Search

Menghidupkan Kembali Semangat Kartini untuk Perlindungan Perempuan

Menghidupkan Kembali Semangat Kartini untuk Perlindungan Perempuan

Menghidupkan Kembali Semangat Kartini untuk Perlindungan Perempuan

Artikel ini dipublikasikan ulang dari blog Ust. Saiful Arif Yazid, yang dipublikasikan pada 27 Mei 2015.

Keprihatinan atas Pelecehan Seksual dan Pemerkosaan

Pemberitaan media tentang maraknya pelecehan seksual dan pemerkosaan membuat bangsa ini harus prihatin. Perempuan sebagai korban dari kejahatan yang dilakukan oleh pihak yang tak bermoral layak mendapat perhatian ekstra dari seluruh kalangan. Nilai-nilai moral dan etika bak lukisan di atas air yang lenyap tak berbekas di pandangan para durjana.

Bangsa yang memiliki genealogi masyarakat religius ini sedang mengalami penyakit moral yang harus segera diobati. Eksploitasi terhadap perempuan yang mencederai nilai spirit religiusitas secepatnya segera diberantas sampai akarnya karena tidak sesuai dengan “periketuhanan” dan perikemanusiaan. Perempuan bukanlah makhluk Tuhan yang diimarjinalkan. Dia adalah makhluk Tuhan yang harus dilindungi dan dihormati. Peremehan dan pelecehan terhadap perempuan dalam bentuk apapun tidak mencerminkan sikap seorang moralis dan agamis.

Perjuangan Kartini Melawan Patriarki

Indonesia yang sudah merdeka 67 tahun lalu ini ternyata belum bisa membebaskan perempuan seutuhnya dari budaya patriarki. Perempuan masih dianggap sebagai “jenis kelamin kelas dua” yang cenderung dilemahkan, didiskriminasi, dilecehkan, dan dianggap pemuas kaum lelaki saja.

Semangat Egaliter Kartini

Dulu, ketika Indonesia masih dalam keadaan terjajah, seorang wanita muda, Kartini (w. 1904 M), menyuarakan kegelisahannya untuk membebaskan perempuan dari kebodohan dan keterkekangan tradisi serta keterjajahan kaum lelaki. Kartini dengan penuh semangat juang mengajarkan perempuan yang ada di sekitarnya baik kerabat maupun temannya sendiri agar bisa baca tulis dan mampu menjadi manusia seutuhnya. Inti pemikiran Kartini menurut T. Nugroho Angkasa (2013) ialah zelf-ontwikkeling, zelf-onderricht, zelf-vertrouwen, zelf-werkzaamheid, dan solidariteit (kemandirian, persamaan derajat, dan solidaritas). Semua itu dibangun atas dasar religieusiteit, wijsheid en schoonheid (ketuhanan, kebijaksanaan, dan keindahan).

Kegigihan inilah yang kemudian menghantarkan Kartini untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Gerakan yang lebih dikenal dengan sebutan emansipasi wanita ini telah menginspirasi banyak kalangan sehingga apa yang Kartini tanam waktu itu kini telah bisa dituai hasilnya. Banyak perempuan yang bisa sekolah sampai tingkat perguruan tinggi sehingga mampu menduduki jabatan penting dan memiliki posisi strategis dalam pemerintahan baik di tingkat regional maupun tingkat nasional.

Masih Banyak Kasus Kekerasan terhadap Perempuan

Namun, perjuangan Kartini sampai dewasa ini belum menyentuh seluruh kalangan akar rumput karena masih banyak kasus yang menyeret perempuan sebagai korban dari lelaki terutama kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual. Berdasarkan laporan Komnas Perempuan, Masruchah (Republika 19/4) pemerkosaan menempati urutan tertinggi kasus kejahatan dan kebanyakan pelakunya dari keluarga kandung sendiri seperti ayah kandung, saudara kandung, bahkan kakek kandung. Keluarga yang seharusnya menjadi “payung” pelindung dari “hujan” kejahatan kini telah menjadi momok tersendiri bagi kaum perempuan.

Baca juga: Islam & Kearifan Lokal: Merangkul Pluralisme, Menolak Radikalisme

Peran Tokoh Agama dan Pendidikan

Sebagai negara religius tentu kebejatan moral ini merupakan dampak dari kurangnya perhatian dari para tokoh agama untuk menyiarkan lebih intens pesan-pesan moral keagamaan. Pesan agama untuk melindungi orang-orang lemah termasuk perempuan memiliki signifikansi yang kuat. Tetapi tidak hanya itu, faktor pendidikan dan lemahnya kontrol sosial juga ikut andil menjadi sebab pengabaian terhadap perempuan.

Penghormatan terhadap Perempuan dalam Islam

Islam, sebagai agama yang penulis anut, sangatlah menghormati perempuan. Sejak hadirnya pertama kali sebagai agama yang menjadi puncak agama samawi, Islam telah menjadi oase moral di tengah-tengah kegersangan etika masyarakat akibat “musim kemarau” yang menjunjung tinggi superioritas laki-laki. Suatu hari, ketika Rasulullah ditanya tentang siapa yang harus dihormati di dunia ini, beliau menjawab, “Ibu.” Bahkan Beliau mengulanginya sampai tiga kali baru kemudian ayah. Alquran pun mengisyaratkan bahwa penilaian kualitas kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan dari jenis kelaminnya, melainkan dari kualitas takwa yang dirajutnya. Perempuan semestinya dihormati dan dilindungi oleh laki-laki karena laki-laki lahir dari rahim seorang perempuan.

Momen Kebangkitan “Roh” Kartini

Untuk itulah, bulan ini sebagai bulan lahirnya Kartini merupakan salah satu momentum besar untuk membangkitkan “roh” Kartini agar hidup di tengah bangsa ini. Artinya, “roh” ini ialah benih spirit juang dan kegigihan yang Kartini tebar di antara masyarakat Indonesia. Benih ini seyogyanya tetap kita pupuk pada manusia Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan untuk melindungi dan memelihara hak-hak perempuan dengan harapan bangsa ini bisa berubah dan mampu menjadi bangsa yang beradab.

Pentingnya Sikap Egaliter terhadap Perempuan

Setiap orang harus egaliter (tidak timpang) dalam memandang perempuan. Perempuan bukanlah seperti anggapan bangsa Eropa pada kongres tahun 581 M yang menyatakan bahwa perempuan adalah manusia yang diciptakan untuk mengabdi pada laki-laki. Akan tetapi, sebagaimana pesan Rasulullah saw., “Kaum perempuan adalah saudara kandung kaum lelaki.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud) Oleh karena itu, kaum lelaki semestinya mampu memberikan perlindungan kepada perempuan, menghormatinya, dan mengganggapnya sebagai mitra hidup bukan malah mengeksploitasinya, menyubordinatkan, apalagi menjadi misoginis.

Asumsi yang menganggap perempuan cenderung inferior dan laki-laki lebih superior bukanlah sesuatu yang taken for granted. Ini adalah pemahaman salah yang perlu diluruskan dalam benak setiap lapisan masyarakat agar bangsa ini bisa gotong royong untuk mengentaskan kejahatan-kejahatan yang mengakibatkan perempuan sebagai korban.

Perempuan Harus Menjaga Diri

Kegigihan Kartini untuk membela kaum perempuan tidak akan menuai hasil jika tidak diikuti kaum perempuan untuk melakukan reflektif terhadap dirinya sendiri. Setiap perempuan sebaiknya juga menjaga dirinya agar tidak “mengorbankan” diri menjadi makhluk hina dengan memilih pekerjaan yang tidak bermoral.

Setiap perempuan yang notabene calon ibu dari generasi bangsa ini hendaknya memiliki moral yang kokoh dan roh perjuangan untuk membangun masyarakat dan bangsa yang beradab. Islam telah mengangkat derajat perempuan dengan memberikannya hak-hak seperti laki-laki. Bahkan, surga pun oleh Islam dianggap berada di bawah kaki perempuan (ibu).