
Membangun Kekuatan Rohani Melalui Sikap Rasa Syukur Perspektif Al- Qur’an : Kajian Surah Al-Baqarah (152)
Oleh : Siti Hajrah Akib*
Surah Al-Baqarah merupakan bagian yang penuh hikmah dan petunjuk dalam Al-Qur’an. Ayat 152 dari surah ini menyampaikan pesan mendalam yang mengajarkan kita untuk memperkuat kekuatan rohani. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman :
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
“Ingatlah, oleh karena itu, kepada-Ku, dan Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian ingkar.”
Pesan utama dari ayat ini adalah panggilan untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap langkah kehidupan kita. Dengan mengingat-Nya, kita membentuk ikatan yang kuat dengan Yang Maha Kuasa. Bersyukur adalah kunci untuk memperoleh keberkahan, sedangkan keingkaran hanya akan merugikan diri sendiri.
Ayat ini juga menekankan saling ketergantungan antara manusia dan Allah. Ketika kita mengingat-Nya, Allah juga akan mengingat kita, memberikan perlindungan dan petunjuk-Nya. Kesadaran akan hubungan ini memberikan ketenangan dan kekuatan di dalam setiap ujian kehidupan.
Baca juga: Agar Bekerja Menjadi Ibadah
Dalam kajian Tafsir, kata syukur memiliki beberapa makna menurut beberapa pendapat Mufasir, Menurut Buya Hamka, kata “syukur” dalam surah Al-Baqarah ayat 152 adalah mensyukuri nikmat Allah dengan mengucapkan dengan lisan. Kemudian, dibuktikan dengan perbuatan.[1], Menurut M.Quraish Shihab, makna “syukur” dalam surah Al-Baqarah ayat 152, hendaknya kita mengingat Allah dengan lisan, pikiran, hati, anggota badan. Lidah menyucikan dengan memuji Allah, pikiran hati melalui perhatian terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya dan anggota badan sadar dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya.[2] Menurut ar-Ragib al-Asfahani bahwa syukur ialah menggambarkan nikmat Allah dan menampilkannya tasawwur an-ni’mah wa izharuha yang merupakan antonim dari kufur , yaitu melupakan nikmat dan menutupinya nisyan an-ni’mah wa satruha .[3] sedangkan Menurut Mutawalli Sya’rawi , Allah maha syakir ( bersyukur ) kepada hambanya yang menunaikan apa yang Allah wajibkan dengan senang dan kerelaan hati tatawwa’akhairan . adapun cara bersyukurnya Allah adalah dengan memberi hambanya tanpa henti atau terus menerus ‘ata’bila nihayah .[4]
Ayat 152 dari Surah Al-Baqarah ini memiliki kaitan yang kuat dengan konteks sebelumnya yaitu ayat 151. Ayat 151 menyebutkan:
“Kami telah mengutus seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan kamu, mengajarkan kitab (Al-Quran) dan hikmah (sunnah), dan mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.”
Kemudian, ayat 152 menyebutkan:
“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Munasabah ayat 152 dalam konteks ini adalah untuk menekankan pentingnya mengingat Allah dan bersyukur kepada-Nya sebagai respons terhadap kenabian yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Rasul yang diutus adalah instrumen untuk membawa pesan Allah kepada umat manusia, dan sebagai tanggapan atas pesan itu, manusia diminta untuk menjalani kehidupan yang penuh kesyukuran dan pengingatan kepada Allah.
Allah SWT telah mengajari Alquranul Karim , menjelaskan hukum- hukum syar’i, Hikmah, dan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya seperti berita-berita Gaib, kisah para Nabi dan sebagainya. Oleh karena itu, Allah menyeru kaumnya agar senentiasa bersyukur atas nikmatnya, sebagaimana pada ayat 152.[5]
Ayat ini menekankan bahwa adanya hubungan timbal balik antara manusia dan Allah . Ketika manusia mengingat Allah dan bersyukur, Allah juga akan mengingat mereka. Ini adalah bagian penting dari pesan yang disampaikan dalam Surah Al-Baqarah, yaitu pentingnya mematuhi ajaran Allah dan menjaga hubungan yang kuat dengan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajian Tafsir Munir, Kalimat “فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُم” mencerminkan prinsip keadilan di antara manusia, yaitu jika kita mengingat Allah dan taat kepada-Nya, Allah juga akan mengingat kita dengan memberikan pahala dan ampunan. Sebagaimana yang dikatakan Sa’id bin Fubair.: Zikir (mengingat Allah) adalah bentuk ketaatan kepada-Nya, dan ketidaktaatan berarti tidak berzikir, bahkan jika seseorang banyak mengucapkan tasbih, tahlil, atau membaca Al-Qur’an.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,
يَقُوْلُ الّلهُ تَعَالَى : اَنَا عِنْدَ ظَنٌّ عَبْدِيْ ، وَ اَنَا مَعَهُ، وَ اِذَا ذَكَرْنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَاِذَا ذَكَرْنِي فِي مَلاءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ، خَيْرٍ مِنْهُ، وَاِنْ تَقَرَّبَ اِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ اِلَيْهِ ذِرَاعًا
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku ada bersamanya bila ia mengingat-Ku.lika ia mengingat-Ku dikala sendirian, Aku pun mengingatnya secara rahasia.Dan jika ia mengingat-Ku di kala ramai, Aku pun mengingatnya di antara makhluk yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekatkan diri kepada- Ku sejengkaL Aku pun mendekat kepadanya sehasta….”
adapun kalimat “و الشكرولي ولا تكفرون “ Allah juga mengingatkan umat agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan umat terdahulu yaitu mengingkari nikmat-Nya. maka dari itu diperintahkan dan untuk selalu mengingat-Nya dalam hati mereka, terutama di tengah keramaian, sehingga mereka tidak melupakan tujuan penciptaan mereka.[6] Pendapat ini hampir sama dengan Ibnu Katsir. Bagaimana kita mengimplementasikan syukur dalam kehidupan sehari-hari?
Al-Quran menekankan bahwa setiap aspek kehidupan kita seharusnya menjadi bentuk syukur. Mulai dari pekerjaan hingga hubungan sosial, semuanya dapat diisi dengan rasa syukur dan kesadaran akan peran Allah dalam setiap detik kehidupan kita. Surah Al-Baqarah 152 juga memberikan pandangan tentang bagaimana menghadapi tantangan dengan sikap syukur. Ketika mengalami kesulitan, bersyukur bukanlah menyangkal realitas, tetapi mengakui bahwa setiap ujian membawa hikmah dan pembelajaran.
Dalam surah ini, Al-Quran membimbing kita untuk memahami syukur sebagai landasan spiritual dan moral. Bersyukur bukan hanya ucapan terima kasih, melainkan sikap hati yang mengakui peran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Semoga kita dapat meresapi ajaran ini dan menjadikan syukur sebagai pandangan hidup yang membimbing kita menuju kesejahteraan dunia dan akhirat.
* Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta
[1] Hamka, Tafsir Al-Azhar, ( Jakarta : Pustaka Penjimas, 1983) juz II. H.25.
[2] M.Quraish Sihab, Tafsir Al-Mishbah, ( Jakarta : Lentera Hati, 2002), Vol.2, h. 775)
[3] Muchlis, Spiritualitas Dan Akhlak ( Tafsir Al-Qur’an Tematik ), hlm. 420.
[4] Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi, jilid 2, hlm.686.
[5] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Munir, Terj. Abdul Hayyie Al-Kattani ( Jakarta : Gema Insani, 2013) h.295
[6] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Munir, Terj. Abdul Hayyie Al-Kattani ( Jakarta : Gema Insani, 2013) h.297
