Ikrar Ammar Andrias Lau Al Katakuri*

Tadabbur Ayat Tentang Perbedaan Bangsa dan Suku
Manusia merupakan makhluk sosial, manusia adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari yang namanya komunitas, di manapun dia berada. Dalam bersosial manusia memerlukan yang namanya pedoman atau buku panduan yang berujuan untuk mengatur norma dan untuk menjaga komunitas agar tetap stabil layaknya air agar tetap pada jalurnya dan tidak menerobos tanggul atau dalam kata agar semaksimal mungkin mencegah perselisihan diantara umat (baca manusia). Dalam hal ini, selama beberapa ribu tahun manusia telah mengalami banyak konflik, baik itu yang bersifat interpersonal ataupun interbangsa, dan itu tidak bisa kita hindari karena merupakan sunnatullah sebagaimana yang telah termaktub dari surah Ali Imran ayat 253:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
۞ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ وَلٰكِنِ اخْتَلَفُوْا فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ وَمِنْهُمْ مَّنْ كَفَرَ ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا اقْتَتَلُوْاۗ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ ࣖ
“Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) dengannya dan sebagian lagi Dia tinggikan beberapa derajat. Kami telah menganugerahkan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang sangat jelas (mukjizat) dan Kami memperkuat dia dengan Ruhulkudus (Jibril). Seandainya Allah menghendaki, niscaya orang-orang setelah mereka tidak akan saling membunuh setelah bukti-bukti sampai kepada mereka. Akan tetapi, mereka berselisih sehingga ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kufur. Andaikata Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh. Namun, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Ali Imran [3]: 253)
Manusia yang merupakan suatu komunitas yang luar biasa besar pada dasarnya berasal dari nenek moyang yang sama, Adam dan Hawa.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
(QS. An-Nisa [4]: 1)
Dari ayat ini kita bisa melihat bagaimana kita sebagai manusia yang dahulunya dari ibu bapak yang satu yaitu Adam dan Hawa, kemudian berkembang menjadi suatu komunitas masyarakat yang luas, sebagai perwujudan akan kebesaran Allah Swt. dalam mengembangbiakkan manusia, dengan kekuasaannya dia menjadikan dari dua makhluk menjadi makhluk yang banyak, yang melahirkan banyak bangsa dan suku-suku yang tersebar di seluruh penjuru dunia, dan di ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada kita untuk saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain sebagai makhluk-Nya yang bertakwa.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat [49]:13)
Setelah Allah Swt. di ayat sebelumnya melarang orang-orang yang beriman untuk menggunjing satu sama lain dan untuk tidak mematai-matai satu sama lain yag mana perbuatan tersebut sama halnya dengan kita memakan bangkai saudara kita sendiri yang artinya bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang menjijikan lagi hina. Di ayat ini, Allah Swt. mengingatkan bahwa sesungguhnya manusia yang begitu banyak ini adalah hasil dari penciptaan dari satu laki-laki dan satu perempuan yaitu Adam dan Hawa yang kemudian berkembang biak sehingga menjadi bangsa-bangsa yang besar dan suku-suku yang bertebaran dari ujung timur ke ujung barat agar kita saling mengenal satu sama lain dan agar kita tak memandang rendah satu bangsa hanya karena warna kulit atau bentuk fisik, akan tetapi sesungguhnya letak tingginya pangkat dan kemuliaan seseorang terletak pada tingkat ketakwaannya keada Allah Swt. Tuhan Yang Mencipatkan seluruh bangsa, Tuhan yang meciptakan manusia dari saripati tanah.
Baca juga: BELAJAR DARI SEJARAH
Ayat ini merupakan suatu konsep yang mengajarkan perntingnya untuk menghargai perbedaan bangsa dan suku seseorang, karena pada dasarnya itu adalah suatu ketetapan dari Allah Swt. yang tidak bisa kita elakkan, sehingga cara terbaik dalam menyikapi perbedaan tersebut yaitu dengan saling mengenal, berusahan mencari titik kesamaan di antara beribu perbedaan, mencoba berbaik sangka, dan menolak adanya rasisme di antara umat berbangsa. inilah suatu konsep yang diajarkan Al-Qur’an dalam menyikapi keberagaman suku, bangsa dan ras.
Dari ayat di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa status sosial manusia tidaklah bertumpu pada bangsa, ras dan sukunya akan tetapi terpaku pada seberapa tinggi takwanya kepada Allah Swt. dan ini bisa kita jadikan sebagai renungan bagaimana kita menghadapi statement atau suatu konsep yang menganggap bahwa ras tertentu atau suku tertentu lebih tinggi dari ras atau suku yang lain, sehingga pada akhirnya kita dapat mengenal satu sama lain dan mengikat tali persaudaraan tanpa adanya diskriminasi dan penghinaan konseptual yang merupakan agar dari perpecahan.
*Penulis adalah mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
