadap orang lain.

Bolehkah Bersedekah dengan Mengharapkan Balasan dari Allah?

Apakah seseorang diperbolehkan bersedekah dengan mengharapkan balasan dari Allah? (memperoleh kemudahan rezeki, perlindungan dari musibah, atau kebaikan lainnya.)

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa mengharapkan balasan dari Allah ketika melakukan amal shaleh merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Harapan tersebut merupakan bentuk keyakinan terhadap janji dan rahmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ

Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga), Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan). (Al-Lail [92]:5–7)

Ayat tersebut menunjukkan hubungan antara sikap memberi, ketakwaan, keyakinan terhadap janji Allah, dan kemudahan yang dianugerahkan-Nya. Karena itu, seseorang diperbolehkan bersedekah sambil memohon agar Allah memudahkan urusannya, memberikan kesehatan, atau melindunginya dari berbagai musibah. Beliau membedakan harapan kepada Allah dengan pamrih yang ditujukan kepada manusia. Mengharapkan ridha dan balasan Allah merupakan bagian dari ibadah, sedangkan memberikan bantuan semata-mata untuk memperoleh keuntungan pribadi atau memanipulasi orang lain bertentangan dengan nilai keikhlasan.

Apakah pahala sedekah tetap dapat dihadiahkan kepada orang tua apabila niat tersebut hanya disampaikan di dalam hati dan tidak diucapkan secara lisan.

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa niat tidak harus selalu dilafalkan, karena niat dalam hati tersebut sudah memiliki makna dalam ibadah. Beliau juga menerangkan bahwa kebaikan seorang anak memiliki hubungan erat dengan jasa orang tua yang telah membesarkan, mendidik, dan membimbingnya. Amal saleh yang dilakukan anak dapat menjadi sumber kebaikan bagi orang tuanya karena pendidikan dan pengasuhan yang pernah diberikan turut menjadi sebab lahirnya kebaikan tersebut. Karena itu, seorang anak tidak perlu merasa khawatir apabila tidak selalu mengucapkan niat secara khusus setiap kali melakukan amal saleh.

Meskipun demikian, mendoakan orang tua dan secara khusus menghadiahkan pahala sedekah tetap merupakan amalan baik yang dapat dilakukan sebagai bentuk bakti dan kasih sayang kepada mereka.

Apa keistimewaan melaksanakan umrah pada bulan Ramadan serta bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kondisi ibadah yang lebih padat??

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa terdapat hadis Rasulullah ﷺ yang menerangkan keutamaan umrah pada bulan Ramadan, dengan ganjaran pahala yang diserupakan dengan ibadah haji. Namun, kesetaraan pahala tersebut tidak berarti umrah dapat menggantikan kewajiban haji bagi seseorang yang telah memenuhi syarat untuk melaksanakannya. Beliau mengingatkan bahwa pelaksanaan umrah pada bulan Ramadan memiliki tantangan tersendiri. Jumlah jamaah yang besar, kepadatan di tempat-tempat ibadah, serta kondisi cuaca dapat menuntut kesiapan fisik dan kesabaran yang lebih besar. Karena itu, selain mempersiapkan perjalanan secara matang, jamaah juga perlu menjaga sikap dan saling mengingatkan agar tidak mudah kehilangan kesabaran.

Menurut beliau, keutamaan umrah Ramadan tidak terbatas pada hari-hari tertentu. Selama ibadah tersebut dilakukan dalam bulan Ramadan, jamaah memiliki kesempatan memperoleh keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadis. Hal terpenting adalah menjaga keikhlasan, mempersiapkan kemampuan lahiriah, serta bertawakal kepada Allah agar seluruh rangkaian ibadah memperoleh kemudahan dan keberkahan.

Mendoakan Keluarga, Kerabat dan Teman yang Berbeda Keyakinan, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal dunia.

Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa selama seseorang masih hidup, umat Islam tetap dianjurkan mendoakannya agar memperoleh hidayah dan kebaikan dari Allah. Hal tersebut menjadi semakin penting apabila orang yang didoakan merupakan anggota keluarga atau kerabat dekat. Perbedaan keyakinan tidak sepatutnya menghilangkan kepedulian, kasih sayang, dan keinginan untuk mengajak kepada kebaikan. Hubungan dengan keluarga yang berbeda keyakinan bahkan dapat menjadi ruang untuk melatih kesabaran dan memperlihatkan akhlak yang baik. Adapun ketika seseorang yang berbeda keyakinan telah meninggal dunia, beliau menjelaskan bahwa umat Islam tetap dapat menyampaikan belasungkawa, bertakziah, serta memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Mengenai keadaan orang yang telah meninggal tersebut, beliau mengajak jamaah untuk menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, Yang Maha Mengetahui keadaan setiap hamba-Nya. Beliau mencontohkan ungkapan kepasrahan seorang hamba yang menyerahkan seluruh urusan kepada Allah, sebagaimana sikap Nabi Isa ‘alaihis salam terhadap umatnya yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, perbedaan keyakinan tidak menghilangkan kewajiban seorang Muslim untuk menjaga hubungan kemanusiaan, berbuat baik, dan menunjukkan kasih sayang kepada sesama.

Mengakhiri Kajian dengan Doa dan Harapan

Pada penghujung pengajian, Ustadz Ali Nurdin mengajak jamaah untuk menghadirkan berbagai niat baik dan harapan dalam doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau mendoakan agar seluruh jamaah beserta keluarganya memperoleh kemudahan dalam menjalani kehidupan, diberikan kesehatan, dimudahkan urusan pendidikan maupun pekerjaan, serta senantiasa dijaga dalam keimanan. Ustadz Ali Nurdin kembali mengingatkan bahwa keimanan tidak hanya berkaitan dengan keyakinan terhadap kehidupan akhirat, tetapi juga harus diwujudkan melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari, yakni menjaga kesucian, memperbanyak shalawat, memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan, membantu sesama, serta senantiasa mendoakan keluarga merupakan bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk memperoleh rahmat Allah.

Setiap orang memiliki kesempatan berbuat baik, terlepas dari usia, keadaan ekonomi, maupun kemampuan yang dimilikinya. Bahkan tindakan sederhana seperti tidak menyakiti orang lain dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah. Karena itu, selama kesempatan hidup masih diberikan, seorang Muslim semestinya terus memperbanyak kebaikan sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat yang telah dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita dalam iman dan Islam, memberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan, mengampuni segala kesalahan, serta menganugerahkan akhir kehidupan yang diridhai-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Āmīn.

Ditulis oleh: Melinda Aprilyanti
Berdasarkan kajian di Pengajian Tafsir Keluarga Moerdono bersama: Assoc. Prof. Dr. Ali Nurdin, M.A., C.A.H.