
Mengapa Harus Bershalawat? Jawaban Penting tentang Keutamaan Shalawat untuk Nabi Muhammad
Ada satu ibadah yang begitu istimewa.
Saking istimewanya, sebelum Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melaksanakannya, Allah sendiri telah lebih dulu melakukannya. Bahkan para malaikat pun turut melakukannya.
Ibadah itu adalah bershalawat kepada Nabi Muhammad
Makna Shalawat
Kata shalawat berasal dari kata shalâh yang berarti doa dan pujian.
Dalam ayat “Innallâha wa malâikatahu yushallûna ‘alan nabiyy…” kata صَلُّوْا (shallû) diambil dari shalâh yang maknanya mencakup menyebut kebaikan, ucapan yang mengundang rahmat, serta doa kebaikan.
Sementara kata سَلِّمُوْا (sallimû) berasal dari salâm —yang berakar dari huruf sîn, lâm, dan mîm— bermakna luput dari kekurangan dan kerusakan. Maka, ucapan salam adalah doa keselamatan dan kedamaian bagi yang dituju. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah)
Makna shalawat pun berbeda tergantung siapa yang melakukannya:
– Jika dilakukan oleh Allah, artinya curahan rahmat dan kasih sayang-Nya.
– Jika dilakukan oleh malaikat, berarti permohonan ampun dan peninggian derajat bagi Nabi.
– Jika dilakukan oleh manusia, artinya doa agar Allah melimpahkan rahmat, kemuliaan, dan keselamatan kepada Rasulullah.
Perintah Langsung dari Allah
Bershalawat adalah bentuk ketaatan kepada perintah Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi.620) Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.621) (Al-Aḥzāb [33]:56)
Perintah ini begitu unik. Tidak ada ibadah lain yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan para malaikat melakukannya terlebih dahulu. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Nabi Muhammad di sisi Allah.
Mengapa Kita Maih Perlu Bershalawat?
Sebagian orang mungkin bertanya,
“Kalau Nabi sudah dijamin surga, untuk apa kita mendoakan beliau?”
Pertanyaan ini muncul karena salahnya pemahaman terhadap doa. Doa dianggap hanya sebagai bentuk permohonan bagi yang membutuhkan. Padahal tidak selalu demikian.
Prof. Quraish Shihab menjelaskan, shalawat justru adalah ungkapan rasa terima kasih dan cinta kepada Nabi. Beliau menyampaikan:
“Paling tidak, shalawat adalah bentuk rasa terima kasih kita kepada Nabi Muhammad yang telah berjuang dengan seluruh kemampuan dan tenaganya untuk mengajak kita kepada kebaikan.
Kita tidak akan pernah mampu membalas jasa beliau. Karena itu, Allah berfirman seakan berkata: ‘Kalian tidak dapat membalas budi Nabi, maka mintalah kepada-Ku agar Aku yang membalas untuk kalian.’”
Jadi, ketika kita bershalawat, sesungguhnya bukan sedang memohon agar Nabi diampuni —karena sejatinya Nabi Muhammad ma’shum/ terjaga dari dosa, melainkan karena kita yang butuh untuk menunjukkan cinta dan penghargaan kepada sosok yang telah menuntun umat manusia dari gelap menuju cahaya. Kita mohonkan agar Allah terus melimpahkan rahmat dan kemuliaan kepada kekasih-Nya sebagai wujud cinta, syukur, dan penghormatan, dan keinginan untuk turut dalam arus rahmat yang Allah limpahkan kepadanya.
Keutamaan Bershalawat
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. An-Nasai)
Artinya, setiap kali seorang hamba bershalawat, Allah membalasnya dengan sepuluh rahmat dan kemuliaan. Menurut ulama besar Qadli ‘Iyadl (dikutip oleh Sirojudin Al-Husaini), makna shalawat Allah kepada orang yang bershalawat pada Nabi adalah pemberian rahmat, pengampunan, dan pelipatgandaan pahala bagi hamba tersebut.
Baca juga: Allah Pelindung Orang-Orang Mukmin — Tafsir Ali Imran 68–70
Allah bahkan menyebut orang itu di hadapan para malaikat, sebagaimana dalam hadis qudsi:
“Jika seorang hamba mengingat-Ku di suatu majelis, maka Aku akan mengingatnya di majelis yang lebih mulia.” (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam)
Teladan dari Para Sahabat
Para sahabat Nabi yang sudah dijamin surga pun tetap saling meminta doa.
Diriwayatkan, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib pernah meminta Uwais al-Qarni agar berdoa dan memohonkan ampunan untuknya, karena Rasulullah pernah bersabda bahwa Uwais adalah seorang faqir, pemuda yang sangat berbakti pada orang tua, penghuni langit dan doanya sangat mustajab. Padahal, sesungguhnya Umar adalah sahabat yang telah dijamin surga.
Rasulullah SAW bersabda:
أبو بَكْرٍ في الجنَّةِ ، وعمرُ في الجنَّةِ ، وعُثمانُ في الجنَّةِ ، وعليٌّ في الجنَّةِ ، وطَلحةُ في الجنَّةِ والزُّبَيْرُ في الجنَّةِ ، وعبدُ الرَّحمنِ بنُ عوفٍ في الجنَّةِ ، وسعدُ بنُ أبي وقَّاصٍ في الجنَّةِ ، وسَعيدُ بنُ زيدٍ في الجنَّةِ ، وأبو عُبَيْدةَ بنُ الجرَّاحِ في الجنَّةِ
“Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad bin Abi Waqqash di surga, Sa’id bin Zaid di surga, Abu Ubaidah bin Al Jarrah di surga”
Shalawat sebagai Wujud Cinta
Kita bershalawat bukan karena Nabi butuh doa kita,
tetapi karena Allah memerintahkannya, dan karena itulah bentuk cinta, rasa syukur, dan penghormatan tertinggi kepada Rasulullah ﷺ.
Mari kita basahi lisan dengan shalawat kepada Nabi:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muhammad.
Semoga dengan setiap shalawat yang terucap,
Allah limpahkan rahmat kepada Rasulullah — dan sepuluh rahmat pula kepada kita yang bershalawat kepadanya.
Melinda Aprilyanti Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
