Jangan Sampai Menyesal di Akhir (Pesan Kehidupan dari Surah Ibrahim Ayat 44)
Muhammad Nizar Almunawwar*
almunawwarnizar@gmail.com

Pesan Kehidupan dari Surah Ibrahim Ayat 44
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering disibukkan dengan urusan dunia. Kita mengejar karier, harta, popularitas, dan berbagai keinginan lainnya, hingga kadang-kadang lupa bahwa hidup ini memiliki akhir. Kita lupa bahwa setiap tindakan yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44:
وَاَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيْهِمُ الْعَذَابُۙ فَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رَبَّنَآ اَخِّرْنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۙ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَۗ اَوَلَمْ تَكُوْنُوْٓا اَقْسَمْتُمْ مِّنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِّنْ زَوَالٍۙ ٤٤
Artinya : “Berikanlah (Nabi Muhammad) peringatan kepada manusia tentang hari (ketika) azab datang kepada mereka. Maka, (ketika itu) orang-orang yang zalim berkata, “Ya Tuhan kami, tangguhkanlah (azab) kami (dan kembalikanlah kami ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan,) “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan beralih (dari kehidupan dunia ke akhirat)?” (QS. Ibrahim [14]: 44)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memperingatkan manusia akan datangnya hari ketika azab Allah menimpa mereka. Ayat ini berbicara tentang momentum penuh penyesalan yang terjadi di akhirat kelak, ketika orang-orang zalim berseru dengan permohonan: “Ya Tuhan kami, tangguhkanlah kami walau sebentar saja, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan mengikuti para rasul.” Namun permintaan itu dijawab dengan sindiran keras: “Bukankah dahulu kalian telah bersumpah bahwa kalian tidak akan binasa?”
Ibnu Jarir al-Thabari memahami ayat ini sebagai ancaman dan peringatan keras kepada orang-orang kafir yang ketika di dunia dahulu telah mendustakan hari kebangkitan dan menolak ajakan para rasul. Dalam pandangannya, seruan mereka di akhirat itu adalah bentuk keputusasaan yang terlambat, karena mereka baru menyadari kebenaran risalah setelah azab benar-benar menimpa mereka. Mereka memohon penangguhan agar bisa beriman dan mengikuti kebenaran, namun Allah mengingatkan bagaimana dahulu mereka begitu yakin tidak akan mengalami kebinasaan atau peralihan dari dunia ke akhirat.
Ibnu Katsir melengkapi pandangan al-Thabari dengan menekankan bahwa permohonan mereka agar diberi kesempatan kedua adalah sia-sia. Dalam tafsirnya, ia menegaskan bahwa para pelaku kezaliman itu pada dasarnya telah diberi cukup waktu dan bukti di dunia untuk beriman, namun mereka menyia-nyiakannya. Maka permohonan mereka di akhirat tidak akan lagi dipenuhi. Bahkan, Allah menanggapi mereka dengan celaan “bukankah kalian dahulu bersumpah bahwa tidak akan dibangkitkan?”.
Al-Syaukani, dalam tafsirnya Fath al-Qadîr, mengangkat aspek keadilan Ilahi dalam penolakan terhadap permintaan mereka. Ia memandang bahwa permohonan orang-orang kafir itu bukanlah karena munculnya keimanan yang tulus, akan tetapi karena rasa takut yang timbul akibat siksaan. Maka tidak ada alasan untuk mengabulkan permintaan tersebut, sebab iman yang hanya didorong oleh azab tidak memiliki nilai keikhlasan. Ia juga mencermati bahwa kezaliman yang disebut dalam ayat ini tidak hanya tindakan sosial, akan tetapi bentuk paling parah dari kezalimannyaitu syirik dan penolakan terhadap kebenaran. Al-Syaukani dengan tegas menyatakan bahwa Allah sudah memberikan cukup bukti dan masa tenggang di dunia, maka siapa yang menolak secara sadar, maka harus menerima akibatnya.
Selain itu, menurut al-Syaukani, lafadz “وَاَنْذِرِ النَّاسَ” bermakna bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memperingatkan manusia. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “manusia” di sini adalah semua orang secara umum, ada pula yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hanya orang-orang kafir Mekah, dan ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya semua orang kafir. Namun, pendapat yang mengatakan bahwa peringatan ini ditujukan kepada semua manusia lebih kuat, karena peringatan itu berlaku untuk orang kafir maupun Muslim. Seperti dalam ayat : اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ.
Sementara itu, Ibn ‘Āsyūr dalam tafsirnya al-Tahrīr wa al-Tanwīr mengulas ayat ini dengan pendekatan analisis kontekstual dan psikologis. Ia menjelaskan bahwa permintaan orang-orang kafir agar diberi penangguhan mencerminkan keterkejutan dan kekacauan batin setelah melihat realitas akhirat. Dalam pandangan Ibnu ‘Āsyūr, ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menunda kebaikan ketika masih dalam zona nyaman duniawi, lalu menyesal setelah semua kesempatan sirna.
Ayat ini mengandung beberapa pesan moral yang sangat penting. Pertama, ayat ini mengajarkan kita untuk menghargai waktu. Jangan pernah menunda taubat atau amal kebaikan, karena waktu tidak bisa diulang. Kedua, jangan merasa aman dari siksa Allah atau menolak nasihat yang datang. Iman yang sejati harus lahir dari kesadaran dan keikhlasan, bukan karena rasa takut setelah ditimpa musibah atau azab. Dan yang paling utama, penyesalan di akhir tidak akan ada gunanya. Oleh karena itu, setiap hari yang kita lalui seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat.
Baca Juga: Kematian Tidak Mengenal Waktu: Mengapa Pentingnya Persiapan Diri dalam Islam
Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak menyia-nyiakan hidup di dunia. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menyesal di akhirat karena lalai dalam menjalani kehidupan. Allah telah memberikan kita waktu dan kesempatan selama hidup di dunia untuk berbuat baik, bertobat, dan memperbaiki diri. Namun jika kesempatan itu diabaikan, maka setelah kematian tidak akan ada lagi waktu untuk kembali atau memperbaiki semuanya.
Surah Ibrahim ayat 44 mengajarkan kita agar tidak menunda-nunda untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Jangan menunggu sampai tua, sakit, atau menjelang ajal baru kita ingin dekat dengan Allah. Karena tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan waktu sekarang sebaik-baiknya.
Wallahu a’lam
*Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta dan Musyrif Pesantren Nurul Qur’an Rumpin
