
Syukur Mencegah Insecure
(Telaah Q.S Ibrahim[13]: 7)
Oleh: Subhan Muhammad Ajwar
Di tengah arus kehidupan modern yang dipenuhi standar sosial media, pencapaian orang lain yang tampak sempurna, dan tekanan untuk selalu menjadi lebih, banyak orang terjebak dalam perasaan insecure dan kurang percaya diri.
Dalam ajaran Islam, syukur memiliki makna yang sangat dalam dan erat kaitannya dengan nikmat yang Allah SWT anugerahkan kepada hamba-Nya. Konsep syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, tetapi merupakan sikap hati yang penuh kesadaran, penerimaan, dan penghargaan terhadap segala karunia yang telah diberikan. Al-Qur’an secara tegas menyinggung pentingnya bersyukur, seperti dalam Q.S Ibrahim ayat 7
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azîdannakum wa la’ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Q.S Ibrahim: 7)
Uraian Tafsir
Dalam Tafsir Ath-Thabari (At-Thabari, 1994: 437) di katakan, jika seseorang bersyukur kepada Allah dengan cara menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan menambah nikmat dan pertolongan-Nya. Dalam konteks ayat ini, hal tersebut ditujukan kepada Bani Israil setelah mereka diselamatkan dari kekejaman Fir’aun Allah menjanjikan nikmat tambahan jika mereka bersyukur. Dan jika kufur nikmat yaitu tidak mensyukuri karunia Allah dengan cara melanggar perintah-Nya, melakukan maksiat, dan menentang larangan-Nya maka Allah akan menimpakan azab yang pedih. Ini adalah peringatan keras bahwa nikmat bisa berubah menjadi azab jika tidak disikapi dengan syukur dan ketaatan.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi (Al-Qurthubi, 2007: 811) dijelaskan, jika seseorang benar-benar mensyukuri nikmat Allah, baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan, maka Allah akan menambah nikmat tersebut baik berupa rezeki, kesehatan, ketenangan, atau bentuk kebaikan lainnya. Syukur menjadi sebab datangnya tambahan nikmat dari Allah. dan sebagaimana Allah menjanjikan tambahannikmat bagi orang yang bersyukur, Allah juga menjanjikan azab yang pedih bagi orang yang mengingkari nikmat-Nya, yaitu tidak bersyukur dan tidak menaati perintah-Nya.
Dalam Tafsir Munir (Wahbah Zuhaili, 2014: 206) dijelaskan, pentingnya syukur atas nikmat Allah. Bila manusia bersyukur, Allah akan melimpahkan nikmat-Nya lebih banyak lagi. Namun jika kufur, maka azab Allah sangat pedih. Jika kalian kufur terhadap nikmat-nikmat Allah artinya tidak mengakui, atau tidak mensyukurinya maka hukuman-Nya sangat pedih dan berat. Hukuman ini tidak hanya terbatas pada kehidupan dunia, tetapi juga berlanjut hingga ke akhirat, dalam bentuk siksaan sebagai balasan atas sikap kufur terhadap nikmat. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan kufur adalah kufur nikmat yaitu tidak mensyukuri anugerah yang telah diberikan, bukan kekufuran terhadap keimanan itu sendiri.
Dalam Tafsir Al-Mishbah (Quraish shihab, 2004: 22) menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan janji Allah akan menambah nikmat bagi orang yang bersyukur, namun tidak secara tegas menyatakan bahwa orang yang kufur nikmat pasti langsung disiksa. Bagian akhir ayat itu lebih bersifat ancaman, bukan kepastian. Bahkan, bisa saja orang yang kufur nikmat tetap menerima tambahan nikmat, bukan sebagai rahmat, tetapi sebagai bentuk istidraj yaitu penguluran dari Allah agar mereka semakin tenggelam dalam kedurhakaan sebelum akhirnya mendapat azab.
Berbagai tafsir menegaskan bahwa syukur kepada Allah dengan menaati perintah-Nya dan menggunakan nikmat secara benar akan mendatangkan tambahan nikmat. Sebaliknya, kufur nikmat, yaitu tidak mensyukuri dan melanggar perintah Allah, akan mendatangkan azab yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Misbah, azab itu belum tentu langsung datang, karena bisa jadi Allah memberi kelonggaran sebagai bentuk istidraj, agar orang yang durhaka makin tenggelam dalam kesalahannya sebelum dihukum.
Ayat ini menekankan pentingnya syukur sebagai respons atas nikmat yang diberikan Allah. Kata syakartum (شَكَرْتُمْ) dalam ayat tersebut menunjukkan suatu bentuk penerimaan dan pengakuan terhadap nikmat Allah, baik dalam bentuk lisan, hati, maupun perbuatan. Sebaliknya, pengingkaran nikmat (kufur) ditandai dengan ketidakmampuan atau penolakan dalam melihat dan menghargai karunia yang telah diberikan.
Baca juga: Pentingnya Keluarga dan Pengelolaan Keuangan yang Bijak dalam Islam: Refleksi terhadap QS. Al-Isra’ 26
Dalam konteks psikologis, syukur memiliki dampak yang signifikan terhadap kondisi emosional seseorang. Individu yang senantiasa bersyukur cenderung memiliki tingkat kepuasan diri yang lebih tinggi dan risiko gangguan mental yang lebih rendah. Rasa insecure pada dasarnya timbul karena seseorang tidak fokus pada potensi dan nikmat yang dimiliki, melainkan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Ayat ini menawarkan solusi teologis berupa syukur, yang bukan sekadar tindakan spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme pertahanan psikologis. Dengan bersyukur, seseorang diajak untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki bentuk nikmat yang unik dan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Hikmah Ayat
Ayat ini mengandung hikmah besar tentang urgensi bersyukur kepada Allah atas setiap nikmat yang diberikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Syukur bukan hanya dimaknai sebagai ungkapan lisan semata, tetapi juga harus diwujudkan melalui keikhlasan hati dan ketaatan dalam perbuatan. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah secara eksplisit menjanjikan penambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur, dan sebaliknya, ancaman azab yang pedih bagi mereka yang mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa sikap seorang hamba terhadap nikmat Ilahi memiliki konsekuensi langsung dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Terdapat sejumlah hikmah utama yang dapat diambil dari ayat ini. Pertama, bahwa syukur merupakan kunci bertambahnya nikmat. Allah akan menambah keberkahan dalam hidup orang-orang yang senantiasa bersyukur, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, ketenangan batin, maupun karunia lainnya. Kedua, kufur nikmat berpotensi mengundang azab Allah. Pengingkaran terhadap nikmat, baik dengan melalaikannya maupun menggunakannya untuk keburukan, akan mendatangkan konsekuensi negatif. Ketiga, ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Maha Adil, di mana setiap respons manusia terhadap nikmat yang diberikan akan dibalas secara setimpal oleh-Nya.
Pelajaran ini memiliki implikasi praktis yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, seorang Muslim hendaknya membiasakan diri bersyukur atas segala hal, baik yang besar maupun kecil. Misalnya, mengucap Alhamdulillah atas nikmat kesehatan, makanan, waktu, dan keluarga. Kedua, nikmat yang dimiliki hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Contohnya, menggunakan waktu luang untuk belajar, beribadah, atau menolong sesama, bukan untuk kegiatan yang sia-sia. Ketiga, ketaatan kepada Allah merupakan wujud nyata dari rasa syukur. Tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi juga harus dibuktikan dengan amal saleh dan kepatuhan terhadap perintah Allah.
Kesimpulan
Surah Ibrahim ayat 7 mengajarkan bahwa syukur adalah kunci bertambahnya nikmat dan menjadi solusi efektif untuk mencegah rasa insecure. Dalam berbagai tafsir, dijelaskan bahwa syukur bukan hanya ucapan, tetapi juga perwujudan hati dan perbuatan yang taat kepada Allah. Sikap syukur mendorong seseorang untuk fokus pada karunia yang dimiliki, bukan pada kekurangan atau pencapaian orang lain. Sebaliknya, kufur nikmat dapat mendatangkan azab, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan menjadikan syukur sebagai sikap hidup, seseorang dapat mencapai ketenangan batin, kepercayaan diri, dan kebahagiaan sejati.
*Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta
Referensi
Ath-Thabari Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. 1994. Tafsir Ath-Thabari. Beirut: Muassasah al-Risalah.
Imam Al-Qurthubi, 2007, Al-Jami’li Ahkam Al—Qur’an, Pustaka Azzam
Zuhaili Wahbah, 2014, Tafsir Munir, Gema Insani
Shihab Quraish, 2004, Tafsir Al-Mishbah, Lentera Hati
