
Konsep Pendidikan Rasulullah: Kajian Tafsir Al-Baqarah 151
Ibnu Mubarakh*
Tidak dipungkiri, peran pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemajuan Islam dan bangsa. Sejatinya, konsep pendidikan yang ideal sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, namun pada kenyataannya praktiknya masih kurang. Dalam surah Al-Baqarah ayat 151, Allah menjelaskan tentang nikmat diutusnya Rasulullah saw, kepada kaum muslimin. Ayat ini memuat konsep penting pendidikan melalui pengajaran Rasulullah kepada umatnya.
Allah berfirman:
كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu), Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. Q.S. Al-Baqarah [2]:151
Berdasarkan Tafsir At-Thabari, ayat ini dianggap sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim dalam surah Al-Baqarah ayat 129 tentang penyempurnaan nikmat Allah atas kaum muslimin yang meminta agar Allah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab dan hikmah, serta menyucikan umatnya.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, ayat ini juga menggambarkan perubahan besar pada diri umat. Mereka sebelumnya hidup dalam keadaan jahiliyah penuh kebodohan, ucapan batil, dan perilaku hina. Namun melalui risalah Nabi, mereka berubah menjadi hamba-hamba yang paling bersih hatinya, paling jujur lisannya, dan paling dalam ilmunya. Transformasi moral dan spiritual inilah yang menunjukkan besarnya nikmat diutusnya Rasul bagi umat ini.
Baca juga: Ringkasan Wawancara Dr. Quraisy Shihab: Pendidikan, Agama, dan Nalar Kritis
Hal pertama yang dilakukan Rasulullah kepada umatnya adalah membacakan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah sebagai tanda kenabian. Keindahan bahasanya menjadi mukjizat yang luar biasa. Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) semakin menguatkan bukti bahwa Al-Qur’an bukan karya manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Alusi. Adapun menurut Ar-Razi, Al-Qur’an adalah sumber ilmu dan pedoman akhlak. Karena itu, dari tilawah Al-Qur’an terkumpul berbagai kebaikan dunia dan akhirat.
Setelah Al-Qur’an dibacakan, selanjutnya pada kata (yuzakkīkum) bermakna penyucian jiwa dan akhlak. Rasulullah melakukan pendidikan iman yang mengeluarkan seorang mukmin dari sifat-sifat tercela seperti syirik, riya’, dusta, dan kesombongan menuju sifat-sifat mulia seperti tauhid, ikhlas, jujur, amanah, tawadhu‘, serta hubungan sosial yang penuh kasih sayang dan persaudaraan, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir As-Sa’di.
Masih dalam Tafsir As-Sa’di, yang dimaksud (wa yu’allimukum al-kitāba wal-hikmah) adalah Al-Qur’an dan sunnah. Setelah pembinaan akhlak selesai, barulah Rasul mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah, segala rahasia syariat, dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.
Kalimat terakhir firman Allah (“wa yuʿallimukum mā lam takūnū taʿlamūn”) menunjukkan bahwa Rasulullah diutus untuk mengajarkan berbagai pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui manusia. Menurut Ibnu ‘Asyur, frasa ini merupakan bentuk taʿmīm (pengumuman umum) yang mencakup seluruh bentuk ilmu, bukan hanya syariat dan hikmah. Termasuk pengetahuan tentang umat-umat terdahulu, sejarah, dinamika kekuasaan, berita tentang akhirat, serta berbagai informasi penting lain yang tidak mungkin diketahui tanpa adanya wahyu.
Sebagaimana dijelaskan di atas, diutusnya Rasul yang mendidik umat adalah jawaban dari doa Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berdoa agar diutusnya Rasul yang mengajarkan umat ini. Namun apabila diteliti secara seksama, ada hal menarik, yaitu didapati perbedaan antara doa Nabi Ibrahim dan jawaban yang Allah berikan pada ayat ini. Perbedaan itu terletak pada urutan pendidikan yang dilakukan Rasul kepada umatnya.
Baca Juga: Anak sebagai Amanah Allah: Bukan Hanya Mengasuh, tapi Membangun Otak, Akhlak, dan Masa Depannya
Pada doa Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 129, urutan doa yang diminta adalah: diutus Rasul yang membacakan ayat-ayat-Nya, mengajarkan kitab dan hikmah (sunnah), dan menyucikan jiwa umat. Namun jawabannya dalam ayat 151 ini, penyucian jiwa menjadi urutan kedua setelah dibacakan ayat-ayat-Nya. Ini menunjukkan bahwa menyucikan jiwa dan akhlak murid itu sangat penting sebelum mengajarkan segala hal.
Konsep Pendidikan Rasulullah
Berdasarkan uraian penjelasan di atas, dapat disimpulkan konsep atau tahapan pendidikan peserta didik dan pembinaan umat yang diajarkan Rasulullah adalah sebagai berikut:
- Membacakan aya-ayat Al-Qur’an
Hal pertama yang hendaknya dikenalkan orang tua dan guru adalah Al-Qur’an pada anak dan peserta didiknya. Al-Qur’an dibacakan, diperdengarkan, atau bahkan menjadi pembuka setiap kegiatan pembelajaran. Membacakan Al-Qur’an bukan hanya akan mendapatkan nilai ibadah dan pahala, tetapi juga menghadirkan ketenangan jiwa, akal, dan berbagai kebaikan.
- Menyucikan jiwa dan akhlak murid
Sebelum masuk pada tahapan mengajarkan ilmu, sangat penting bagi guru bahkan institusi pendidikan yang merancang kurikulum pembelajaran, seyogianya mendahulukan pembinaan penyucian jiwa, adab, dan akhlak murid. Hati adalah kunci setiap ilmu yang dipelajari agar menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah.
- Mengajarkan Kitab dan hikmah
Setelah pembinaan hati dan jiwa sudah cukup, baru ke tahap pengajaran. Hal pertama yang hendaknya diajarkan kepada peserta didik adalah Kitab, yaitu Al-Qur’an dan hikmah, yaitu hadis. Pendidikan dasar untuk setiap muslim seharusnya adalah pendidikan agama dan syariat. Sehingga apa pun ilmu yang nantinya dipelajari benar-benar membawa keberkahan dan manfaat.
- Mengajarkan hal-hal baru yang belum diketahui
Setelah peserta didik disucikan jiwanya dan memiliki pondasi agama yang kuat, baru diajarkan ilmu-ilmu lain yang belum diketahui, baik itu ilmu-ilmu agama lainnya atau ilmu yang berkaitan dengan sains. Ini bukti bahwa Islam tidak menutup kesempatan untuk mempelajari ilmu apa saja selama itu bermanfaat.
Melalui tahapan pendidikan yang diajarkan Rasul ini, harapannya bangsa dan umat Islam dapat maju dan berkembang. Pada tahapan terakhir disebutkan mengajarkan hal-hal baru yang belum diketahui, ini menunjukkan Islam membuka kesempatan bagi setiap anak untuk belajar apa pun yang diinginkan selama itu bermanfaat dan berkah. Tentunya tetap tidak melupakan tahapan sebelumnya sebagai pondasi.
Seandainya tahapan pendidikan ini benar-benar diterapkan, akan menghasilkan kualitas umat yang siap membangun peradaban. Para ilmuwan sains dan ahli teknologi memiliki pondasi agama dan spiritualitas sehingga tidak menghasilkan penemuan yang membahayakan atau hanya bermanfaat untuk pribadi, melainkan membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Bagi yang mendalami agama pun tidak akan meremehkan yang memperdalam sains dan teknologi, justru saling berkolaborasi untuk kemajuan umat.
Wallahu a‘lam
*Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta
