Search

Cara Menghadapi Masalah Hidup yang Tak Kunjung Usai Menurut Al-Qur’an

Ketika Masalah Terasa Tak Berujung, Al-Qur’an Mengajarkan Ketenangan

Setelah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad, Allah tidak membiarkan beliau berjalan sendiri. Allah memberikan jaminan ketenteraman, penyertaan dalam setiap keadaan (baik suka maupun duka), serta penguatan dengan mengingatkan bahwa persoalan-persoalan di masa lalu telah Allah selesaikan dengan sempurna.

Pesan ini mengajarkan kepada kita:
jika persoalan sebesar yang dihadapi Rasulullah saja Allah mampu mengentaskannya, maka persoalan yang kita alami hari ini pun sangat mudah bagi Allah untuk menyelesaikannya.

Keyakinan ini menghadirkan ketenangan dalam jiwa, kelapangan dalam hati, dan pelajaran besar bagi kita sebagai umatnya. Sebab Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā”
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(QS. Al-Baqarah: 286)

Allah mudah mengentaskan segala persoalan, sebagaimana persoalan-persoalan di masa lalu telah diselesaikan dan dihadirkan solusinya.

Dalam Surah Ad-Dhuha, Allah mengajarkan satu keyakinan penting:
dalam keadaan apa pun, baik suka ataupun duka, Allah tidak meninggalkan hamba-Nya. Allah pasti menolong dan Allah pasti mengentaskan kesulitan. Keyakinan inilah yang melapangkan hati, setidaknya secara psikologis, menghadirkan ketenangan dalam jiwa.

Keadaan hati yang lapang, tenang, dan nyaman, membuat diri mudah menerima petunjuk dan mampu melahirkan tindakan yang tepat.
Kelapangan itu dinamakan insyirāḥ.

Karena itulah, makna Surah Ad-Dhuha dikuatkan dan disempurnakan oleh Surah Al-Insyirah. Dalam urutan mushaf, surah ini berada pada urutan ke-94. Allah berfirman:

“Alam nashraḥ laka ṣadrak”
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
(QS. Al-Insyirah: 1)

Subḥānallāh.

Baca Juga: Cara Menghadapi Masalah Hidup ala Nabi: Tetap Tenang dan Percaya pada Allah

Nabi Musa ‘alaihis salām, saat hendak berdakwah menghadapi Fir‘aun, masih memohon kepada Allah:

“Rabbi-shraḥ lī ṣadrī”
Wahai Rabbku, lapangkanlah dadaku.

Sedangkan Nabi Muhammad ﷺ belum memohon, Allah telah lebih dulu menetapkan:

“Alam nashraḥ laka ṣadrak.”

Pesan ini memberi gambaran yang sangat kuat bagi kita:
dengan kelapangan hati, persoalan besar akan mengecil, dan persoalan kecil tidak lagi menguasai diri.

Maka ayat ini mengajarkan satu prinsip pertama dalam menghadapi masalah:
Lapangkan hati terlebih dahulu.
Tenanglah dalam menghadapi keadaan.

Demi Allah, kegelisahan tidak menghentikan masalah.
Keluh kesah tidak membuat persoalan selesai.

Maka Al-Qur’an seakan berkata:
Tenangkan dulu hatimu. Bukankah Allah telah memberimu kelapangan?

Jika Allah telah menghadiahkan kedamaian,
mengapa kita memilih gelisah?

Allah melanjutkan firman-Nya:

“Wa waḍa‘nā ‘anka wizrak”
Dan Kami telah mengangkat bebanmu.

Melalui kaidah tafsir:

“Al-‘ibratu bi ‘umūmil lafẓi lā bi khuṣūṣis sabab”
Pelajaran Al-Qur’an berlaku umum, tidak terbatas pada sebab turunnya.

Seolah Allah berpesan kepada kita:
“Tenanglah. Bukan hanya engkau yang punya masalah. Para rasul dan nabi pun diuji—bahkan ujian mereka jauh lebih berat. Namun Aku ringankan dan Aku lepaskan.”

Ada beban yang tidak kita pikul secara fisik, namun terasa menekan dari kepala hingga kaki. Kata Allah:
Tenang. Dulu pun engkau punya banyak masalah, dan Aku telah melepaskannya.

Dan jika hari ini engkau tenang, ridha, dan menghadirkan kedamaian dalam jiwa, maka Allah akan mengentaskan persoalanmu dan menghilangkan bebanmu.

Allah bahkan menjanjikan pengangkatan derajat dan nama bagi orang-orang yang tenang dalam ujian. Orang yang jernih melihat persoalan akan Allah apresiasi, Allah muliakan, dan Allah ringankan bebannya.

Lalu Allah menegaskan dengan penuh keindahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. (Asy-Syarḥ [94]:5)

Tanamkan dalam jiwa:
“Ini pasti selesai.”
“Setiap kesulitan pasti ada kemudahan.”
“Tidak ada masalah tanpa solusi.”

Bagaimana caranya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain). (Asy-Syarḥ [94]:7)


Inventarisir masalah, tata dengan tenang, lalu berikhtiarlah.

Dan akhirnya:

وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ

dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!. (Asy-Syarḥ [94]:8)

Setelah berusaha, bertawakallah kepada Allah.

Al-Insyirah adalah pelajaran tentang kelapangan jiwa.
Dan jiwa yang tenang akan melahirkan solusi, kreativitas, dan jalan keluar terbaik.

Ceramah Ustadz Adi Hidayat dengan Judul Surah Penenang Hati Pembawa Solusi Part 2 – Ustadz Adi Hidayat