Search

Tafsir Surah Āli ‘Imrān Ayat 5–7: Menemukan Ketenangan dalam Keyakinan bahwa Allah Mengetahui Segalanya

Ali Imran

Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak diketahui manusia. Ada kebaikan yang dilakukan dalam kesunyian, doa yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, air mata yang jatuh tanpa diketahui orang lain, hingga persoalan hidup yang terkadang terasa begitu berat untuk dijelaskan. Namun, tidak ada satu pun yang tersembunyi dari Allah.

Pesan inilah yang menjadi salah satu pokok penting dalam kajian Tafsir Surah Āli ‘Imrān ayat 5–7 bersama Ustadz Assoc. Prof. Dr. Ali Nurdin, M.A., C.A.H. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak untuk membangun keyakinan bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan makhluk-Nya. Keyakinan tersebut pada akhirnya tidak hanya melahirkan rasa takut terhadap dosa, tetapi juga menghadirkan ketenangan, optimisme, syukur, husnuzan kepada Allah, serta keyakinan terhadap kebenaran dan kemurnian Al-Qur’an.

Tidak Ada yang Tersembunyi dari Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit. (Āli ‘Imrān [3]:5)

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah. Apa pun yang dilakukan manusia, baik yang terlihat maupun yang dilakukan dalam kesendirian, seluruhnya berada dalam pengetahuan-Nya.

Keyakinan ini semestinya melahirkan dua sikap sekaligus.

Pertama, jangan berkecil hati ketika melakukan kebaikan yang tidak diketahui manusia. Ketika Allah memberikan kemampuan kepada seseorang untuk melakukan kebaikan, ia tidak perlu pesimis hanya karena amal tersebut tidak mendapatkan pujian atau penghargaan dari manusia. Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya dan tidak akan menyia-nyiakannya.

Kedua, sebaliknya, keyakinan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu juga menjadi pengingat agar manusia tidak merasa aman ketika melakukan keburukan. Sesuatu yang berhasil disembunyikan dari manusia tidak akan pernah tersembunyi dari Allah.

Dengan demikian, kehidupan seorang mukmin tidak seharusnya bergantung pada penilaian manusia. Ia berbuat baik bukan semata-mata agar dilihat, dipuji, atau mendapatkan pengakuan, tetapi karena yakin bahwa Allah melihat dan mengetahui seluruh amalnya.

Luasnya Ilmu Allah

Al-Qur’an memberikan sejumlah perumpamaan untuk menggambarkan betapa luasnya ilmu dan kalimat Allah. Salah satunya adalah firman-Nya:

وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) ditambah tujuh lautan lagi setelah (kering)-nya, niscaya tidak akan pernah habis kalimatullah601) (ditulis dengannya). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqmān [31]:27)

Ayat tersebut menggunakan sebuah pengandaian. Seandainya seluruh pohon di bumi dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta, kemudian ditambahkan lagi tujuh lautan setelahnya, tetap tidak akan cukup untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah.

Angka tujuh dalam penggambaran tersebut dapat dipahami sebagai ungkapan metafora yang menggambarkan betapa luas dan tidak terbatasnya ilmu serta kalimat-kalimat Allah. Penyebutan angka tujuh bukan semata-mata untuk menunjukkan bilangan matematis tertentu. Dalam ungkapan sehari-hari pun, angka tertentu kerap digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat banyak atau berlangsung terus-menerus, seperti ungkapan “tujuh turunan” atau “pusing tujuh keliling”.

Gambaran serupa juga ditemukan dalam firman Allah:

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Al-Kahf [18]:109)

Kedua ayat tersebut membawa manusia kepada satu kesadaran: ilmu manusia sangat terbatas, sementara pengetahuan Allah tidak terbatas.

Bahkan, dalam keadaan yang menurut manusia begitu sepi dan sunyi, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Al-An‘ām [6]:59)

Tidak ada yang terlewatkan.

Kesadaran ini penting bagi seorang mukmin. Allah yang disembah bukan sekadar Tuhan yang menciptakan, tetapi juga Tuhan yang mengurus seluruh makhluk-Nya. Persoalan hidup manusia pun berada dalam pengetahuan dan pemeliharaan-Nya.

Karena itulah, orang yang istiqamah semestinya memiliki ketenangan. Bukan karena hidupnya tidak memiliki masalah, tetapi karena ia mengetahui bahwa ada Allah yang mengetahui dan mengurus segala sesuatu.

Kebahagiaan Tidak Harus Menunggu Semua Keinginan Terpenuhi

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istikamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih. (Al-Aḥqāf [46]:13)

Kemudian Allah berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ جَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Mereka itulah para penghuni surga (dan) kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Aḥqāf [46]:14)

Dari ayat tersebut, kebahagiaan tidak perlu selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang baru akan hadir setelah seluruh keinginan terpenuhi. Kebahagiaan dapat dimulai dari sesuatu yang paling mendasar: mengukuhkan keyakinan kepada Allah dan menjaga istiqamah.

Salah satu kekeliruan manusia adalah menjadikan sesuatu sebagai syarat mutlak kebahagiaan.

“Kalau saya mendapatkan ini, saya pasti bahagia.”

“Kalau masalah ini selesai, saya baru bisa tenang.”

Padahal, ada begitu banyak karunia Allah yang bahkan tidak pernah kita minta, tetapi telah diberikan kepada kita. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah belajar menyadari rahmat dan karunia Allah yang selama ini sudah hadir dalam kehidupan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yūnus [10]:58)

Kegembiraan yang diajarkan Al-Qur’an adalah kegembiraan yang lahir dari kesadaran terhadap karunia Allah. Dengan demikian, gembira karena syukur berbeda dengan gembira karena kesombongan.

Baca Juga: Tafsir Ali ‘Imran ayat 1–4: Meneguhkan Tauhid dan Kemuliaan Al-Qur’an

Belajar dari Qarun: Ketika Nikmat Tidak Lagi Dipandang sebagai Karunia

Al-Qur’an juga mengisahkan Qarun sebagai contoh seseorang yang memperoleh banyak kenikmatan, tetapi kemudian terjebak dalam kesombongan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

۞ اِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ ۖوَاٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْۤاُ بِالْعُصْبَةِ اُولِى الْقُوَّةِ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa,568) tetapi dia berlaku aniaya terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.

(Al-Qaṣaṣ [28]:76)

Masalah Qarun bukan terletak pada kepemilikan harta semata. Yang menjadi persoalan adalah cara memandang dan menggunakan nikmat tersebut. Ia lupa bahwa apa yang dimilikinya merupakan karunia Allah.

Karena itu, Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat indah:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qaṣaṣ [28]:77)

Ayat ini menjadi prinsip penting dalam menjalani kehidupan. Ketika mendapatkan kesenangan, kesuksesan, kesehatan, harta, maupun berbagai bentuk karunia lainnya, seorang Muslim tidak perlu menjauhi dunia. Ia boleh menikmati dunia, tetapi tidak boleh kehilangan orientasi akhirat.

Setidaknya ada beberapa sikap yang dapat dikembangkan.

1. Meluruskan Niat dalam Menikmati Karunia Allah

“Niat seorang mukmin lebih bagus daripada amalnya.”

Dalam kajian ini, Ustadz Ali Nurdin menekankan bahwa setiap aktivitas kehidupan dapat diarahkan menjadi bekal menuju akhirat, dan seorang mukmin perlu terus mengelola hati agar memiliki niat yang baik. Amal manusia mungkin boleh jadi masih jauh dari sempurna, karena itu, jangan menjadikan amal semata sebagai sandaran, tetapi teruslah memperbaiki niat.

Misalnya, seseorang berniat untuk bangun malam dan melaksanakan tahajud. Namun, ternyata ia tertidur hingga waktu subuh. Niat baik tersebut tetap memiliki nilai di sisi Allah.

Dari sini kita belajar bahwa meneguhkan niat merupakan bagian penting dari perjalanan seorang mukmin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (Al-‘Ankabūt [29]:64)

Dunia bukan tempat tinggal terakhir. Karena itu, kehidupan di dunia perlu dipandang sebagai perjalanan untuk menyiapkan bekal sebelum kembali kepada Allah di surga.

2. Jangan Melupakan Bagian di Dunia

Orientasi akhirat bukan berarti seseorang harus menolak kehidupan dunia. Al-Qur’an justru mengingatkan agar manusia tidak melupakan bagiannya di dunia.

Menjaga kesehatan, berolahraga, menikmati makanan, bekerja, beristirahat, dan menikmati berbagai karunia Allah merupakan bagian dari kehidupan yang dapat dijalani selama tidak melalaikan tujuan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ

Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi kaum yang mendengarkan. (Ar-Rūm [30]:23)

Bahkan, kemampuan untuk tidur, bangun dalam keadaan sehat, mendapatkan makanan, dan menjalani aktivitas sehari-hari merupakan karunia yang sering kali luput dari perhatian.

3. Berbuat Baik, Sekecil Apa Pun

Kebaikan tidak harus selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar.

Berbuat baik dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Membantu pasangan di rumah, memberikan perhatian kepada keluarga, atau melakukan kebaikan sederhana yang mungkin tidak pernah diketahui orang lain, semuanya memiliki nilai.

Karena itu, jangan menunggu kesempatan untuk melakukan kebaikan besar. Kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas tetap merupakan kebaikan.

4. Jika Belum Mampu Berbuat Baik, Jangan Berbuat Kerusakan

Prinsip berikutnya adalah menghindari kerusakan. Jika belum mampu melakukan kebaikan besar, setidaknya jangan menyakiti, jangan merusak, dan jangan mengikuti dorongan hawa nafsu yang membawa kepada keburukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢبِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yūsuf [12]:53)

Manusia bukan malaikat. Ada potensi untuk melakukan kesalahan. Yang penting adalah tidak membenarkan kesalahan tersebut, melainkan terus berusaha memperbaiki diri dan memohon ampun kepada Allah.

Menjadi Baik Bukan Berarti Tidak Pernah Salah

Dalam kajian tersebut juga ditekankan bahwa menjadi orang baik bukan berarti seseorang sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan. Manusia tetap memiliki kemungkinan jatuh dalam dosa dan kekeliruan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ

(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa. (An-Najm [53]:32)

Orang baik bukanlah orang yang merasa dirinya sudah suci dan bebas dari dosa. Orang baik adalah orang yang terus berusaha menjauhi dosa besar, mau bertobat ketika melakukan kesalahan, dan senantiasa berusaha memperbaiki dirinya.

Husnudzan kepada Allah sebagai Kompas Hati

Pembahasan kemudian berlanjut kepada bagaimana seorang Muslim menghadapi berbagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi. (An-Nisā’ [4]:79)

Apa pun yang menimpa manusia terjadi atas izin Allah. Namun, manusia tetap memiliki ruang untuk memilih bagaimana ia merespons keadaan tersebut.

Kita mungkin tidak dapat memilih seluruh peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Namun, kita dapat memilih cara meresponsnya.

Karena itu, husnuzan kepada Allah menjadi salah satu kompas hati. Ketika sesuatu yang tidak kita sukai terjadi, keyakinan bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya menjadi kekuatan untuk tetap bertahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri. (Yūnus [10]:44)

Ketika masalah terasa begitu berat, seorang mukmin kembali kepada keyakinan bahwa Allah mengetahui kemampuan setiap hamba.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۖ وَلَدَيْنَا كِتٰبٌ يَّنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

Kami tidak membebani seorang pun, kecuali menurut kesanggupannya. Pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya dan mereka tidak dizalimi. (Al-Mu’minūn [23]:62)

Keyakinan inilah yang menguatkan manusia dalam menghadapi keadaan apa pun. Allah mengetahui kondisi setiap manusia karena Dia sendiri yang menciptakannya.

Allah Membentuk Manusia dengan Hikmah

Pada ayat berikutnya, Ustadz Ali Nurdin menjelaskan bahwa Surah Āli ‘Imrān ayat 6 mengingatkan manusia tentang proses penciptaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Dialah (Allah) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki.83) Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Āli ‘Imrān [3]:6)

Kata yuṣawwirukum menunjukkan bahwa Allah bukan sekadar menciptakan manusia, tetapi juga membentuknya dengan segala detail yang ada pada dirinya.

Setiap manusia hadir dengan bentuk, keadaan, dan karakteristik yang berbeda. Ada manusia yang memiliki kondisi fisik maupun kemampuan yang berbeda dari kebanyakan orang. Dalam pandangan manusia, perbedaan tersebut terkadang dianggap sebagai kekurangan. Namun, dalam kajian ini ditekankan bahwa apa yang Allah ciptakan tidak pernah sia-sia danselalu dalam bentuk sebaik-baiknya. Keterbatasan manusia dalam melihat hikmah lah yang menciptakan pandangan bahwa ciptaan Allah tidak memiliki kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi. (An-Nisā’ [4]:79)

Karena itu, ketika menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai, respons yang paling penting adalah membangun prasangka baik kepada Allah. Ada hal-hal yang tidak mampu dipahami manusia pada saat ini, tetapi bukan berarti tidak terdapat hikmah di baliknya.

Menyembah Allah karena Dialah Sang Pencipta

Kesadaran mengenai penciptaan manusia kemudian bermuara pada tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah [2]:21)

Manusia diajak menyembah Allah karena Dia-lah yang menciptakan manusia dan seluruh makhluk. Al-Qur’an bahkan menantang manusia untuk memperhatikan ciptaan di sekelilingnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هٰذَا خَلْقُ اللّٰهِ فَاَرُوْنِيْ مَاذَا خَلَقَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ بَلِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ࣖ

Inilah ciptaan Allah. Maka, perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sembahanmu) selain-Nya. Sebenarnya orang-orang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata (Luqmān [31]:11)

Dengan demikian, pengenalan terhadap Allah sebagai Pencipta seharusnya melahirkan ketundukan, rasa syukur, dan keyakinan bahwa kehidupan manusia berada dalam hikmah dan pengaturan-Nya.

Ayat Mutasyabihat dan Ujian Keimanan

Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat ke-7 Surah Āli ‘Imrān yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki ayat-ayat muḥkamāt dan mutasyābihāt.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat,84) itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat.85) Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab. (Āli ‘Imrān [3]:7)

Ayat ini menjelaskan bahwa ayat Al-Qur’an ada dua, yaitu ayat muḥkamāt dan mutasyābihāt. Ayat-ayat muḥkamat merupakan ayat yang mudah dipahami dan menjadi pokok isi Al-Qur’an, sementara ayat mutasyabihat memiliki karakter yang tidak mudah dipahami secara sederhana. Bagi seorang mukmin, keberadaan ayat-ayat yang belum mampu dipahami sepenuhnya bukan alasan untuk meragukan Al-Qur’an. Justru di sinilah keimanan diuji.

Sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mendalam ilmunya adalah:

“Āmannā bihī, kullun min ‘indi rabbinā” — kami beriman kepadanya, semuanya dari Tuhan kami.

Keyakinan tersebut kemudian diperkuat oleh tantangan Al-Qur’an kepada mereka yang meragukan asal-usulnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗقُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهٖ مُفْتَرَيٰتٍ وَّادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Bahkan, apakah mereka mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah membuat-buat (Al-Qur’an) itu.” Katakanlah, “(Kalau demikian,) datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat dan ajaklah siapa saja yang kamu sanggup (mengundangnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Hūd [11]:13

Tantangan tersebut kemudian hadir dalam bentuk yang lebih spesifik:

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Bahkan, apakah (pantas) mereka mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah membuat-buat (Al-Qur’an) itu.”? Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Kalau demikian,) buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah siapa yang dapat kamu (ajak) selain Allah (untuk menolongmu), jika kamu orang-orang yang benar. Yūnus [10]:38

Allah juga berfirman:

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Al-Baqarah [2]:23

Bahkan tantangan tersebut mencakup manusia dan jin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Katakanlah, “Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, sekalipun mereka membantu satu sama lainnya.” Al-Isrā’ [17]:88

Inilah salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur’an yang ditekankan dalam kajian: Al-Qur’an bukan hasil karya manusia. Bahkan jika manusia dan jin bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu yang serupa dengannya, mereka tidak akan mampu melakukannya.

Keyakinan terhadap kemurnian Al-Qur’an kemudian ditegaskan dalam firman Allah:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.393) Al-Ḥijr [15]:9

Ayat tersebut menjadi landasan keyakinan bahwa Al-Qur’an yang dipelajari dan dibaca umat Islam tetap terjaga dari pemalsuan maupun penyisipan. Karena itu, siapa pun yang berkhidmah kepada Al-Qur’an—belajar, mengajarkan, membaca, menghafalkan, maupun membantu tersebarnya pembelajaran Al-Qur’an—sedang mengambil bagian dalam sebuah amal yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ

(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati. Al-An‘ām [6]:155

Pada akhirnya, seluruh pembahasan ini kembali kepada satu hal: keyakinan kepada Allah.

Allah mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan. Allah mengetahui kebaikan yang tidak diketahui manusia. Allah mengetahui masalah yang tidak mampu kita ceritakan. Allah mengetahui kemampuan kita ketika menghadapi ujian. Allah mengetahui keadaan kita bahkan sebelum kita mampu memahaminya sendiri.

Karena itu, seorang mukmin tidak perlu menjalani hidup dengan kecemasan yang berlebihan. Ia berusaha, berbuat baik, menjaga diri dari kerusakan, menikmati karunia dunia dengan syukur, memperbaiki niat, dan terus menjaga istiqamah.

Ketika sesuatu yang tidak diharapkan datang, ia belajar berhusnuzan kepada Allah.

Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur.

Ketika melakukan kesalahan, ia bertobat.

Dan ketika berhadapan dengan ayat-ayat yang belum mampu dipahaminya, ia tetap berkata:

“Kami beriman kepadanya. Semuanya berasal dari Tuhan kami.”

Sebab, pada akhirnya, ketenangan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuan mengendalikan seluruh keadaan, tetapi pada keyakinan bahwa Allah yang Maha Mengetahui, Maha Mengatur, Maha Perkasa, dan Maha Bijaksana tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Semoga Allah meneguhkan iman kita, menjadikan kita orang-orang yang istiqamah, mengaruniakan kemampuan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa berkhidmah kepada Al-Qur’an serta memperoleh ridha-Nya.

Āmīn.