Search

Keteguhan Jiwa di Tengah Ujian (Tafsir Surah An-Nahl Ayat 126–127 dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern)

Keteguhan jiwa

Keteguhan Jiwa di Tengah Ujian

 (Tafsir Surah An-Nahl Ayat 126–127 dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern)

Devi Cahya Safitri*

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّٰبِرِينَ

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (Q.S an-Nahl [16] : 126)

وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (Q.S an-Nahl [16] : 127)

Di tengah kerasnya kehidupan, manusia sering kali diuji dengan berbagai macam kesulitan: fitnah, ketidakadilan, hingga kezaliman dari orang lain. Dalam situasi seperti itu, Al-Qur’an menawarkan bimbingan moral dan spiritual agar umat Islam tidak tergelincir ke dalam balas dendam atau keputusasaan. Dua ayat dalam Surah An-Nahl, yakni ayat 126 dan 127, menjadi penuntun yang sangat penting dalam konteks ini. Ayat-ayat ini turun di Makkah menjelang hijrah, ketika kaum Muslimin mengalami penindasan berat namun belum diizinkan membalas dengan kekerasan.

Ayat ini turun sebagai penghibur bagi Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang tengah berada dalam tekanan psikologis dan fisik dari kaum musyrikin Quraisy. Sabab nuzulnya menurut riwayat dari Mujahid dan Qatadah berkaitan dengan pembunuhan Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Uhud, di mana kaum Muslimin mengalami kekalahan menyakitkan. Nabi Muhammad SAW kala itu sempat terpikir untuk membalas dendam dengan cara yang sebanding. Namun, ayat ini menahan gejolak itu dan mengarahkan kepada sikap yang lebih luhur: sabar dan menahan diri.

Baca Juga: Aku Dekat: Janji Allah Yang Mengubah Cara Kita Berdoa

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Islam membolehkan pembalasan yang setimpal dalam keadilan, tetapi menganjurkan pemaafan dan kesabaran sebagai bentuk kemuliaan akhlak.

Sementara itu, Al-Qurtubi menyatakan bahwa ayat ini tidak hanya menyentuh aspek hukum qishash, tapi juga menanamkan nilai-nilai kedewasaan spiritual dan kontrol diri yang sangat tinggi.

 Tafsir Al-Baghawi menggarisbawahi bahwa sabar dalam ayat ini bukanlah bentuk kelemahan, melainkan manifestasi kekuatan batin.

Sementara Al-Razi dalam tafsirnya menyampaikan bahwa anjuran bersabar ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, yang tidak ingin mereka terbebani dengan urusan pembalasan yang bisa mencemari hati dan pikiran.

Pandangan kritis terhadap ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama pasif, tetapi aktif dalam membina masyarakat yang adil dan bermartabat. Meskipun balasan dibolehkan, Islam mempersilakan sabar sebagai pilihan moral yang lebih tinggi. Dalam dunia modern, di mana konflik dan perbedaan pendapat seringkali menimbulkan gesekan, pesan ayat ini terasa sangat relevan. Ketika manusia hari ini mudah tersinggung dan cepat membalas melalui media sosial atau bahkan kekerasan, ayat ini menawarkan alternatif yang jauh lebih konstruktif: tahan amarah, kendalikan diri, dan serahkan hasilnya kepada Allah.

Hikmah dari ayat ini tidak hanya relevan dalam konteks peperangan atau permusuhan besar, tetapi juga dalam dinamika kehidupan sehari-hari: saat kita difitnah, dijatuhkan, atau disakiti oleh orang lain. Memilih untuk membalas bisa menyenangkan ego sesaat, tetapi memilih untuk bersabar dan memaafkan membebaskan jiwa dari dendam dan luka yang berkepanjangan. Kesabaran, sebagaimana ditekankan Allah dalam ayat 127, bukanlah kemampuan manusia semata, melainkan pertolongan dari Allah artinya, sabar adalah bentuk ketundukan dan kepercayaan penuh pada rencana ilahi.

Baca Juga: Ujian Besar di Balik Nikmat dan Hikmah di Balik Kesulitan dalam QS. Ibrāhīm [14]: 6–7

Dengan demikian, dua ayat dari Surah An-Nahl ini tidak hanya menyuarakan semangat keadilan, tetapi juga memperkuat jiwa dengan nilai luhur kesabaran. Di tengah dunia yang penuh dengan ketegangan, permusuhan, dan ketidakadilan, ajaran ini menjadi pegangan penting bagi siapa saja yang ingin hidup dengan hati yang damai dan hubungan yang harmonis.

Kesimpulannya, Islam tidak mengekang hak balas dendam dalam batas keadilan, namun lebih mengagungkan pemaafan dan kesabaran. Rasulullah sendiri adalah teladan dari ayat ini walaupun meski mampu membalas, beliau memilih memaafkan. Maka, jika kita ingin menjadi bagian dari umat yang terbaik, kita harus menjadikan sabar sebagai perisai, dan keikhlasan sebagai kompas dalam menghadapi luka kehidupan. Ayat ini adalah pelita bagi mereka yang terluka, sekaligus kekuatan bagi mereka yang ingin bangkit dengan cara yang elegan dan mulia.

*Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta