Search

Cara Menghadapi Masalah Hidup ala Nabi: Tetap Tenang dan Percaya pada Allah

Cara Menghadapi Masalah Hidup ala Nabi

Cara Menghadapi Masalah Hidup ala Nabi: Tetap Tenang dan Percaya pada Allah

Oleh: Syaiful Arief

IG: @saifularifyazid

“Siapa yang akan menolongmu sekarang?” tanya seorang musyrik sembari menodongkan pedangnya.

“Allah,” jawab Nabi dengan tegas tanpa ragu.

Penggalan dialog di atas terjadi saat Perang Najd ketika Nabi dan para sahabat sampai di daerah Dzatir Riqa’. Mereka beristirahat di bawah pohon di tempat masing-masing sementara Nabi tinggal sendirian di bawah pohon yang ditempatinya. Senjata mereka digantung di dahan pohon. Di saat para sahabat tertidur pulas, seorang musyrik dari Arab Badui bernama Ghaurats ibnul Harits tiba-tiba muncul di hadapan Nabi. Ia mengambil senjata milik Nabi yang digantung di atas pohon dan mengarahkannya ke arah Nabi.

“Apakah kamu takut padaku?” gertak Ghaurats.

“Tidak,” timpal Nabi yakin.

Laki-laki badui itu langsung tersimpuh setelah mendengar jawaban Nabi yang tegas bahwa yang akan menolongnya adalah Allah. Di saat genting seperti itu, yang hanya ada dua orang antara Nabi dan Ghaurats, dalam keadaan terpojok Nabi tetap bersikap tenang. Ia dengan penuh keyakinan menghadapi Ghaurats yang sedang mengacungkan pedang di hadapannya bahwa masih ada Allah yang menjadi pelindungnya.

Cerita di atas menggambarkan tiga hal yang akan terus dialami oleh seseorang. Pertama, masalah. Kehidupan dunia tidak akan terlepas dari masalah dan ujian. Ujian hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari seorang mukmin. Al-Qur’an memberikan gambaran bagaimana seseorang ketika menyatakan keimanan bukan berarti akan terlepas dari ujian, justru ujian itu datang untuk menampakkan bukti keimanan yang sebenarnya. Perhatikanlah ayat ini:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut [29]: 2)

Seorang nabi mendapat masalah hidup bahkan lebih berat dari umatnya. Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah maka ujiannya pun semakin tinggi. Tidak ada orang yang mendapat kedudukan tinggi kecuali ia sudah mengalami masalah yang banyak dan ujian yang berat. Ibarat kata orang bijak, “Pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang.”

Setiap orang beriman harus siap menghadapi setiap masalah, karena masalah datang untuk meningkatkan derajat keimanannya. Bahkan dalam salah satu sabda Rasulullah, “Jika Allah mencintai suatu kaum maka Ia akan memberinya ujian.” Masalah datang karena Allah mencintai hamba-Nya. Tidak perlu lari dari masalah karena ia perhiasan kehidupan. Hadapi dan selesaikan.

Yang perlu diingat ialah ujian hidup, menurut Al-Qur’an, tidak hanya berupa hal yang menyedihkan, menyulitkan, dan berbagai keadaan tidak mengenakkan. Akan tetapi, ujian hidup juga berupa hal yang menyenangkan, menggembirakan, dan keadaan lain yang nyaman untuk dijalani.

Baca juga: Sirah Nabawiyah: Panduan Lengkap Memahami Kehidupan Rasulullah SAW

Kebaikan dan keburukan adalah ujian. Susah dan senang adalah ujian. Sempit dan lapang pun merupakan ujian. Lapar dan kenyang juga bagian dari ujian.  Kematian dan kehidupan tidak terlepas sebagai ujian. Semua itu dijadikan ujian untuk diperlihatkan siapa yang paling baik amalnya. Semakin besar ujian yang dihadapi dan sanggup menjalaninya maka semakin besar pahala yang diraih.

Kedua, sumber masalah. Masalah itu bisa bersumber dari dua hal; dalam diri dan di luar diri. Kalau merujuk pada kesan yang timbul dari surah Al-Falaq dan surah An-Nas, Al-Qur’an memberikan clue, bocoran soal, bahwa masalah yang berasal dari luar diri jauh lebih kecil dampaknya kepada seseorang daripada masalah yang berasal dari dalam dirinya. Artinya apa? Masalah yang bersumber dari dalam diri manusia itu lebih banyak mempengaruhi diri daripada yang berasal dari luar dirinya.

Dalam surah Al-Falaq muncul kesan tentang sumber masalah yang berasal dari luar diri sedangkan surah An-Nas menampakkan kesan mengenai masalah yang timbul dari dalam diri. Ketika berbicara tentang masalah dalam surah Al-Falaq, Al-Qur’an hanya menggunakan satu sifat Allah yang dijadikan untuk tempat berlindung, yaitu sifat Rabb yang berarti pendidik, pemelihara, pengasuh, dan pengatur. Sementara itu, dalam surah An-Nas, Al-Qur’an menggunakan tiga sifat Allah ketika membahas perlindungan dari masalah, yaitu memakai term Rabb dengan makna seperti di atas, term malik yang bermakna raja atau penguasa, dan  term ilah yang berarti Tuhan yang disembah.

Perbedaan penggunaan jumlah sifat dalam ke dua surah ini mengindikasikan bahwa yang perlu mendapat perhatian besar dari setiap orang ialah masalah yang ada dalam dirinya. Penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, riya’, termasuk juga penyakit psikis seperti tidak percaya diri, insecure, gangguan kecemasan, dan lainnya, merupakan masalah yang muncul dalam dari dalam diri. Karena itu, ada ungkapan populer bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, your biggest enemy is your self. Masalah yang bersumber dari luar diri lebih mudah untuk di atasi daripada yang berasal dari dalam diri. Itulah alasan kenapa Rasulullah dengan mudah menghadapi Ghaurats ketika menghunuskan pedang ke hadapan Rasulullah.

Masalah atau ujian yang muncul dari luar diri memang tidak bisa dikendalikan tetapi respon terhadap hal tersebut lahir dari diri setiap orang yang tentu bisa dipilih dan dikendalikan. Karena itu, tidak penting tentang besar dan kecilnya masalah, yang paling penting adalah bagaimana setiap orang menyiapkan dirinya atau jiwanya untuk menghadapi masalah atau ujian.

Ada cerita menarik dari seorang guru dengan muridnya. Suatu hari, Sang guru memanggil muridnya dan memintanya untuk mengambil segelas air dan sesendok garam.

“Masukkan sesendok garam ini ke dalam gelas kemudian aduklah!” pinta Sang guru.

“Baik, Guru,” jawab si murid dengan penuh hormat sembari mengaduk air yang sudah dituangi garam.

“Sekarang minumlah air ini!” perintah Sang guru.

Setelah air itu diminum, Sang guru bertanya kepada si murid bagaimana rasa dari air tersebut.

“Asin sekali, Guru,” jawab si murid singkat.

Tanpa berkomentar, Sang guru kembali meminta si murid untuk mengambil sesendok garam dan mengajaknya ke kesebuah kolam yang ada di depan rumahnya.

“Tuangkan garam itu ke kolam ini kemudian minumlah airnya,” pinta Sang guru sekali lagi.

Setelah si murid melakukan apa yang diperintahkan, Sang guru kembali bertanya tentang rasa air yang diminumnya.

“Bagaimana rasa airnya?”

“Biasa saja, tawar, Guru,” jawab si murid agak heran kenapa dia diminta melakukan ke dua hal tersebut.

“Tahukah kamu apa makna dari meminum air di gelas dan di kolam yang sudah dituangi garam?” tanya Sang guru secara retoris sambil melanjutkan penjelasan.

Guru tersebut mengajarkan dari kejadian itu bahwa sesendok garam diibaratkan seperti masalah atau ujian, air diibaratkan diri manusia, dan wadah air itu adalah jiwanya. Semakin besar dan luas jiwa seseorang maka ketika dirinya ditimpa suatu masalah dia akan lebih tenang dalam menghadapinya, tidak gampang terbebani dengan masalah tersebut. Sebaliknya, semakin kecil dan sempit jiwa seseorang maka ia akan mudah terkontaminasi dan tertekan berhadapan dengan masalah yang dialaminya.

Tugas setiap orang ialah memperluas wadah (baca: jiwa dan ilmu) agar setiap ada masalah yang datang ia bisa menghadapinya dengan santai dan mencari solusinya dengan tenang. Selain jiwa yang besar, setiap orang juga harus menyiapkan ilmu yang luas sebagai bekal untuk mengidentifikasi masalah dan memecahkannya dengan banyak alternatif solusi.

Hal ketiga yang akan dialami setiap orang ialah respon terhadap masalah. Secara alamiah, setiap orang akan merespon dengan cara yang berbeda terhadap masalah yang sama. Ini terjadi karena pengalaman, keilmuan, pengetahuan, dan tingkat emosional serta spiritualitas yang berbeda satu orang dengan yang lainnya. Bahkan, lingkungan tempat sehari-hari yang ditinggalinya juga akan mempengaruhi respon seseorang terhadap masalah. Kesemuanya itu yang membentuk “wadah” tempat menampung “air” yang tercampur “garam”. Sekali lagi, semakin besar wadah yang dimiliki akan semakin tidak terasa rasa “garam” dalam “air”. Semakin banyak semua hal di atas ada dalam diri jiwa seseorang maka semakin tidak ada apa-apanya masalah yang dihadapi.

Respon utama yang dilakukan oleh Rasulullah ketika menghadapi masalah dalam kasus Ghaurats ialah keyakinan yang mantap kepada Allah, dan percaya diri yang tinggi bahwa Ia akan menolong utusan-Nya. Respon inilah yang perlu diinternalisasi ke dalam diri setiap orang beriman bahwa ada Allah yang melindungi setiap hamba dan ada Allah yang akan menunjukkan jalan keluar dari setiap masalah. Keyakinan ini bukan hanya timbul dari suara mulut tapi harus tertancap kuat dalam hati. Itu yang membuat Ghaurats gemetar sehingga pedang yang dipegangnya terjatuh dan berhasil diambil alih Rasulullah.

Keyakinan seperti ini juga diperlihatkan dalam kisah Nabi Ibrahim yang akan dibakar oleh Namrudz, raja Babilonia. Secara logika, Nabi Ibrahim pasti hangus terbakar ketika masuk dalam kobaran api. Menghadapi masalah tersebut, Nabi Ibrahim hanya memiliki keyakinan bahwa masih ada Allah yang akan melindunginya. Api yang sifat naturalnya panas dan membakar, akhirnya, berubah menjadi dingin yang menyelamatkan.

Kisah Nabi Musa juga bisa dijadikan contoh bagaimana keyakinan yang kokoh kepada Allah menyelamatkannya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Ia dengan mantap berkata kepada kaumnya, bani Isra’il, yang ketakutan saat terjepit antara laut merah dan kepungan tentara Fir’aun, “Ada Tuhan yang senantiasa bersamaku. Ia akan memberi petunjuk padaku.” Sebagaimana diucapkan juga oleh Rasulullah kepada Abu Bakar ketika bersembunyi dari kejaran kaum musyrik di gua Tsur, “Jangan takut! Allah bersama kita.”