Kaji Buku “Seni Merayu Tuhan” karya Habib Husein Ja’far Al-Haddar
Penulis: Ahmad Mumtaz Hakki*
Editor: Melinda Aprilyanti

Seni Merayu Tuhan: Ngalah yang sering kali dipahami sebagai kelemahan
Ego merupakan salah satu unsur penting dalam mempengaruhi kepribadian seseorang. Dengan ego, manusia bisa tumbuh menjadi pribadi yang memiliki jiwa lembut dan begitu pula sebaliknya. Ego juga kerap menyeret manusia pada sikap angkuh dan merasa paling benar dan lebih baik dari yang lainnya. Salah satu ego dominan yang dimiliki manusia adalah dorongan untuk selalu ingin menang dan merasa benar. Karena itu, tidak jarang seseorang selalu mengedepankan egonya dalam keadaan apapun, baik ketika ia berada dalam posisi salah, terlebih ketika merasa/ berada dalam posisi yang benar.
Dalam konteks sosial, “Ngalah” sering kali dipahami sebagai sikap yang lemah atau ketidakmampuan untuk melawan. Orang yang memilih ngalah kerap dicitrakan sebagai pihak yang kalah, tersudut, bahkan menjatuhkan harga dirinya sendiri. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, ketika dalam keadaan ngalah, seseorang sejatinya bertarung dengan egonya yang menimbulkan rasa tekanan pada batinnya sendiri. Tidak semua ngalah berarti kalah. Dalam banyak situasi, ngalah justru dipilih sebagai jalan untuk meredakan konflik dan mempercepat penyelesaian persoalan.
Pertanyaannya, bisakah kita mengubah cara pandang terhadap sikap ngalah ini? Bagaimana jika ngalah tidak lagi dimaknai sebagai kekalahan, melainkan ditransformasikan/ dialihbahasakan menjadi ng-Allah— yang konotasinya dipahami dengan sesuatu yang lebih positif?
Jika kita lihat bahasa dari “ng-Allah“, bisa dimaknai sebagai suatu bentuk usaha yang ditujukan untuk mendekatan diri kepada Allah untuk meraih keridhaan-Nya. Sehingga perbedaan dari “ngalah” dan “Ng-Allah” ini terletak pada orientasinya. Jika ngalah dipahami sebagai sikap yang diambil agar persoalan yang kita hadapi cepat selesai dan berorientasi hanya pada dirinya sendiri, maka “ng-Allah” juga merupakan sikap mengalah namun tujuannya adalah meraih ridha Allah dan melibatkan Allah pada setiap keputusan yang diambil.
Baca Juga: Mencapai Kebahagiaan dengan Berpikir Positif
Landasan sikap ng-Allah dalam Al-Qur’an
Landasan sikap ng-Allah ini dapat kita temukan dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surah Ali Imran ayat 134:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134).
Ayat ini menggambarkan sikap ngalah pada kemampuan seseorang menahan amarahnya. Adapun sikap ng-Allah menyempurnakan sikap ngalah dengan memberi maaf atas kesalahan yang dilakukan. Sikap ini tentu saja memiliki orientasi kepada keimanan yaitu sebuah bentuk penyerahan diri kepada Allah sekaligus pengharapan akan ridha-Nya.
Hal serupa juga tercermin dalam qaul/ perkataan dari salah satu imam madzhab , yakni Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Aku mampu berhujjah/ berdebat dengan 10 orang berilmu, namun aku akan kalah dengan 1 orang yang jahil (bodoh) karena ia tidak tahu landasan ilmu.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa tidak semua ngalah itu berarti kalah. Ada hal yang lebih baik yang bisa dilakukan daripada terus-menerus bergelut pada hal yang tidak jelas tujuannya. Menghindari perdebatan yang tidak memiliki tujuan yang jelas bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan. Dalam konteks ini, sikap Imam Syafi’i mencerminkan ng-Allah, yakni dengan memilih mundur dari perdebatan sia-sia demi menjaga nilai, waktu, dan ketenangan batin.
Penutup
Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada situasi yang menuntut kita untuk ngalah, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah persepsi “ngalah” menjadi “ng-Allah”. Melakukan hal ini bukan hanya menghadirkan ketenangan karena satu persoalan terselesaikan, tetapi lebih jauh dari itu melibatkan ketenangan hati yang dimanifestasikan pada peningkatan kualitas keimanan. Selain itu, sikap ng-Allah membuat energi batin lebih terjaga, tidak terkuras oleh pertarungan ego yang sering kali tidak produktif. Dengan ini, bukan hanya kemenangan dalam mengendalikan ego duniawi saja yang didapatkan, tapi kemenangan dalam hal keimanan dan ukhrawi juga didapatkan sebagaimana firman Allah SWT di atas.
Dengan demikian, persepsi bahwa ngalah yang mulanya dipandang identik dengan merendahkan harga diri perlahan berubah ketika dipahami dalam kerangka ng-Allah. Sehingga bukan lagi kekalahan yang kita dapati dari hal tersebut. justru dengan menerapkan ng-Allah merupakan sebuah awal dari kemenangan keimanan diri sendiri. Perubahan pandangan dari “ngalah” menjadi “ng-Allah” juga melatih seseorang untuk lebih bijak dalam menata ego diri. Bukan merendah di hadapan sesama manusia, akan tetapi itu adalah jalan untuk naik derajat di hadapan Sang Pencipta.
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
