Search

Berdo’a, Ibarat Seperti Mengetuk Pintu

Berdo’a, Ibarat Seperti Mengetuk Pintu

Berdo’a, Ibarat Seperti Mengetuk Pintu

Abdul Aziz*

Bagi seorang Muslim, do’a adalah sebuah instrumen penting dalam kehidupan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdo’a menjadi cara yang efektif untuk berkomunikasi antara seorang Muslim dengan Tuhan-Nya. Lewat do’a, manusia bisa berkeluh kesah, memohon pertolongan, dan sekaligus mengakui bahwa manusia adalah hamba yang tidak punya kuasa apa-apa, Tuhanlah yang mempunyai kuasa atas segalanya. Allah berfirman dalam Q.S (Ghafir/Mu’minun. 40:60)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa doa dalam ayat ini berarti “permohonan“. Sebenarnya do’a dan ibadah itu adalah sama dari sisi bahasa. Hanya yang pertama berarti khusus sedang yang kedua berarti umum. Do’a adalah salah satu bentuk atau cara dari ibadah. Hal ini berdasar hadits: Do’a itu adalah inti ibadah. (Riwayat At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)

Baca juga: Hikmah Urutan Surah dalam Al-Qur’an: Menyelami Keindahan Susunan Ilahi.

Ada kisah menarik tentang berdo’a yang sangat relevan untuk diterapkan di era sekarang di mana setiap permintaan maunya dikabul secara instan.

“Dikisahkan ada seorang laki-laki taat, beriman, dan kuat berdoa setiap hari kepada Allah. Suatu ketika iblis menghampirinya dan berusaha untuk untuk menjalankan misinya. Iblispun mulai menggoda laki-laki tersebut.

“Semua do’a-do’amu tidak pernah sekalipun dijawab oleh Allah. Kenapa kamu membuang-buang waktu hanya untuk berdo’a?” Goda iblis kepada laki-laki itu.

Laki-laki taat itupun akhirnya terpengaruh oleh godaan iblis tersebut. Kemudian dia pergi tidur, dalam mimpinya dia melihat nabi Khidir.

Kenapa kamu menyerah dengan do’a-do’a mu? Tanya sang Nabi kepadanya. Laki-laki tersebut pun menjawab bahwa dia menyerah karena do’a-do’anya tidak pernah dikabulkan oleh Allah.

Kami adalah jawaban dari do’a-do’amu, semakin besar usahamu/do’amu maka akan semakin dekatlah kami.”

Dari kisah di atas, kita bisa melihat bahwa do’a-doa yang kita panjatkan tidak langsung terkabul begitu saja. Berdo’a sama seperti mengetuk sebuah pintu, ketika tampak seperti tidak ada jawaban bukan berarti sebuah penolakan. Ketika tidak ada jawaban berarti saatnya kita berfikir bahwa do’a yang belum terjawab tersebut tersirat makna bahwa “Allah lah yang memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menolongmu”.

Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah/2:216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Ketika seorang hamba memaksa Tuhan-Nya untuk mengabulkan segala do’a-doa dan permintaannya, maka itu merupakan sebuah hal yang melewati batas. Seperti hal nya orang yang sedang sakit kemudian mendatangi dokter untuk berobat dan berkata: “Bagaimanapun kamu harus memberikan aku obat ini dan obat itu”. Bukanlah sebuah kesalahan jika sang dokter mengatakan, “Obat ini dan itu tidak cocok untuk penyakitmu”. Kenapa demikian, karena dokterlah yang lebih mengetahui obat atau penanganan yang harus diberikan kepada si pesakitan tersebut.

Berdo’a sama seperti mengetuk sebuah pintu. Kapan pintu itu dibuka adalah hak prerogratif sang pemilik rumah. Kita hanya meminta jangan sampai kita melampaui batas yang ada. Semoga kita bisa menjadi hamba yang arif dan bijak dalam berdo’a. Tugas kita hanya berdo’a dengan sungguh-sungguh dan penuh harap kepada Allah, urusan dikabul dan tidak mari kita serahkan kepada Allah yang mengetahui segalanya. Wallahu A’lam Bissawab.

*Alumni Pesantren Nurul Qur’an Pamulang dan Guru SDI Al Azhar 8