
Cinta & Benci : Sebuah Hikmah yang Tersembunyi
Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 216
Oleh : Ikrom Taqiyyurrahman*
كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦
Artinya;
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Pemaknaan Ayat :
Dalam kitab Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbasbahwa “ketika Allah mewajibkan jihad atas kaum muslimin, mereka merasa keberatan dan tidak suka, sehingga turunlah ayat ini.”(Wahbah Az-Zuhaili, 2013)
Adapun yang dimaksud dalam ayat ini (dengan berperang) adalah memerangi musuh-musuh yang kafir. Sebagaimana dapat diketahui kondisi Nabi Saw. (yang terjadi pada saat itu). Dan hal ini perlu dimaklumi, bahwa berperang di jalan Allah merupakan suatu kefardhuan yang sangat berat. Akan tetapi menjadi kewajiban untuk ditunaikan. Terkhusus di saat mereka dahulu berperang yang membersamai Nabi Saw. Maka hukumnya fardhu’ain (wajib) bagi mereka. Namun ketika syariat sudah eksis, (hukum) berperang bersama Nabi berubah menjadi fardhu kifayah (kewajiban yang dianjurkan – tidak wajib). (Al-Qurthubi, 1964)
Tafsir ayat ini menekankan pentingnya keimanan dan keyakinan terhadap kehendak Allah SWT. Tafsir al-Jalalayn menjelaskan bahwa meskipun perang dirasa tidak menyenangkan, kamu membencinya, namun di dalamnya terdapat kebaikan yang tidak terlihat oleh manusia. Misalnya kemenangan dan harta rampasan atau mati syahid dan memperoleh pahala. Sebaliknya dalam meninggalkan, walaupun menyenangkan hatimu, terdapat keburukan, misalnya kehinaan dan kemiskinan serta luput dari pahala. Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. (As-Suyuti & Al-Mahalli, Tafsir al-Jalalayn, 1954).
Dalam konteks lain, ayat ini memberikan penjelasan tentang cinta dan benci. Cinta dan benci ini merupakan dua emosi yang sering kali menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Keduanya memiliki kekuatan yang besar untuk membentuk cara pandang, sikap, dan perilaku seseorang terhadap dunia di sekitarnya.
Baca Juga: Teladan Nabi Muhammad dalam Berpolitik
Ayat ini mengandung makna mendalam tentang bagaimana manusia sering kali keliru dalam menilai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Allah Swt. dengan tegas menyatakan bahwa ada hal-hal yang mungkin kita benci, namun di baliknya terdapat kebaikan, begitu juga sebaliknya, ada hal-hal yang kita cintai, tetapi justru dapat membawa keburukan.
Sayyid Quthub menyimpulkan bahwa setiap manusia dalam pengalaman khususnya dapat merenungkan bahwa di balik hal-hal yang tidak disukai yang dijumpainya dalam kehidupannya, terdapat kebaikan yang banyak, dan di balik kelezatan-kelezatan terdapat keburukan yang besar. Jadi sesuatu hal yang tersembunyi (ghaib) baik itu cobaan, ujian atau urusan yang kita tidak ketahui mana baiknya. Serahkan saja itu semua kepada Allah Swt. (Sayyid Quthub, 2000)
Hikmah Ayat :
Dari ayat ini, kita belajar bahwa apa yang kita cintai atau yang kita benci, belum tentu sesuai dengan hikmah Allah Swt. Hidup ini sering kali penuh dengan kejutan yang terselubung dalam peristiwa-peristiwa yang tampak buruk. Allah mengingatkan bahwa di balik segala sesuatu yang tampak berat, seperti peperangan atau ujian, dan cobaan, banyak tersimpan kebaikan yang mungkin tidak bisa kita lihat saat ini.
Adapun hikmah terbesar yang terdapat pada ayat ini, yaitu tentang pembelajaran sabar dan tawakal. Seorang mukmin harus menyadari bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah ujian dari Allah Swt. untuk memperbaiki kualitas iman dan kehidupan kita. Cinta dan benci yang kita rasakan tidak boleh menjadi penghalang dalam melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Pada akhirnya, Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, sementara pengetahuan manusia sangat terbatas.
Quotes (Hasil Renungan Ayat):
“Cinta dan benci adalah dua sisi dari kehendak yang tersembunyi. Terkadang kita sering kali tertipu oleh keinginan hati. Apa yang kita benci bisa menjadi hikmah tersembunyi, dan sesuatu apa yang kita cinta, bisa jadi jalan menuju pintu keburukan dan petaka.”
“Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita rencanakan dengan sebaik mungkin, belum tentu baik untuk kita. Dengan demikian hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui rencana yang paling terbaik untuk hamba-Nya. Sementara kita tidak.”
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
