Search

Mengenal Lebih Dekat dengan Ibnu Sina (Avicena)

Ahmad Fadlil*

Mengenal Lebih Dekat dengan Ibnu Sina (Avicena)

Mengenal Lebih Dekat dengan Ibnu Sina (Avicena)

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Ali al-Husain bin Abdullah al-Hasan bin Ali bin Sina, merupakan tokoh pemikir muslim yang banyak menguasai bidang ilmu pengetahuan mulai dari ilmu-ilmu Humaniora, sains, agama dan kedokteran. Beliau Lahir pada tahun 370 H di dekat Bukhara, di desa Afsyanah untuk, di kawasan Asia Tengah, untuk saat ini letaknya di Uzbekistan yang sebelumnya dikenal sebagai Khorasan. Ibnu Sina meninggal dunia di Hamadan, Iran pada tahun 1037 M atau 980 H pada saat usianya 58 tahun. Avicena adalah nama dari Ibnu Sina yang terkenal dikalangan negara-negara barat. Orang Persia, Turki, dan Arab mengklaim Ibnu Sina sebagai bangsanya. Hal ini dikarenakan ayahnya peranakan Arab, sedangkan ibunya berkebangsaan Turki dan karena beliau dilahirkan di Persia bulan Syafar 370 H atau 980 M.[1]

Riwayat pendidikan Ibnu Sina dimulai sejak umur 10 tahun. Pada umur 10 tahun Ibnu Sina telah hafal Al-Qur’an serta sudah hafal mengenai sastra dan ilmu astronomi, tata bahasa arab (nahwu-sharaf), manthiq (logika), dan bayan (ilmu tentang gaya bahasa). Ibnu Sina juga seorang matematikawan, ia ahli dalam hitung-hitungan, handasah, dan aljabar. Ilmu manthiq, filsafat, hikmah, tuntas dipelajari dalam hitungan hari.[2]

Pada usia 16 tahun Ibnu Sina telah menguasai beberapa ilmu pengetahuan meliputi sastra, fikih, matematika, dan filsafat. Ia bahkan mempelajari ilmu kedokteran secara otodidak.[3] Pada usia 17 tahun Ibnu Sina sudah menguasai dengan baik teori kedokteran. [4]

Pada usia 18, Ibnu Sina sudah menguasai ilmu-ilmu yang berkembang pada zaman itu dan telah menjadi seorang dokter praktik. Selain keahliannya di bidang kedokteran yang menjadikannya terkenal di dunia, ia juga seorang filsuf ternama, astrofisikawan, matematikawan, dan teolog. Beliau menghabiskan hidupnya dengan mendidik orang-orang, merawat pasien dan menulis buku yang tidak hanya mencerahkan masyarakat di zamannya, tetapi juga generasi kemudian di seluruh dunia.[5]

Baca Juga: Meneladani Imam An-Nawawi: Motivasi bagi Generasi Muda Muslim

Terlepas dari riwayat pendidikan Ibnu Sina yang begitu sempurna, tentu ada peran seseorang yang melatarbelakangi itu semua, yakni ayahnya. Berkat posisi ayahnya sebagai gubernur serta latar belakangnya sebagai seorang ulama, Ibnu Sina memiliki akses ke pendidikan yang sangat baik di Bukhara. Ibnu Sina diajarkan oleh beberapa ulama yang paling terkenal di zaman itu dalam ilmu sains dan teologi Islam.

Di samping sebagai seorang guru, filsuf, dan dokter, Ibnu Sina merupakan penulis yang produktif dan dikenal semasa hidupnya. Semasa hidupnya ia telah menghasilkan 267 karya. Beberapa karya Ibnu Sina yang sangat terkenal adalah: 1) As-Syifa’ (penyembuh), sebuah karya ensiklopedi yang terdiri dari 18 jilid yang membahas tentang matematika, fisika, dan metafisika, 2) Al-Najah (penyelamat), karya ini merupakan ringkasan dari As-Syifa’, 3) Al-Qanun fi al-Thibb, sebuah karya ensiklopedi yang membahas tentang kedokteran. Karya ini menjadi buku pedoman pada universitas-universitas di Barat sampai abad XVII, 4) Al-Isyarah wa al-Tanbihah (isyarat dan peringatan), sebuah karya yang membahas tentang logika dan hikmah. Adapun karya lain dalam bentuk essay di antaranya Hayy ibn Yaqzhan, Tahshil As-Sa’adah, Risalah Ath-Thair, Risalah fi Al-‘Isyq, dan Risalah fii Sirr Al-Qadar. Masih banyak lagi karya-karya lain yang telah ditulis oleh Ibnu Sina.[6]

Mengenal Lebih Dekat dengan Ibnu Sina (Avicena)
Stamp printed by Poland, shows Avicenna or Ibn Sina. 1952

Keberhasilan Ibnu Sina tentunya tidak dapat dilepaskan dari peran seorang guru, di antara guru-gurunya adalah Abu ‘Abd Allah al-Natili dan Isma’il Zahid. Kecerdasan Ibnu Sina membuatnya dapat menguasai ilmu-ilmu yang diberikan oleh guru-gurunya bahkan sampai melebihi gurunya sendiri. Meskipun Ibnu Sina tidak secara langsung belajar kepada Al-Farabi, tetapi ia merasa memiliki utang budi karena dengan ulasan Al-Farabi telah banyak membantu Ibnu Sina dalam memahami metafisika Aristoteles.

Adapun beberapa teladan dan pelajaran hidup yang bisa diambil dari Ibnu Sina, yaitu:

  1. Kerja Keras dan Ketekunan

Ibnu Sina menunjukkan dedikasi yang luar biasa terhadap pembelajaran dan penelitian. Dia menghabiskan berjam-jam untuk belajar dan meneliti, yang menghasilkan kontribusi besar dalam berbagai bidang ilmu.

  • Kemauan Untuk Belajar

Ibnu Sina terus-menerus mencari pengetahuan baru dan tidak pernah puas dengan pemahaman yang ada. Sikap ini memotivasi dia untuk terus mengembangkan ide-idenya dan melakukan penelitian lebih lanjut.

  • Penggabungan Ilmu

Salah satu kekuatan Ibnu Sina adalah kemampuannya untuk menggabungkan berbagai bidang ilmu, seperti filsafat, kedokteran, dan matematika. Pendekatannya yang holistik terhadap pengetahuan memungkinkannya untuk membuat kontribusi yang berharga dalam berbagai disiplin ilmu.

  • Pengaruh Pada Generasi Selanjutnya

Karya-karya Ibnu Sina memiliki dampak yang besar pada perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran di dunia Islam dan Eropa. Dia menjadi salah satu tokoh yang sangat dihormati dalam sejarah intelektual dunia.

*Penulis adalah Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta


[1] Dinar Maftukh Fajar, Bunga Rampai Pembelajaran IPA Berbasis Integrasi Sains Dan Islami, (Malang: CV. Pustaka Learning Center, 2020), h. 79-80.

[2] https://bersamadakwah.net/belajar-dari-ibnu-sina-bapak-kedokteran-dunia/. Diakses pada 16 Mei 2024.

[3] Muhammad Irfandi Rahman dan Nida Shofiyah, “Relevansi Pemikiran Pendidikan Ibnu Sina Pada Pendidikan Masa Kini”, Tarbawy: Indonesian Journal of Islamic Education, Vol. 6, No. 2, 2019, h. 145.

[4] Syahira, Ahmad Ruslan, Desvian Bandarsyah, “Pengembangan Pikiran Modern Islam Dalam Pemikiran Ibnu Sina”, Historis: Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah, Vol. 7, No. 2, 2020, h. 40.

[5] https://mataair.co/ibnu-sina-seorang-ilmuwan-teladan/. Diakses pada 16 Mei 2024.

              [6] Antin Rista Yuliani, “Religius-Rasional Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam Kontemporer”, Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia, Vol. 3, No. 2, 2023, h. 531.