
Ridho & Ikhlas: Rahasia Hidup Tenang & Penuh Berkah
Ahmad Syafaat M.*
Kita sekarang berada ditahap penentuan masa depan. Jelas untuk mendapatkan masa depan yang cerah pasti akan melalui banyak tantangan yang membutuhkan kesabaran ekstra dan keikhlasan.
Teruntukmu teman yang sedang diuji kesabarannya, tenang. Kelak terbitlah kebahagiaan. Memang tidak mudah, tapi harus dijalani dengan penuh keikhlasan. Orang bijak mengatakan “Ridho menerima, ikhlas melepaskan.” Singkat namun penuh makna.
Kita tuh kadang bingung dengan diri sendiri. Sudah diberi nikmat yang unlimited masih aja komentar negatif, hingga akhirnya kurang bersyukur terhadap pemberian Allah. Tandanya apa? Salah satunya kurang memaksimalkan potensi diri. “Kita memang tidak bisa membuat sesuatu menjadi sempurna. Tapi, tugas kita memaksimalkan hal tersebut menjadi lebih baik.”
Dalam memilih pilihan pun hendaknya kita melibatkan Allah. Kenapa? Karena manusia boleh berencana. Tapi, Allah punya rencana yang lebih baik untuk kita, seperti penjelasan QS. Al-Baqarah/2: 216
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Poinnya adalah dalam menentukan arah masa depan perlu memahami dan menerima prinsip takdir. Semua yang paling baik adalah melibatkan Allah dalam menentukan arah masa depan. Karena tugas manusia ialah berdo’a dan berusaha. Tapi, Allah lah yang menakdirkan mana yang terbaik untuk hamba-Nya.
Menurut kita, pilihan menjadi artis memang mendapatkan banyak keuntungan dan terkenal. Tapi, Allah malah menakdirkan kita menjadi Gubernur yang memerlukan kesiapan untuk berinteraksi dengan masyarakat, memberi pelayanan yang terbaik, dan intinya lebih dekat kepada masyarakat. Sehingga, tidak ada sekat pembatas dirinya dengan masyarakat.
Baca juga: Pameran Islam, Astronomi & Cetak Arab di Perpustakaan Middle Temple: Sebuah Jendela ke Dunia Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Ketika proses menentukan pasangan hidup juga begitu. Menurutnya bersama dengan Si A adalah kunci kebahagian yang selama ini didambakan. Tapi, ternyata seiring berjalannya waktu mereka mulai muak dengan mengungkit kesalahan masing-masing. Alhasil, mereka berpisah tanpa ada kesepakatan yang jelas.
Oleh karena itu, yakin lah bahwa Allah akan mendatangkan sosok pengganti yang lebih baik dari pilihan sebelumnya. Sosok pengganti yang merupakan jawaban dari do’a-do’a khusyuknya selama ini. Dan dia lah pasangan hidup terbaik yang ditakdirkan Allah untuk hamba-Nya yang senantiasa ikhlas melepaskan sosok yang bukan menjadi takdir pasangan hidupnya, dan ridho menerima pengganti yang dihadirkan Allah kepadanya.
Lantas gimana cara mendekatkan diri kepada Allah? Ada dua cara perantara agar kita berinteraksi dengan Allah yaitu melalui shalat dan membaca Al-Qur’an.
Esensi Ikhlas dalam shalat ialah niat tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah secara khusyuk, bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Perlu kita ketahui indikator dari khusyuk itu sendiri, seperti yang telah dijelaskan di QS. Al-Baqarah/2: 45-46. Dilengkapi dengan penjelasan oleh kitab tafsir Al-Mishbah vol.1 jilid.1 hal.178-179:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”
Ayat ini bukannya membatasi kekhusyu’an hanya dalam shalat, tetapi menyangkut segala aktivitas manusia. Ayat ini menuntut manusia untuk menghadirkan kesabaran dan keagungan Allah, sekaligus kelemahanannya sebagai manusia dihadapan-Nya.
Puncak dari khusyuk adalah ketundukan dan kepatuhan seluruh anggota tubuh, dalam pikiran dan bisa hati secara keseluruhan menuju kehadiran Allah. Dan peringkat terendah adalah pengamalan yang tulus kepadanya walau diselingi pikiran yang melayang pada hal-hal yang bersifat umum.
Nabi Muhammad Saw. pun pernah ketika masih shalat mendengar suara tangis anak, sehingga beliau mempersingkat shalatnya. Dengan demikian kekhusyu’an tidak selalu berarti hilang ingatan kecuali kepada Allah.
Teringat pesan guru kami KH. Dr. Ali Nurdin, M.A “Seorang Imam Masjid itu sangat fokus ketika memimpin Shalat berjamaah. Jangan sangka Imam shalat itu tidak mikir ketika shalat, minimal beliau mikir udah rakaat berapa yah? Atau rakaat kedua nanti enaknya baca Surah apa yah? Hal tersebut menandakan bahwa Khusyu’ juga menuntut kita harus dalam kondisi sadar.”
Mereka yang dapat melaksanakan tuntunan sabar dan khusyu’ adalah mereka yang dijelaskan sifat-sifatnya oleh ayat berikutnya.
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya kepada-Nya mereka kembali.”
Ayat ini menggambarkan optimisme yang menyelubungi jiwa orang-orang yang khusyu’ terhadap ganjaran yang akan kelak mereka terima. Dan mereka menyadari bahwa cepat atau lambat ia pasti akan menghadap kehadiran Allah Swt.
Oleh karena itu, mereka mengerjakan perintah shalat dengan sepenuh hati dan beranggapan bahwa ini adalah shalat yang terakhirnya. Jadi mereka sangat khusyu’ dan serius untuk menjalankan perintah shalat.
Begitu pula saat membaca Al-Qur’an perlunya menghadirkan rasa ikhlas ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an agar dapat memahami dan merasakan keindahan setiap kata maupun kalimat-kalimat indah Al-Qur’an. Seperti perintah membaca Al-Qur’an secara perlahan di QS. Al-Muzammil/73:4
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
Ada banyak hikmah saat kita membaca Al-Qur’an dengan Ikhlas dan perlahan-lahan :
- Membaca dengan perlahan-lahan sambil memperjelas harus berhenti (Waqaf) dan memulai (ibtida’), sehingga pembaca dan pendengarnya dapat menghayati serta memahami kandungan pesan-pesannya.
- Momentum kita agar bisa berinteraksi dengan Allah
- Agar kita dapat menikmati bacaan Al-Qur’an
- Ketepatan pengucapan setiap hurufnya, karena membacanya sesuatu kaidah tajwid
- Yang tak kalah penting juga. Al-Qur’an hadir sebagai pedoman kehidupan.
Kembali lagi mari hadirkan rasa ikhlas dalam hidup ini baik itu sedang beribadah, bekerja, belajar, berjuang di jalan Allah, dan apapun aktivitas yang kita kerjakan saat ini. Sehingga, kita bisa memetik Reward Of Ikhlas :
- Sabar menerima dan menjalankan segala ketentuan dari Allah. Yakinlah bahwa apa yang ditakdirkan Allah kepada kita itu merupakan pilihan yang terbaik.
- Tidak ada yang yang lebih sayang kepada kita, kecuali sayangnya Allah kepada Hamba-Nya. Karena Allah mengetahui kalau kamu dapat memikul beban yang ditetapkan ini. Dan Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar dari kemampuan manusia.
Al-Baqarah : 286
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
- Ridho menerima, ikhlas melepaskan. Dalam kehidupan ini ada yang namanya perpisahan. Entah itu perpisahan yang pahit maupun perpisahan yang berarti meninggalkan kenangan. Selayakanya kita ridho menerima takdir tersebut dan ikhlas melepaskan. Yakinlah bahwa Allah memisahkan kita dengan dia bukan tanpa arti. Melainkan karena Allah tahu dia tidak cocok untukmu dan kelak Allah akan menghadirkan orang lain yang lebih baik lagi untuk mengganti dia yang telah berpisah denganmu.
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
Email : ahmadsyafaat67@gmail.com
Instagram : @ahm_syafaat
Wa : 0895618738976
