
Renungan Kemerdekaan:
Kalau Tidak Bisa Menyulam Minimal Jangan Merobeknya
Ali Nurdin*
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Merdeka diartikan dengan:
pertama bebas dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya.
Kedua, tidak terikat atau tergantung pada pihak tertentu.
Renungan kemerdekaan kita kali ini berangkat dari arti kata dalam kamus tersebut.
Pertama, benarkah kita sudah Merdeka yaitu bebas dari penghambaan dan penjajahan? Secara formal dan lahiriyah maka jawabannya “ya”.
Berkat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, kita berhasil Merdeka terbebas dari penjajahan pihak lain. Namun apakah benar kita sudah Merdeka dari penghambaan kepada selain Allah?
Misalnya kita tidak lagi menghamba dunia dengan segala asoserisnya. Biarlah Nurani yang menjawab.
Kedua, Benarkah kita tidak lagi bergantung kepada pihak tertentu dan hanya bergantung kepada Allah swt, lagi-lagi biarlah menjadi renungan kalbu kita.
Terlepas dari makna tersebut, yang pasti adalah para pendahulu kita telah mengorbankan segalanya untuk merebut kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Islam dan Kebebasan: Bagaimana Menjalani Kebebasan dengan Penuh Tanggung Jawab
Sikap orang yang beradab adalah menghormati pengorbanan para pejuang dan berusaha untuk melanjutkan perjuangan dalam bentuk lain yang tidak kalah mulianya yaitu perjuangan mengisi kemerdekaan sesuai dengan peran kita masing-masing.
Sungguh bukan sikap orang yang beradab, apabila tidak ikut berjuang, tidak ikut berkorban apapun untuk kemerdekaan tetapi malah berusaha merebut Indonesia dari fitrah aslinya yang bineka tunggal ika.
Kalau belum bisa berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik, minimal janganlah merusaknya dengan tindakan-tindakan yang tidak baik.
KALAU TIDAK BISA MENYULAM KAIN NKRI DENGAN BAIK, MINIMAL JANGAN MEROBEKNYA.
Dirgahayu Negeriku, Semoga selalu dalam Lindungan dan Ridha-Nya.
*Khadim Mahad Nurul Qur’an
