
Dualitas Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Pemikiran Jalaluddin Rumi
Oleh: Asyifa Nur Rahmah*
Manusia adalah makhluk yang kompleks, mengandung berbagai dimensi yang saling bertentangan namun menyatu dalam satu kesatuan eksistensial. Dalam Al-Qur’an, manusia digambarkan sebagai ciptaan yang unik, memiliki sisi jasmani dan ruhani, serta potensi untuk mencapai derajat tinggi di sisi Allah maupun terjerumus ke dalam kehinaan. Konsep dualitas ini juga menjadi fokus dalam pemikiran Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar yang melihat manusia sebagai makhluk spiritual yang tengah berjuang untuk kembali ke asal keilahiannya.
Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an: Dimensi Dualistik
Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari dua unsur utama: tanah sebagai unsur material dan ruh sebagai unsur ilahiah. Dalam QS. Al-Hijr: 28-29 disebutkan:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ فَاِذَا سَوَّيْتُه وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَه سٰجِدِيْنَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.”
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk dwidimensi. Dimensi jasmani berasal dari tanah, yang melambangkan kerendahan, keterbatasan, dan keterikatan pada dunia. Sementara itu, ruh yang ditiupkan berasal dari “ruh-Ku”, menunjukkan kehormatan, keistimewaan, dan potensi ketuhanan dalam diri manusia.
Para mufassir klasik menafsirkan ayat ini secara mendalam. Fakhruddin al-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menyatakan bahwa ruh yang ditiupkan bukan bagian dari Zat Allah, tetapi merupakan ciptaan yang sangat mulia dan menjadi sumber dari kesadaran, akal, dan moralitas manusia. Ibnu Katsir menyatakan bahwa penyempurnaan manusia terjadi melalui perpaduan bentuk fisik yang sempurna dan tiupan ruh Ilahi. Sementara Al-Qurtubi menekankan bahwa manusia dengan ruh ini mendapat kehormatan yang bahkan malaikat pun diperintahkan untuk bersujud sebagai bentuk pengakuan atas keistimewaannya.
Lebih lanjut, menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, yang lebih penting adalah bahwa pada unsur kejadian manusia terdapat ruh ciptaan Allah. Unsur ini tidak ditemukan pada iblis atau jin. Unsur ruhani inilah yang mengantar manusia lebih mampu mengenal Allah, beriman, berbudi luhur serta berperasaan halus. Kata نَفَخْتُ (Aku meniupkan) berasal dari kata “nafakha” yang secara literal berarti mengeluarkan angin melalui mulut. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah pemberian potensi ruhaniah kepada manusia, yang menjadikannya dapat mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Bahwa “peniupan” itu dinyatakan sebagai dilakukan oleh Allah adalah sebagai isyarat penghormatan kepada manusia dan bukan peniupan secara fisik.
Dengan adanya konsep bahwa manusia diciptakan dari tanah dan kemudian ditiupkan ruh oleh Allah, maka muncullah dua potensi dalam dirinya: potensi untuk menuju kepada kebaikan (ketakwaan) dan potensi untuk terjatuh ke dalam keburukan (kefasikan). Tanah melambangkan aspek jasmani yang rendah, yang terikat pada hawa nafsu dan dunia, sedangkan ruh melambangkan dimensi ilahiah yang mengarah pada kesucian dan kedekatan dengan Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam QS. Asy-Syams: 7–8
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia membawa dua kecenderungan itu dalam dirinya. Maka dari itu, kehidupan manusia merupakan arena pilihan antara dua jalan tersebut, dan keberhasilannya tergantung pada kesanggupan untuk memelihara ruh dan menundukkan nafsu.
Pemikiran Jalaluddin Rumi tentang Dualitas Manusia
Jalaluddin Rumi dikenal luas sebagai tokoh spiritual dan sastrawan besar yang menyumbangkan khazanah pemikiran mendalam melalui karya-karya puisinya. Warisan intelektual dan rohaninya menjadi bahan telaah oleh banyak pemikir lintas disiplin, khususnya dalam menyingkap dimensi terdalam kemanusiaan.
Dalam pandangannya, manusia bukanlah sekadar makhluk yang digerakkan oleh dorongan naluriah untuk bertahan hidup atau memenuhi kebutuhan ragawi. Lebih dari itu, ia adalah makhluk yang memantulkan sifat-sifat ketuhanan—citra Ilahi yang tercermin dalam dirinya. Kehidupan manusia, bagi Rumi, adalah panggung pengujian antara dua daya tarik: kekuatan spiritual yang mengangkatnya, dan tarikan nafsu yang dapat menjatuhkannya. Keberhasilan manusia dalam menjalani hidup sangat bergantung pada kemampuan menjaga kemurnian jiwanya dan menundukkan dorongan duniawinya.
Baca juga: Janji Allah Itu Pasti: Nasihat untuk Jiwa yang Letih Refleksi Tahlili QS. An-Nahl: 96–97
Pemikiran ini terangkum indah dalam salah satu puisinya yang menggambarkan manusia sebagai:
“Sebaris kalimat dari Kitab-Nya,
cermin yang memantulkan cahaya keindahan-Nya.”
(Diwan Syams Tabrizi, bait 1759)
Syair tersebut menyiratkan bahwa manusia memikul fungsi luhur sebagai wujud paling sempurna dari ciptaan Tuhan. Ini selaras dengan pernyataan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hijr ayat 28–29, yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, lalu ditiupkan ke dalamnya ruh oleh Allah. Peniupan ruh ini mengisyaratkan kemuliaan manusia yang tidak dimiliki makhluk lain dan menjadi sebuah perpaduan harmonis antara tubuh fisik dan esensi ruhani.
Rumi menggarisbawahi bahwa meskipun keduanya yaitu jasad dan ruh itu penting, aspek ruhani adalah pusat dari identitas sejati manusia. Jiwa adalah tempat bersemayamnya nur Ilahi dan menjadi sumber bagi segala tindakan luhur dan kesadaran spiritual. Selain itu, Rumi juga memahami adanya konflik batin dalam diri manusia. Ia menyadari bahwa setiap individu memuat dua sisi yang saling bertolak belakang: dorongan untuk kebaikan dan kecenderungan kepada keburukan. Dalam Masnawi, ia menulis:
“Kadang-kadang manusia bersikap garang seperti serigala,
namun di saat lain ia menunjukkan pesona seindah Yusuf.”
(Masnawi, bait 1420)
Bait ini mengungkap kenyataan psikologis dan spiritual manusia: bahwa dalam diri setiap orang terdapat dualitas. Ia bisa menjadi sosok yang dikuasai sifat liar, namun juga berpotensi memancarkan keindahan dan kemuliaan ruh. Rumi mengajak kita untuk menyadari keberadaan dua sisi ini sebagai dinamika spiritual yang harus dihadapi. Jalan menuju kesempurnaan tidak lain adalah melalui kesadaran, penyucian diri, dan pengendalian nafsu agar ruh dapat kembali bersatu dengan asalnya, yaitu Tuhan.
Dengan memahami bahwa manusia diciptakan dengan dualitas yang melekat yaitu antara jasmani dan ruhani, antara nafsu dan nurani. Maka menjadi jelas bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kodratnya semata, melainkan pada kemampuannya memilih jalan yang benar dalam kebebasan yang diberikan. Al-Qur’an telah memberi kerangka nilai, sementara Jalaluddin Rumi menyuguhkan dimensi rasa dan pengalaman spiritual yang memperkaya pemahaman tersebut. Keduanya mengajarkan bahwa manusia dituntut untuk terus berjuang menundukkan sisi gelapnya dan menyuburkan potensi ilahiah dalam dirinya. Di tengah tantangan zaman yang sering kali mengikis kesadaran spiritual, refleksi terhadap dualitas manusia ini menjadi sangat penting agar kita tak lupa jati diri dan arah tujuan hidup yang hakiki: kembali kepada Tuhan dengan jiwa yang suci dan tenang.
*Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta
