
Cara Membangun Keluarga Sakinah: Teladan dari Kisah Nabi Zakaria
Nabi Zakaria dan keluarganya disanjung oleh Allah karena memiliki kriteria keluarga yang patut dijadikan teladan. Hal inilah yang membuat doanya supaya dikaruniai seorang anak walau dalam kondisinya yang sudah tua dan memiliki istri yang mandul dikabulkan. Al-Quran sebagai sumber paling valid dalam Islam telah menceritakan kisah sebagai pelajaran bagi pemeluknya.
Zakaria, selain sebagai Nabi, beliau juga merupakan seorang kepala keluarga yang memberikan teladan begi penerusnya. Kesabarannya beribadah telah menuai hasil yang terekam dalam firman Allah, “Maka Kami kabulkan (doa) nya, dan Kami anugerahkan kepadanya, Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka orang-orang yang khusuk kepada kami.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 90)
Dalam ayat ini, ada tiga hal yang menjadi kriteria keluarga idaman. Pertama, bersegera dalam mengerjakan kebaikan. Kebaikan di sini bisa berupa kewajiban agama atau kewajiban sebagai warga negara, menolong orang lain, menjaga lingkungan, dan segala hal yang bernilai positif dan bermanfaat. Setiap kebaikan yang kita kerjakan akan dibalas sepuluh kali lipat dari perbuatan baik tersebut (QS. Al-An’am [6]: 160). Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak akan berakhir dengan sia-sia. Ia merupakan perantara untuk tercapainya keinginan kita.
Baca juga: Mengungkap Akar Islamofobia: Luka Lama Penjajahan
Kedua, bersikap optimis dan istiqomah. Sikap inilah yang memudahkan kita untuk menjalani kehidupan tanpa resah. Tidak ada kata putus asa untuk selalu mengangkat tangan dan menengadahkan wajah kepada Tuhan untuk berdoa sampai diijabah. Nabi SAW. pun telah bersabda, “Allah malu untuk membiarkan hambanya yang berdoa memohon kebaikan dengan membentangkan ke dua tangannya berada dalam keadaan sia-sia.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
Ketiga, selalu bersikap khusyuk dalam setiap tindakan. Khusyuk merupakan rasa rendah hati dan takut kepada Allah. Memiliki sikap khusyuk berarti kita harus menanggalkan sikap sombong dan ujub, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan selalu merasa diawasi oleh Allah.
Di tengah kondisi masyarakat kita yang semakin hari moralnya semakin terkikis dengan gemerlap dunia, maka setiap orang harus mempersiapkan diri dan keluarganya dengan sikap seperti yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria di atas. Kriteria keluarga seperti ini harus kita tanamkan dalam masyarakat Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis moral dan spiritual. Bangsa Indonesia membutuhkan kriteria keluarga yang selalu mengerjakan kebaikan tanpa menunda, bersikap optimis dan konsisten dalam berprilaku, dan khusuk bersikap serta takut untuk berbuat maksiat karena merasa selalu diawasi oleh Allah. Wallahu a’lam.
Artikel ini hasil publikasi ulang dari blog pribadi Ust. Saiful Arifyazid, Keluarga Idaman , yang di akses pada 12 Juli 2024.
