Search

Kisah Sahabat Rasulullah Amr bin Ash: Sang Penakluk Mesir

Ahmad Syafaat M*

Kisah Sahabat Rasulullah Amr bin Ash: Sang Penakluk Mesir

Kisah Sahabat Rasulullah Amr bin Ash: Sang Penakluk Mesir

Amr bin Ash merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang telah memberikan sumbangsih begitu besar bagi penyebaran Islam. Di tangan dia, negeri tempat peradaban purba dunia, Mesir, dapat ditaklukkan oleh umat Islam. Ia menaklukkan Mesir sesuai dengan perintah Khalifah Umar bin Khattab untuk menegakkan agama Islam di tanah Mesir dan menjadi salah satu daerah strategis untuk menyebarkan agama Islam.

Namun sayangnya, penaklukkan Mesir tidak semudah yang dibayangkan dan harus mempunyai strategi dan perhitungan yang matang. Sebab, Mesir saat itu dikuasai oleh Imperium Romawi, kerajaan Byzantium Timur.

     Awalnya, Umar bimbang atas ide itu karena khawatir pengaruh Islam tidak kuat di negeri-negeri yang telah ditaklukkan, seperti Syam. Tetapi, Amr bin Ash terus mendesak Umar dengan memberikan pertimbangan Mesir adalah negeri yang subur dan sangat strategis bagi perkembangan Islam.

     Akhirnya, Umar menyetujui ide itu dan berangkatlah Amr bin Ash bersama 4.000 tentara. Jumlah itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan kekuatan tentara Romawi. Tetapi, Amr bin Ash tidak merasa keberatan dengan jumlah pasukan sedikit itu. Karena di dalam hati dan pikiran Amr bin ‘Ash beserta pasukannya tak pernah merasa takut berhadapan dengan musuh-musuh Allah.

     Meskipun, peralatan perang mereka hanya bermodalkan pedang, panah, kendaraan kuda dan unta, pelontar batu bekas rampasan perang, serta pelindung baju perang (zirah), tetapi mereka sama sekali tidak merasa takut, bahkan ada di antara mereka mengharapkan mati syahid di medan perang.

Sebelum sampai di Mesir, Khalifah Umar bin Khattab tak henti berkomunikasi dengan Amr bin ‘Ash melalui perantara surat Menyurat. Ada satu surat yang belum dibuka hingga Amr bin ‘Ash memasuki tanah Mesir.

Isi surat tersebut.

     “Berangkatlah dan aku berikhtiar kepada Allah atas keberangkatanmu. selanjutnya, suratku akan datang menyusul dengan izin Allah. jika suratku tiba kepadamu sebelum engkau memasuki wilayah Mesir, kembalilah.  Namun, jika engaku sudah berada di berada di Mesir sebelum suratku datang, teruskanlah. Mintalah bantuan dan pertolongan kepada Allah dan ketahuilah aku terus memantaumu.”      

     Amr bin Ash membawa bala tentaranya menuju Al-Arisy melalui padang Sinai. Sesampai di sana, ia kemudian menyisir kota itu dan tidak mendapat perlawanan yang berarti, sehingga kota itu dapat dengan mudah ditaklukkan.

Baca Juga: Meneladani Imam An-Nawawi: Motivasi bagi Generasi Muda Muslim

     Rombongan Amr bin Ash kemudian melanjutkan perjalanan menuju Al-Farma, yang merupakan pintu gerbang Mesir dengan benteng pertahanan yang sangat ketat. Menyadari hal itu, Amr bin Ash tidak langsung menyerang dan memilih menjalankan strategi lain.

Strategi yang diambil yaitu mengepung kota Al-Farma selama satu bulan penuh. Setiap logistik yang akan masuk ke kota itu dicegah, menyebabkan warga Al-Farma kekurangan bahan pangan. Kapal-kapal dibakar oleh pasukan Amr bin ‘Ash dengan maksud mencegah penyaluran distribusi barang dan penambahan pasukan untuk pasokam di dalam benteng Al-Farma

     Strategi itu berhasil. Walikota Al-Farma kemudian menyerah kepada Amr bin Ash. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju kota Bilbis. Di kota ini lah Amr bin Ash menemukan tantangan. Dia bersama bala tentaranya harus bertempur selama sebulan penuh melawan tentara Romawi dengan jumlah berpuluh kali lipat. Menghadapi hal itu, Amr bin Ash tidak gentar. 

Kisah Sahabat Rasulullah Amr bin Ash: Sang Penakluk Mesir
Ilustrasi Mesir Kuno

     Setiap mereka hendak berperang, Ia senantiasa membangkitkan semangat untuk penegakkan Islam dan keberanian mereka yang berperang dengan rasa kecintaaan kepada Agama Allah, dan apabila mereka meninggal di medan perang maka meraka akan mati Syahid. Dengan izin Allah dan perjuangan pasukan Amr bin ‘Ash, akhirnya Kota itu jatuh pula ke tangan umat Islam.

     Puncak perjuangan Amr bin Ash terjadi tatkala menaklukkan kota Ummu Dunein, sebuah kota yang terletak di tepi sungai Nil. Amr bin Ash pun terpaksa meminta bala bantuan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Penyebabnya, kekuatan tentara Islam melemah karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh serta melakukan pertempuran.

     Khalifah Umar pun mengabulkan permintaan itu dan mengirim 4.000 tentara tambahan di bawah pimpinan Zubair bin Awwam, Muqdah bin Aswad, Ubadah bin Shamit, dan Maslamah bin Mukhallad.

      Mendapat bantuan itu, jiwa kepemimpinan Amr bin Ash semakin menyala dan mampu membangkitkan semangat tentaranya. Akhirnya, tentara Romawi kewalahan menghadapi gempuran Amr bin Ash, dan jatuhlah Ummu Dunein ke tangannya.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut? Islam mengajarkan kita untuk senantiasa mempertahankan agama-Nya sesuai dengan posisi dan kapasitas kita. Amr bin ‘Ash sosok tangguh dan bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diamanahkan kepadanya yakni menaklukkan Mesir untuk pengembangan agama Islam. Yah, kita juga sebagai umat manusia harus bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diamanahkan, apapun itu.

Apalagi tugas untuk menyampaikan dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Karena, sejatinya manusia yang terbaik adalah manusia yang berguna untuk orang lain.

*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta