Search

Al-Quran sebagai obat? Problem Kesehatan Mental pada Masyarakat Muslim

Al-Quran sebagai obat? Problem kesehatan mental pada masyarakat Muslim

Oleh: Ainul Mardiah*

Problem Kesehatan Mental pada Masyarakat Muslim

               Al-Quran sebagai petunjuk hidup Muslim memiliki beberapa sifat, diantaranya adalah sebagai oba atau syifa’ (Arief, 2024). Sebagaimana Firman Allah S.W.T                

يأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu mauizhah (nasihat) dari Tuhanmu dan syifa (obat) bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan huda (petunjuk) serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus [10]: 57).

               Dalam tafsir Al-Qurthubi disebutkan makna dari “وشفاء لما في الصدور adalah menyebuhkan penyakit yang ada di dalam dada seperti keraguan, kemunafikan, penentangan dan perpecahan” (al-Qurtubi, 2024). Hampir sejalan dengan itu, Shihab (1999) dalam tafsir Al-Mishbah menyebutkan bahwa ulama memiliki pendapat yang beragam. Beberapa ulama meyakini kalau penyakit di dalam dada adalah penyakit ruhani seperti ragu, dengki dan takabbur, sementara ulama yang lain berpendat ayat Al-Quran juga mampu menyembuhkan penyakit-penyakit jasmani. Ada juga ulama yang berpendapat maksud ayat ini dalah penyakit hati yang berdampak kepada penyakit fisik atau yang lebih dikenal dengan psikosomatis di dalam ilmu psikologi. Hal yang hampir sama diungkapkan oleh Hamka (1982) dalam tafsir Al-Azhar yang menyatakan bahwa obat hati ini bisa ditafsirkan sebagai obat dari penyakit ruhaniah (seperti: iri hati), dan juga obat dari perasaan (seperti: rasa kecewa).  

               Banyak penelitian psikologi membuktikan kebenaran Al-Quran sebagai obat bagi manusia baik secara fisik, psikologis, maupun aspek ruhaniah. Penelitian membaca Al-Quran dengan alunan dapat membantu mengurangi depresi pada pasien depresi psikotik di Pakistan (Rana dan North, 2007). Penelitian sistematik review menunjukkan kalau membaca ayat Al-Quran bisa digunakan sebagai obat non-farmakologi di dalam menurunkan tingkat kecemasan (Ghiasi dan Keramat, 2018).  Penelitian lainnya menunjukkan bahwa mendengarkan alunan bacaan Quran dapat mengurangi rasa sakit  setelah operasi pada pasien di Jordan (Eid AbuRuz, 2023). Yang terakhir, menghafal Quran dapat membantu meningkatkan qualitas hidup dan fungsi berbicara pada 102 pasien strok dengan gangguan bicara di Indonesia(Ma’ruf, dkk., 2019). Contoh beberapa penelitian ini merupakan pembuktian ilmiah dari manfaat Al-Quran sebagai obat bagi Muslim.

Meskipun Al-Quran dan riset ilmiah sudah menunjukkan manfaat Al-Quran sebagai obat, gangguan kesehatan mental tetap melanda populasi Muslim. Beberapa dekade belakangan ini, trend menunjukkan bahwa gangguan mental pada hampir seluruh masyarakat di dunia meningkat, termasuk didalamnya pada populasi Muslim. Angka kejadian gangguan kesehatan mental antara kelompok Muslim dan non-Muslim yang ada di Amerika tidak begitu jauh yakni sekitar 10% Muslim mengalami gangguan kecemasan dan 12% non- Muslim mengalami gangguan kecemasan (Ahmad, dkk., 2022). Untuk kasus di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, hasil penelitian menunjukkan bahwa 312 remaja Muslim Yogyakarta yang cukup religius (seperti: tadarrus Al-Quran setiap hari) mengalami gangguan kesehatan mental dengan seperti mengalami depresi (24.6%), kecemasan (46.6%), dan stress (29.1%) (Ismail, dkk., 2023). Penelitian ini menunjukkan bahwa Muslim tidak “imun” dari problem kesehatan mental.

Mengapa permasalahan kesehatan mental bisa terjadi padahal seorang Muslim? padahal kita sudah punya Al-Quran sebagai obat? Ada beberapa perspektif penjelasan yang bisa digunakan untuk memahami fenomena ini:

  1. Dari perspektif Islam gangguan kesehatan mental bisa dikategorikan sebagai bentuk cobaan dalam kehidupan. Seperti firman Allah S.W.T

ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الاموال والانفس والثمرت وبشر الصبرين

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan asedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155).

2. Kesehatan mental dipengaruhi oleh beberapa faktor. Barlow, dkk (2018) menyatakan bahwa kesehatan mental disebabkan oleh aspek biologis, seperti: gangguan suasana hati (mood). Gangguan suasana hati disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmitter) di otak dimana produksi serotononin sangat rendah, sehingga jumlah neurotransmitter yang lainnya lebih banyak sehingga menyebabkan suasana hati (mood) menjadi tidak teregulasi dengan baik. Lebih lanjut, ada faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang, seperti perasaan tidak ada harapan (learned hopelessness) yang terkondisi karena hidup yang penuh tekanan (stress). Faktor terakhir yang mempengaruhi kondisi mental seseorang adalah sosio-kultur, seperti kondisi sosial ekonomi yang susah akan membuat seseorang rentan untuk mengalami gangguan kesehatan mental.

Baca juga: Sikap Muslim Terhadap Tetangga dalam QS. An Nisa Ayat 36

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi kesehatan mental seorang dipengaruhi oleh multi aspek. Lalu apa yang harus seorang Muslim lakukan ketika mendapati dirinya atau orang disekitarnya memiliki permasalahan? Awad (2020) dalam sebuah video tentang holistic healing series menyampaikan pentingnya pendekatan pengobatan psikologis yang terintegrasi dengan spiritual seperti yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad صل الله عليه وسلم yakni dengan mengimani qada dan qodar dari Allah, mengakui dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mengekspresikan  emosi yang dirasakan terkait dengan kenyataan hidup, meregulasi emosi yang dirasakan (seperti: ketika seseorang marah sambil berdiri maka hendaklah ia duduk). Rasulullah صل الله عليه وسلم juga mencontohkan untuk merawat diri sendiri (self-care), seperti menjalani pola hidup yang sehat yang berpengaruh pada kondisi kesehatan fisik dan mental seseorang. Selain itu Baginda Nabi Muhammad صل الله عليه وسلم juga menekankan pentingnya untuk mencari obat untuk penyakit dan bantuan professional.

والله اعلم بالصواب

*Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Universitas PTIQ Jakarta

Daftar Pustaka

Ahmad, F., AlZeben, F., Kattan, W., Alyahyawi, H. Y., & Hassan, A. N. (2023). Prevalence, Correlates, and Impact of Psychiatric Disorders and Treatment Utilization Among Muslims in the United States: Results from the National Epidemiological Survey of Alcohol and Related Conditions. Community mental health journal, 59(8), 1568–1577. https://doi.org/10.1007/s10597-023-01145-7

Al-Qurtubi. (2024). Tafsir al-Qurtubi (volume 8). Surat al-Anfal, Surat at-Tawbah & Surah Yunus. (A. A. Bewley, Translate). Diwan Press. (Original work published 13th century)

Awaad, R. (2020). Prophet Muhammad’s approach to mental health- holistic healing series. Sumber: https://yaqeeninstitute.org/watch/series/prophet-muhammads-approach-to-mental-health-holistic-healing-series

Barlow, H. D. Duran, V. M., Hofmann, S. G., Lalumiere, M. L. (2018). Abnormal psychology: an integrative approach (sixth edition). Nelson education Ltd. Canada

Eid Aburuz, M., Al-Dweik, G., & Ahmed, F. R. (2023). The Effect of Listening to Holy Quran Recital on Pain and Length of Stay Post-CABG: A Randomized Control Trial. Critical care research and practice, 2023, 9430510. https://doi.org/10.1155/2023/9430510

Ghiasi, A., & Keramat, A. (2018). The Effect of Listening to Holy Quran Recitation on Anxiety: A Systematic Review. Iranian journal of nursing and midwifery research, 23(6), 411–420. https://doi.org/10.4103/ijnmr.IJNMR_173_17

Hamka. (1982). Tafsi Al-Azhar (Jilid 5). Pustaka Nasional PTE LTD. Singaura

Ismail, N. A., Adnan, F. M., Fidianingsih, I. (2023). Psychological status among the young Muslim community in Yogyakarta province, Indonesia, during the covid-19 pandemic. IMJM, 22(3). 80-87

Ma’ruf, I. B., Hartanto, O., Suminah., Sulaeman, E. S. (2019). The effect of memorizing the Al Quran on quality of life in stroke patients with Aphasia Motoric disorders. Global journal of health science, 11(7). 29-46

Rana, S. A., North, A. C. (2007). The effect of rhythmic Quranic recitation on depression. Journal of behavioural science, 17 (1-2). 37-53

Shihab, M. Q. (1999). Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (volume 6). Lentera Hati