Tafsir Surat Al-Kahf Ayat 46: Mencapai Kebahagiaan Sejati: Harta, Anak, dan Amal Shalih
Mohammad Fahmi Fikri*
eddoiff@gmail.com

Kehidupan dunia ini dipenuhi dengan berbagai godaan dan hal-hal yang sering kali mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama, yaitu kebahagiaan yang hakiki. Banyak orang mencari kebahagiaan dalam bentuk harta, anak, dan kesenangan dunia lainnya. Namun, dalam perspektif surat Al-Kahf ayat 46 kebahagiaan sejati tidak terletak pada segala yang bersifat sementara ini, melainkan pada amal saleh yang membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT.
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahf: 46)
Harta adalah anak adalah dua dal dari beberapa sumber kebahagiaan duniawi yang sering kali menjadi tujuan utama banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kekayaan dianggap sebagai simbol kesuksesan dan kebahagiaan. Sedangkan Anak adalah anugerah yang sangat berharga dalam kehidupan setiap orang tua. Mereka adalah penerus kehidupan dan bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan duniawi.
Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’an Al-Adzim ketika membahas kalimat “harta dan anak adalah perhiasan dunia” mengutip surat Ali Imran ayat 14:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” dan surat At-Taghabun ayat 15 “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.”
Jika diperhatikan kedua ayat di atas ada sebuah kesamaan pada akhir ayatnya yaitu ada sesuatu yang besar dan baik di sisi Allah, ini menunjukkan bahwa menyibukkan diri dengan ibadah sehingga semakin dekat dengan Allah lebih utama dan baik dari pada sibuk dengan harta dan anak.
Al-Baidhawi dalam tafsirnya memvalidasi harta dan anak sebagai sebuah keindahan dan perhiasan di dunia namun keduanya tidak akan lama menemani seseorang dalam waktu yang lama. Sedangkan amal saleh seperti shalat lima waktu, haji, puasa Ramadhan, tasbihat dan perkataan yang baik adalah buah yang dapat dipetik di akhirat kelak akan membekas dan menemani orang tersebut.
Baca Juga: Memahami Arti Kesuksesan: Antara Harta, Anak yang Soleh, dan Kebahagiaan Akhirat.
Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir menegaskan khususnya orang yang sombong dan yang menyakiti orang beriman bahwa kehidupan dunia tidak tetap kondisi dan keadaannya sebagaimana air yang mengalir. Air yang banyak dapat mendatangkan bencana sedangkan air yang cukup akan mendatangkan manfaat, hal ini berlaku juga pada kehidupan dunia. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasul yang diriwayatkan oleh Muslim:
قد أفلح من أسلم، ورزق كفافا،ً وقنعه الله بما آتاه
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki sekadar cukup, dan Allah menjadikannya ridha dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Wahbah Az-Zuhaili menekankan kepada orang yang berakal dan bijaksana agar tidak tertipu dan menjadikan anak dan harta sebagai puncak yang dibangga-banggakan, karena keduanya cepat hilang dan habis. Pada penyebutan harta dan anak saja memiliki hikmah dan pemahaman bahwa harta mendatangkan keindahan dan manfaat sedangkan anak mendatangkan kekuatan dan perlindungan.
Quraisy Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa harta dan anak adalah perhiasan dunia menunjukkan fungsi dari kedua hal tersebut yaitu sebagai perhiasan dunia. Dan pada ayat ini Allah membandingkan perhiasan dunia berupa harta dan anak yang umunya akan mendorong orang untuk menjadi lengah dan angkuh dengan al-Baqiyah as-Shalihah. Terdapat hal unik pada pemilihan kata zinah dan pada penyebutan kata baqiyah. Az-Zinah dalam bahasa Arab bermakna hiasan atau sesuatu yang dianggap indah dan baik, lalu ada kata lain yang dapat mewakili harta dan anak ini yaitu al-Qimah yang berarti sesuatu yang berharga.
Pemilihan kata zinah untuk menyifati harta dan anak adalah suatu yang terasa pas dan cocok karena apabila yang digunakan adalah kata qimah maka itu tidak cocok karena seseorang yang memiliki harta dan anak tidak dapat menjadi orang yang berharga dan mulia dan yang dapat menjadikan seseorang berharga dan mulia iman dan amal shalehnya. Hal ini senada dengan lanjutan ayat ”sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu”.
Penyebutan kata al-Baqiyah yang berarti yang kekal lebih dahulu dari pada as-Shalihah yang berarti baik atau shaleh memberikan pemahaman dan petunjuk bahwa amal shalehlah yang kekal di sisi Allah bukan harta dan anak. Memang harta dan anak dapat membantu dan bermanfaat tetapi keduanya tidak dalam waktu yang lama atau tidak kekal sedangkan amal-amal yang baik sesuai dengan yang diridhai Allah akan kekal dan dapat membantu dan diharapkan.
Kesimpulan
Di era modern ini, banyak orang mengejar kesuksesan dunia dalam bentuk harta melimpah, properti mewah, kendaraan mahal, dan keluarga yang terpandang. Media sosial memperparah kecenderungan ini dengan menampilkan gaya hidup yang glamor seolah menjadi tolok ukur kebahagiaan dan keberhasilan. Orang tua sering terjebak dalam ambisi menumpuk kekayaan demi masa depan anak-anaknya, sementara anak-anak dijadikan simbol kebanggaan sosial.
Namun dalam perlombaan mengejar dunia ini, tak sedikit yang mengorbankan waktunya untuk beribadah, lupa bersyukur, bahkan lalai terhadap hubungan spiritual dengan Allah. Kecintaan pada dunia terkadang membuat manusia sombong, iri, dan jauh dari nilai-nilai kebaikan. Padahal, harta bisa hilang dalam sekejap, dan anak-anak tidak selamanya bisa menjadi sandaran. Hidup bisa berubah secepat air bah mengalir deras membawa apa saja yang dilaluinya.
*Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta
