Search

Lakukan Aja dulu, Nanti juga Ikhlas

Lakukan Aja dulu, Nanti juga Ikhlas

Lakukan Aja dulu, Nanti juga Ikhlas

Abdul Aziz*

azizhebat.ah@gmail.com

Dalam beribadah rasanya kok sulit banget ya untuk ikhlas, terkadang malah suka pamrih dan riya, dalam hati saya bertanya-tanya mengapa ikhlas itu sulit sekali?

Ikhlas adalah kata kunci dalam beragama, karena menjadi penentu diterima atau tidaknya amal perbuatan kita di hadapan Allah swt. Sesuatu yang dikerjakan tanpa didasari keikhlasan menjadi tidak bermakna atau sia-sia di mata Allah swt. Dalam Q.S Al Bayyinah: 5 Allah berfirman

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)” (QS Al-Bayyinah [98]: 5).

Kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah untuk dilaksanakan, itulah ikhlas. Menjadi orang yang ikhlas sering kali menemui banyak godaan. Hati kadang dihampiri oleh rasa ingin dipuji, dikagumi, dan dinilai lebih dari pada yang lain. Apa mungkin ini juga kita alami? Mari tanyakan pada hati kita masing-masing!

Baca juga: Benarkah Nabi Muhammad Tak Pandai Membaca?

Ikhlas berasal dari kata akhlasha-yukhlishu yang artinya memurnikan dan membersihkan noda dan aib. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Q.S An Nahl:66, terdapat ungkapkan labanan Khalishan (susu murni) yang menunjukkan ketiadaan sedikitpun campuran yang menodai kemurniannya.

Secara bahasa, ikhlas berarti memurnikan, membersihkan, dan menghilangkan segala noda, fisik, maupun psikis, lahir maupun batin yang dapat mengotori kemurnian hati dalam melakukan sesuatu.

Menurut Ibnu Al Qayyum Al jauziy, perbuatan hati adalah pangkal, sedangkan perbuatan anggota badan adalah penyerta atau penyempurna dari perbuatan hati. Niat bagaikan ruh, sedangkan amal adalah fisiknya. Karena itu yang dinilai Allah kelak adalah hati dan amal. Nabi Muhammad saw. bersabda

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ  رواه مسلم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi ia melihat hati dan amal kalian”. (HR. Muslim)

            Mewujudkan rasa ikhlas dalam setiap perbuatan bukanlah perkara mudah, namun juga bukan perkara yang mustahil untuk diwujudkan karena pada dasarnya manusia itu dilahirkan dengan fitrah yang murni dari Tuhan, hanya saja manusia itu sendirilah yang senang mengondisikannya sehingga kesempurnaan menjadi berkurang.

Hal ini akibat berbagai pengalaman hidup dan ketidaktepatan dalam berfikir sehingga hidupnya penuh kesulitan. Atau dengan kata lain ikhlas merupakan sikap dan pengelolaan diri masing-masing orang. Untuk itu perlu adanya latihan yang terus menerus supaya ikhlas dalam perbuatan sudah mendarah daging.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan supaya kita ikhlas dalam beramal/beribadah, di antaranya seperti yang dijelaskan Muhbib Abdul Wahab:

Pertama, fokuskan hati, pikiran, dan kinerja semata-mata karena mengharap ridho Allah. Kedua, belajar menerima semua syariat Allah. Ketiga, belajarlah melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain. Keempat, belajarlah melupakan keburukan orang lain kepada kita.

Selain kita-kiat di atas, tentu banyak lagi cara yang dapat kita lakukan agar kita menjadi mukhlis, orang yang ikhlas, tergantung bagaimana upaya kita untuk menyemai benih ikhlas dalam hati sehingga setiap perbuatan kita sudah tertancap rasa ikhlas. Untuk itu, lakukan aja dulu amal ibadah dan pekerjaan lainnya meskipun kita belum ikhlas sepenuhnya, dengan upaya yang kuat insya Allah rasa ikhlas akan menyertai kita. Amiin

*Alumni Pesantren Nurul Qur’an Pamulang dan Guru SDI Al Azhar 8