
Apakah Islam Mendukung Feminisme? Menelaah Peran Perempuan dan Kesetaraan dalam Islam.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
“Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu”
(An-Nisā’ [4]: 32)
Di dalam buku Feminism, kata feminisme bisa diartikan sebagai: A recognition of an imbalance of power between the sexes, with woman in a subordinate role to men (Pengakuan tentang ketidakseimbangan kekuatan antara dua jenis kelamin, dengan peranan wanita berada dibawah pria) June Hannam (2007:22). Secara garis besar, fenimisme adalah paham dan pergerakan yang memperjuangkan keberadaan gender yang setara antara laki-laki dan perempuan, yang mana hal ini dilatarbelakangi oleh pandangan yang berbeda yang cenderung merendahkan terhadap perempuan sebagai seorang manusia.
Apakah Islam menolak gerakan feminisme? Tidak, tentu saja tidak. Karena feminisme merupakan salah satu bagian penting dalam keberadaan Islam. Islam sejatinya sudah feminis sedari awal ia turun. Orang-orang pada masa peradaban arab jahiliyah memposisikan perempuan sebagai aset yang memalukan, tidak ada kehormatan, sampai-sampai setiap bayi-bayi perempuan yang lahir akan dikubur hidup-hidup oleh ayah mereka saking mereka menganggap sememalukan itu ketika perempuan ada. Namun, Islam datang membersihkan itu semua. Bayi-bayi perempuan diselamatkan, bahkan sampai ada perintah melindungi dan menjaga istri dan anak-anak perempuan yang tentunya hal yang sangat tabu bagi orang-orang arab jahiliyah pada masa itu.
Tidak berhenti sampai di situ. Derajat perempuan betul-betul diangkat oleh Islam. Dari yang awalnya hina dan memalukan sampai keberadaannya yang tidak diingikan, hingga menjadi pilar penting pengajaran dalam Islam. Ibunda Aisyah ra contohnya, ia meriwayatkan 2200 lebih hadis Rasulullah Saw, yang menjadi salah satu dari 7 sahabat nabi yang terbanyak meriwayatkan hadis. Lantas apakah 2200 lebih perkataan Rasulullah yang keluar dari mulut ibunda Aisyah yang notabenenya adalah seorang perempuan itu tidak dianggap karena dia adalah seorang perempuan? Tentu saja tidak. Apa yang beliau sampaikan dahulu kepada perawi-perawi hadis masih bisa kita temukan dengan sangat jelas sampai masa kini.
Sangat banyak bukti-bukti lain yang mematahkan asumsi bahwa Islam merupakan agama yang anti terhadap feminisme dan dikesan sebagai agama yang patriarki hanya karena beberapa alasan yang kurang kuat oleh mereka yang mencari celah untuk menjatuhkan Islam. Namun, Islam dengan mudah menjawab itu semua, karena sejatinya, adanya Islam bertujuan menjadi rahmat bagi alam semesta termasuk menjadi rahmat kepada manusia (laki-laki dan perempuan yang setara) sebagai khalifah di muka bumi.
Baca juga: Pelajaran dari Kasus Viral Penggunaan Donasi Secara Tidak Amanah
Lalu apa hubungan antara feminisme dengan salah satu kalam Allah Swt pada Q. S An-Nisā’ [4] ayat ke-32 di atas? Di dalam ayat tersebut, Allah Swt memerintahkan kepada manusia agar tidak iri atas apa yang telah diberikan kepada satu sama lain (Wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba‘ḍakum ‘alā ba‘ḍ(in)…). Hal ini yang secara khusus dijelaskan di dalam kitab tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Syihab bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan untuk saling membandingkan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah kepada satu sama lain. Misalnya, laki-laki yang dikaruniai oleh Allah akan fisik yang lebih kuat dibanding perempuan yang menjadi salah satu sebab laki-laki dijatuhi kewajiban berperang yang ganjarannya begitu luar biasa. Hal itu menjadi protes bagi kaum perempuan kepada baginda Nabi Saw. Mereka merasa tidak adanya keadilan di perintah tersebut. Para lelaki mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan(perang), sedangkan perempuan hanya berdiam di rumah mengurus anak-anak mereka. Lalu Rasulullah mengatakan bahwa para istri yang taat kepada suaminya akan mendapatkan pahala yang suami mereka dapatkan di medan perang.
Di dalam ayat itu, Allah juga menekankan bahwa setiap kita, baik laki-laki maupun perempuan memang tidak didesain sama. Laki-laki diamanahi tugas untuk melindungi, mengayomi, mengasihi karena itu yang Allah harapkan dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki tidak bisa melahirkan dan menyusui seperti layaknya perempuan dan sekali lagi itulah yang Allah kehendaki atas perempuan, menjadi rahim bagi makhluk yang disebut “manusia”.
Oleh sebab itu, tidak seharusnya kita terus menuntut satu sama lain, mempertanyakan di mana posisi kita satu sama lain. Kita harus saling mengerti, saling paham dan saling mengisi, tahu hak dan kewajiban masing-masing. Demi tercapainya kehidupan yang harmoni.
*Mahasantri Pesantren Nurul Qur’an dan Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta
