
Perjanjian Allah dengan Para Nabi — Tafsir Surah Ali Imran Ayat 81–83
Pendahuluan
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau.
Kajian kali ini membahas Surah Ali Imran ayat 81–83, dengan tema besar “Perjanjian Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Para Nabi.”
Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa kerasulan bukanlah hasil perjalanan spiritual pribadi, melainkan ketetapan langsung dari Allah.
1. Kerasulan: Bukan Karier Rohani, Tapi Pilihan Ilahi
“Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi…” — (Ali Imran 81)
Ayat ini menegaskan bahwa kenabian bukan karier, bukan sesuatu yang bisa “dicapai” karena kesalehan pribadi.
Rasul dipilih langsung oleh Allah — bukan hasil proses meritokrasi spiritual.
Allah sudah menetapkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.
Penetapannya sudah ada di sisi Allah, sementara deklarasinya terjadi di usia 40 tahun.
Karena itulah Rasulullah disebut “al-awwal wal-akhir” — yang awal dan yang akhir; pembuka sekaligus penutup para rasul.
Ini menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ sebagai sayyidul mursalin, pemimpin seluruh utusan Allah.
2. Nama Nabi Muhammad Tertulis dalam Taurat dan Injil
Perjanjian kenabian juga disebut dalam beberapa ayat lain:
a. Surah Al-Ahzab 33:7
“Kami telah mengambil perjanjian dari para nabi — darimu, dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam…”
Ayat ini menunjukkan lima nabi besar yang dikenal sebagai Ulul Azmi, para rasul yang memiliki keteguhan luar biasa.
b. Surah Al-A‘raf 7:157
“…mereka menemukan nama Nabi ummi itu tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.”
Nama Muhammad ﷺ sudah disebut secara eksplisit dalam kitab-kitab sebelumnya. Bahkan Nabi Isa ‘alaihis salam menegaskan kabar gembira tentang datangnya Rasul terakhir:
c. Surah As-Saff 61:6
“…Aku memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad.”
Namun sebagian ahli kitab menyembunyikan kebenaran itu, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Baqarah 2:146 — mereka mengenal Nabi Muhammad seperti mengenal anak-anak mereka sendiri, tapi menutupi fakta tersebut.
3. Semua Nabi Membawa Risalah yang Sama: Tauhid
Ayat 81 menegaskan kesatuan risalah para nabi.
Mereka datang dari zaman berbeda, tapi membawa ajaran yang sama: mengesakan Allah.
“Tidak ada rasul yang Kami utus sebelum engkau kecuali Kami wahyukan kepadanya: Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” — (Al-Anbiya 21:25)
Syahadat para nabi juga satu esensinya: Laa ilaha illallah.
Hanya bagian “rasulullah-nya” yang menyesuaikan dengan masa masing-masing.
Contoh: di zaman Musa, Asyhadu anna Musa Rasulullah; di zaman Muhammad, Asyhadu anna Muhammad Rasulullah.
4. Para Nabi Sebagai Saksi di Hari Kiamat
Ayat ini juga menggambarkan peran para nabi sebagai saksi di akhirat.
Setiap umat akan ditanya: apakah risalah telah disampaikan kepada kalian?
Para nabi menjawab: “Sudah, ya Allah.”
Lalu Allah bertanya: “Siapa saksimu?”
Mereka menunjuk Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau akan menjadi saksi atas seluruh umat manusia, sebagaimana disebut dalam An-Nisa 4:41.
Sebuah amanah besar sekaligus kemuliaan yang luar biasa.
5. Umat Muhammad: Umat Terbaik
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” — (Ali Imran 110)
Kita patut bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ.
Keimanan ini adalah anugerah terbesar, lebih berharga dari apa pun yang dikumpulkan manusia, sebagaimana disebut dalam Yunus 10:58:
“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira; itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
6. Siapa yang Menolak Risalah, Disebut Fasik
“Barang siapa berpaling setelah itu, mereka itulah orang-orang fasik.” — (Ali Imran 82)
Fasik berarti keluar dari jalan kebenaran setelah tahu kebenaran itu sendiri.
Ciri-cirinya dijelaskan di beberapa ayat:
- Mengingkari ayat Allah (Al-Baqarah 2:99)
- Melanggar perjanjian Allah dan memutus silaturahim (Al-Baqarah 2:27)
- Menyebarkan fitnah dan berita bohong (Al-Hujurat 49:6)
Dalam konteks modern, fasik bisa terjadi saat seseorang menyebarkan kebencian, memecah belah, atau menyebar hoaks — hal yang justru dilarang keras dalam Islam.
Bca juga: Tafsir Ali Imran 84–86: Allah Tidak Memberi Petunjuk kepada yang Zalim
7. Semua Makhluk Berserah Diri kepada Allah
“Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri semua makhluk di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa…” — (Ali Imran 83)
Semua ciptaan Allah sejatinya muslim — tunduk dan patuh kepada hukum alam ciptaan-Nya.
Langit dan bumi pun “berkata”: “Kami tunduk dengan patuh.” (Fussilat 41:11)
Kita sebagai manusia, diberi akal dan kebebasan memilih, justru punya amanah lebih berat.
Kalau makhluk tanpa akal saja taat, betapa zalimnya manusia yang menolak tunduk kepada Tuhannya (Al-Ahzab 33:72).
8. Menjadi Muslim yang Istikamah
Allah memerintahkan kita agar tidak mati kecuali dalam keadaan muslim (Al-Baqarah 2:132).
Karena siapa pun yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan berbuat ihsan, akan mendapatkan pahala dan kebahagiaan:
“Tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.” — (Al-Baqarah 2:112)
Bahagia sejati adalah saat hati tenang — tidak gelisah terhadap masa depan dan tidak menyesali masa lalu — karena yakin semua yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah.
9. Pandangan Tentang Hijrah dan Perbedaan dalam Umat
Dalam sesi tanya-jawab, Ustaz Ali Nurdin menyinggung tren “hijrah.”
Beliau menekankan dua hal utama:
- Niat yang lurus — hijrah bukan tren, tapi ibadah.
- Belajar kepada ahlinya — “Fas’aluu ahla dzikri in kuntum la ta’lamuun” (An-Nahl 16:43).
Pilih guru yang berwawasan luas dan menghargai perbedaan pandangan, bukan yang mengklaim paling benar sendiri.
Sikap terbaik adalah terbuka mendengar berbagai pendapat, lalu mengikuti yang paling baik di antaranya (Az-Zumar 39:18).
Begitulah ciri ulul albâb — orang berakal jernih yang diberi petunjuk oleh Allah.
10. Tentang Pernikahan Beda Agama
Ustaz Ali Nurdin menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberi dua sudut pandang:
- Al-Maidah 5:5 memperbolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan ahli kitab.
- Namun Al-Baqarah 2:221 melarang keras menikah dengan orang musyrik, karena pernikahan idealnya membawa kedua pasangan menuju surga.
Maka ukuran bukan sekadar “boleh atau tidak”, tetapi apakah membawa kebaikan dunia dan akhirat.
Kalau tidak mendukung keimanan dan ketenangan spiritual, maka sebaiknya dihindari.
11. Ujian, Musibah, atau Azab?
Hanya Allah yang tahu apakah yang menimpa kita itu ujian atau azab.
Tugas kita bukan menebak, tapi bersabar dan berhusnudzan kepada Allah.
Setiap musibah harus disikapi dengan Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un — kesadaran bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
12. Penutup dan Doa
Dari ayat-ayat ini kita belajar:
- Kenabian adalah ketetapan Ilahi.
- Semua nabi membawa risalah tauhid yang sama.
- Islam adalah agama fitrah yang mengajarkan ketundukan sejati.
- Umat Muhammad adalah umat terbaik bila konsisten menegakkan kebaikan.
“Ya Allah, berikan kami kekuatan untuk istiqamah dalam iman dan Islam, jadikan kami saksi kebaikan di muka bumi, dan wafatkan kami dalam keadaan muslim.” Aamiin.
Tonton Kajian Lengkapnya
Untuk pemahaman lebih dalam, tonton versi video kajian ini di YouTube Channel K.H. Dr. Ali Nurdin, M.A.
