Search

Sultan Muhammad Al-Fatih: Pemimpin Terbaik yang Dijanjikan Rasulullah SAW

Sultan Muhammad Al-Fatih: Pemimpin Terbaik yang Dijanjikan Rasulullah SAW

Sultan Muhammad Al-Fatih: Pemimpin Terbaik yang Dijanjikan Rasulullah SAW

Oleh : Nuzul Ilham Fadhli*

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sesungguhnya kalian akan menaklukkan Konstantinopel. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad).

Hadis ini merupakan hadis favorit penulis dan teman-teman semasa duduk di bangku tsanawiyah dulu. Salah satu hadis yang memperjelas bahwa seorang yang bernama Muhammad memang bukan manusia biasa, menunjukkan seorang yang bernama Muhammad betul-betul seorang manusia yang diutus oleh sang pemilik segala pengetahuan. Mengapa demikian? Karena bagaimana mungkin ada seorang manusia yang berbicara pada abad ke-6 perkataannya diingat dan terbukti kejadian 8 abad kemudian kalau informasi tersebut bukan dari Allah Swt.

Baca Juga: Apakah Islam Mendukung Feminisme? Menelaah Peran Perempuan dan Kesetaraan dalam Islam.

Pada perjalanan menuju realitasnya, hadis ini banyak memberikan pelajaran yang sangat mendalam dan berharga kepada kita, pelajaran tentang keimanan, semangat, tanggung jawab, kepemimpinan dan pantang menyerah berhasil menyatu dalam sebuah histori yang sangat memukau dan dapat menjadi iktibar dan motivasi bagi setiap insan yang mengikuti alur kisahnya.

Kisah penaklukkan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II adalah kisah di balik keajaiban perkataan Rasulullah Saw ini. Kisah penaklukan sebuah ibu kota dari keksaisaran Romawi Timur yang telah berdiri kokoh 10-11 abad lamanya, mulai dari tahun 330 M sampai pada akhirnya runtuh di tangan Muhammad Al-Fatih pada 6 April 1455 M.

Pasca sabda ini Rasulullah ucapkan, selain menjadi kabar gembira akan kebesaran Islam di masa depan, Konstantinopel mendadak menjadi impian. Para sahabat mendapatkkam dorongan psikologis yang sangat besar untuk dapat sampai ke Konstantinopel demi meraih janji Rasulullah menjadi pasukan terbaik. Tidak hanya berhenti sampai di situ, semangat ini terus mengalir deras ke anak-anak dan cucu-cucu mereka demi meraih cita-cita yang mulia dari Rasulullah Saw.

Dalam hadis ini, “pemimpin terbaik” yang dicita-citakan oleh para sahabat dan tabi’in, diartikan tidak hanya sebagai seorang pemimpin yang kuat fisiknya, pintar mengatur strategi dan banyak hartanya, melainkan juga sebagai pemimpin yang mulia akhlaknya, punya keberanian dan punya hubungan yang sangat dekat dengan Allah dalam keimanannya. Hal ini pada akhirnya terbukti ada pada watak Sultan Muhammad Al-Fatih, beliau menguasai ilmu kepemimpinan dan strategi perang, hafiz Qur’an di usia yang belia, juga pintar secara akademis, menguasai berbagai macam ilmu seperti fisika, matematika, falak, sejarah dan menguasai delapan bahasa asing. Namun, tidak hanya berhenti sampai di situ, di samping kecerdasan dan kepintaran beliau yang luar biasa, Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu berjamaahnya, tidak pernah meninggalkan shalat rawatib juga tidak pernah meninggalkan shalat tahajjudnya. Karakter “terbaik” yang Rasulullah katakan memang betul-betul ada pada diri Sultan Muhammad Al-Fatih.

Bukan hanya panglimanya, para kesatria yang ada di belakang Muhammad Al-Fatih dalam penaklukkan Konstantinopel tak kalah membuat kita yang mengikuti kisahnya terkagum-kagum. Pasukan Yanisari, pasukan elite Turki Utsmani, yang memiliki keterampilan berperang yang luar biasa, semangat dan tanggung jawab, serta loyalitas yang sangat totalitas kepada pemimpin mereka. Tentunya juga tidak ketinggalan ketaatan mereka yang kaffah dalam menjalankan syariat agama Islam, pasukan yang dididik sedari dini menjadi manusia yang tangguh dan kuat sekaligus menjadi hamba yang taat kepada Allah Swt. Dikisahkan bahwa para anggota pasukan Yanisari tidak pernah seorang pun meninggalkan kewajiban shalat, bagaimana pun kesibukan yang mereka miliki, mereka menyimpan kecintaan yang begitu mendalam kepada Rasulullah Saw, dan atas dasar itu lah mereka begitu semangat untuk menunaikan dan menjadi bagian dari orang-orang yang nabi janjikan.

Apa yang dapat kita petik dari hadis ini? Walaupun dalam sabdanya secara spesifik Rasulullah berbicara tentang Konstantinopel, hadis ini tidak kehilangan pelajaran yang dapat diambil untuk masa kini. Dari hadis ini kita bisa tahu bahwa, cita-cita yang besar harus didasari dengan niat dan kemauan yang besar pula, lantas apakah dengan begitu saja cukup? Tentu saja tidak, harus juga dilaksanakan dengan penuh ambisi dan memiliki prinsip ‘pantang bertekuk lutut sebelum tergapai’. Begitu juga dengan “pemimpin terbaik”, ketika kita diberi kesempatan untuk memimpin, apapun itu, jadilah pemimpin yang yang mengkolaborasikan antara intelektual, spiritual dan profesional, mampu menjadi penopang dan membawa bawahan menuju cita-cita.

Sedangkan “pasukan terbaik” juga tak kalah berperan, ketika dengan sadar kita memilih jalan untuk dipimpin, jalanilah dengan penuh lapang dada, jadi penerima perintah yang baik dan profesional, loyal kepada pimpinan dan mengesampingkan ego, demi tercapainya cita-cita dan tujuan yang telah kita visikan bersama.

*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta